
Clara yang sudah mendapat sharelock dari Nina menjadi petunjuk jalan duduk di depan dengan Papahnya. Sedangkan bangku tengah di isi Mbah Putri, Bu Ningsih dan Wati. Mbah kakung menempati bangku bagian belakang dengan Tangguh.
"Ini ada jalan alternatif sebenarnya Pah!" Kata Clara.
"Nggak usah jalan alternatif nanti malah jalannya kecil nggak muat mobil Ra. " Kata Pak Hari.
"Ya udah, tapi ini jalannya muter Pah. " Kata Clara.
"Nggak masalah Ra. "
Akhirnya mobil Pak Hari melewati jalan sesuai petunjuk google map. Pohon-pohon besar berjajar di pinggiran jalan. Jalan yang di lewati juga jalan desa yang belum di aspal. Membuat Pak Hari memelankan laju mobilnya.
"Masih sangat sejuk udaranya Ning, padahal kalau di rumah ini panas-panasnya. " Kata Mbah Kakung sambil menikmati pemandangan di luar jendela mobil.
"Iya Pak, pantes ya banyak orang kota antusias kalau liburan di desa. " Kata Bu Ningsih menanggapi bapaknya.
"Dulu rumah kita itu juga masih begini Ning. Pas bapak masih bujang. Tapi sekarang sudah terombak semua. " Kenang Mbah Kakung.
"Iya Pak. Waktu aku masih kecil perasaan juga masih tersisa beberapa pohon di sebrang jalan Pak. " Ujar Bu Ningsih.
__ADS_1
"Iya, itu kan nebangnya belum lama. "
Pasangan bapak dan anak itu terlibat obrolan yang panjang sekali, sedangkan yang lain juga asyik menikmati pemandangan desa. Burung-burung liar pun beterbangan dengan bebasnya.
"Udah sampai Pah. Tinggal belok sedikit ke jalan kecil depan itu. " Kata Clara.
"Oke, itu mobil bisa masuk ya Ra.? " Tanya Pak Hari.
"Bisa Pah, walaupun ngepas itu nanti. Kata Nina halaman rumah kakeknya luas kok, parkir depan rumahnya aja Pah. " Saran Clara.
Pak Hari mengangguk dan memarkir mobilnya di halaman rumah Alhlmarhum Mbah Suroyo. Seluruh penumpang turun dan bersiap masuk ke rumah duka.
"Silahkan Masuk Mbah Kakung, Pak Hari. Mohon maaf rumahnya sempit. " Kata Nina menyalami Bosnya.
"Iya Nin. Ini luas banget Nin. " Kata Bu Ningsih juga menyalami Nina beserta Mbah Putri.
"Nin, ikut berbela sungkawa ya? " Kata Clara sembari memeluk Nina. Begitu juga dengan Wati mengucapkan bela sungkawa dan memeluk sahabatnya itu.
Keluarga Pak Hari di suguhi air botol mineral dan beberapa kue basah tradisional. Juga ada beberapa piring permen dan kacang rebus.
__ADS_1
"Monggo Pak Hari ini seadanya ya! " Kata Bu Ida.
"Monggo Bu Ningsih, Mbah Putri. Ini di icip dulu makanan desa. " Lanjut Bu Ida menyodorkan suguhannya.
"Iya bu. Malah kita suka makanan yang alami seperti ini. " Kata Mbah Putri.
"Mohon maaf ya Bu. Kemarin nggak ikut pemakaman. Mas Kevin baru mengabari semalan. " Kata Bu Ningsih.
"Nggak papa Bu, iya kemarin itu Nina berangkat kesinu memang Mbah Kakung itu masih ada. Tapi sudah tidak bisa diajak berbicara. Mungkin Nina di perjalanan meninggalnya. " Kata Bu Ida.
"Pantes, kemarin itu izinnya Nina kan jengukin Mbah Kakung begitu Bu. Taunya sudah meninggal. " Kata Bu Ningsih.
"Pak, saya izin sampai tujuh hariannya Mbah Kakung ya? " Izin Nina ke Pak Hari.
"Iya Nin. Nggak papa, nanti biar di atur Mas Kevin base nya. " Jawab Pak Hari.
"Iya, terimakasih ya Pak! "
"Sama-sama Nin. "
__ADS_1
Keluarga Pak Hari berpamitan setelah Dzuhur. Mereka mampir ke mushola terdekat untuk shalat sebelum meluncur ke kota lagi.