Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
BAB 44


__ADS_3

"Nin, buatkan teh untuk temanmu. " Kata Bu Ida kepada Nina.


"Iya bu. " Nina pun berjalan menuju dapur.


"Nggak usah repot-repot Bu. " Kevin menolak halus.


"Enggak repot Nak. "


Setelah Nina menuju dapur, Kevin merasa canggung karena hanya berdua dengan Bu Ida. Rasanya seperti di sidang dengan calon mertua. Untuk menghilangkan kecanggungan Kevin mengedarkan pandangan ke seluruh ruang tamu.


Dinding rumah Nina terbuat dari Kayu jati. Disana terdapat beberapa foto yang di pigura dan di tata rapi pada dinding. Yang menarik perhatian Kevin adalah foto Nina semasa kecil.


"Sudah berapa lama Nak Kevin kerja sama Pak Hari?" Bu Ida memecah keheningan.


"Ya sejak berdirinya restoran itu bu. " Jawab Kevin.


"Oh, sudah lama sekali ya. " Kevin mengangguk.


Ninapun keluar membawa baki berisi dua gelas teh hangat. Ada juga sepiring singkong yang asapnya masih mengepul.


"Monggo Nak Kevin di minum tehnya dan itu tadi singkong panenan sendiri. Ibu ke belakang dulu. " Bu Ida mempersilahkan tamunya. Dan dia memberikan kesempatan mereka berdua.


"Ayo Mas di minum tehnya. Keburu dingin. "


"Iya Nin. Nanti di jemput jam berapa? " Tanya Kevin.


"Selepas Ashar aja Mas. " Jawab Nina.


"Ok. "

__ADS_1


Kevin pun meneguk tehnya. Dia juga mengambil sepotong singkong rebus. Sebenarnya dia sudah kenyang dengan nasi goreng tadi pagi. Tapi untuk menghargai tuan rumah dia pun memakannya.


"Empuk Nin. " Kata Kevin sembari mengacungkan singkong yang telah digigitnya.


"Emang kalau masih baru nyabut gitu mas. Empuk, pulen dan gurih. " Kata Nina.


"Iya ya. Kalau di beli di warung-warung nggak segurih ini. "


"Itu udah beda Mas. Singkong yang di jual itu kan dari petaninya udah beberapa hari. Jadi udah layu. " Jelas Nina.


"Iya ya. "


Akhirnya satu potonug singkong rebus tandas di lahap Kevin. Dia juga segera menghabiskan tehnya. Nina hanya memperhatikan Kevin.


"Nin, aku balik lagi ya. " Pamit Kevin.


"Oh, iya Mas. Udah telat juga. Hehe. " Jawab Nina sembari melirik jam dinding rumahnya yang kala itu menunjukkan pukul 09.30.


"Sebentar, aku panggilkan dulu Mas. " Kata Nina sambil berlalu menuju dapur.


"Bu, Mas Kevin mau pamit. " Kata Nina ketika sampai di dapur.


"Ouh, iya. " Dengan tergesa Bu Ida menuju ruang depan (ruang tamu) diikuti oleh Nina.


"Kok buru-buru Nak? " Basa-basi Bu Ida.


"Iya bu, harus masuk kerja. "


"Oalah, iya hati-hati. " Nasehat Bu Ida.

__ADS_1


Kevin pun menyalami Bu Ida dan Nina. Dia menuju motornya yang terpakir di bawah pohon pisang. Bu Ida dan Nina turut mengantar Kevin sampai depan rumah. Setelah motor menghilang, barulah mereka berdua masuk ke dalam rumah.


"Kamu udah benar-benar putus dengan Andre Nin? " Selidik Bu Ida.


"Kenapa bu? "


"Ya kalau belum putus, nggak baik jalan sama laki-laki lain Nduk. "


"Sudah bu. Tapi Nina ini nanti rencananya mau ketemu Andre. Supaya tidak ada kesalahpahaman dan Nina nggak merasa bersalah gitu Bu. "


"Apa benar? Nak Kevin tadi yang membuatmu berpaling? " Bu Ida terus mengintrogasi walaupun dengan bahasa yang halus.


"Bukan bu. " Jawab Nina.


"Jujur saja Nak. Ibu merawat dan membesarkanmu dari masih bayi. Mungkin kamu bisa membohongi orang lain, tapi tidak dengan ibu. " Kata Bu Ida tegas.


Nina spontan memeluk ibunya. Dia menangis tersedu-sedu. Tenggorokannya seakan tercekat, Ia tidak bisa berkata-kata lagi.


"Katakanlah Nak. " Kata Bu Ida lebih lembut sambil membelai rambut anaknya.


"Salah satunya iya bu. Tapi memang dari dulu aku nggak nyaman dengan Andre. Dia terlalu overprotektif, selain itu orang tuanya selalu memandangku sebelah mata Bu. Dikira aku itu hanya mau memanfaatkan Andre. " Kata Nina tersedu.


"Kalau kamu nggak nyaman kenapa dari dulu nggak kamu akhiri hubungan kalian itu Nduk? "


"Nina merasa banyak berhutang budi dengan Andre bu, selama ini Andre baik. Sering beliin aku tas, baju dan juga tiara sering di beliin jajanan. " Kata Nina lagi.


"Itu yang salah Nduk. Ibu hanya berharap kamu lebih bijak mengambil keputusan. Jangan grusa-grusu lagi. " Bu Ida terus menasehati putri sulungnya.


"Iya bu. "

__ADS_1


"Ya sudah ibu mau masak dulu, sebentar lagi Tiara pulang. " Bu Ida mengurai pelukan Nina, dan melangkah ke dapur.


Nina sebenarnya ingin membantu ibunya di dapur. Tetapi Bu Ida menolak, dengan dalih Nina libur kerja untuk istirahat. Akhirnya Nina memilih masuk ke kamarnya. Dia merebahkan diri di kasur tipis. Walaupun tipis, kasur itu membuatnya terlelap.


__ADS_2