Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
Diamnya Seorang Kevin


__ADS_3

Pov Nina


Karena asyik bercanda dengan Mas Agus. Aku tidak menyadari kedatangan Mas Kevin, dia berdiri di sampingku dengan tegapnya. Aroma maskulin menyeruak di hidungku.


"Udah ya Nin, bye!" Mas Agus melambaikan tangan dan menjauh dari kami.


"Eh mas belum selesai." Teriakku.


"Apanya yang belum selesai?" Kepo Mas Kevin.


"Becandanya." Jawabku singkat.


"Belum di buka kado semalem?"


"Udah Mas."


"Kok nggak di pakai?" Mas Kevin tampak kecewa.


"Ehm, belum ada baju yang cocok mas." Kataku.


Dia melenggang pergi begitu saja tanpa bertanya lagi. Entah kenapa aku merasa kalau dia kecewa. Biasanya Mas Kevin nggak seperti itu, apa kecewanya teramat sangat. Entahlah!


****

__ADS_1


Suasana restoran yang semula sepi kini menjadi hiruk pikuk karena banyaknya pengunjung yang datang. Ada yang makan di tempat dan banyak juga yang membungkus. Mungkin akan di makan bersama keluarga di rumah.


"Nin, kenapa kulkas daritadi mukanya di tekuk?" Tanya Mbak Wati.


"Masa sih Mbak? Aku malah nggak tahu ini." Aku tidak mau Mbak Wati tahu permasalahannya.


"Nggak biasanya lo Nin." Nggak tahu kenapa Mbak Wati jadi kepo banget.


"Entahlah Mbak." Jawabku.


Mbak Wati sudah tidak mencerca dengan pertanyaan lagi seputar Mas Kevin. Akupun juga tidak membahas. Biar aku yang tahu sendiri. Untuk mengalihkan badmoodku aku mulai memotongi lalapan. Dan membungkusi sambal.


Sesekali ku lirik Mas Kevin, ternyata benar dia lagi murung. Apa sampek segitunya gara-gara aku tak memakai kado yang dia berikan. Hem, baiklah mungkin besok akan kucoba memakai jilbab pemberiannya.


"Siap!" Teriak Mbak Wati dan Mbak Anggi bersemangat.


Aku pun mulai menyiapkan piringnya. Dan mencetak 3 nasi di atas piring itu. Lalu menggarnish. Sambil menunggu ayam yang di goreng Mbak Anggi, aku ke base Mbak Wati.


"Mbak!" Kataku setengah memelas.


"Apa Nin?" Mbak Wati menoleh.


"Pas istirahat aku mau curhat."

__ADS_1


"Aku udah tau permasalahannya." Kata Mbak Wati datar.


"Hemz." Sudah kutebak sebenarnya. Tapi kalau tidak bercerita secara langsung. Rasanya kurang plong. Apalagi masalah ini yang tahu hanya Mbak Wati. Tidak mungkin aku ceritakan ke yang lain.


"Nin, tuh Anggi udah setor ayam." Teriak Mbak Atilah yang basenya berdekatan denganku.


"Iya Mbak." Aku pun meninggalkan Mbak Wati yang masih meracik es teg menuju base ku.


"Kalau mau ngobrol tunggu istirahat dong. Ngrepotin yang lain aja. " Sengit Mbak Atikah ketika aku sudah sampai i baseku.


"Iya Mbak." Tanpa mendebatnya. Aku meletakkan ayam di piring yang sudah ku cetak i nasi. Lalu ku letakkan di baki dan mengantarnya ke depan.


Kulihat Mas Kevin melirikku, biasanya dia akan menyapa. Tapi kali ini dia menunduk lagi. Aku pun juga tak mau lama-lama di situ. Segera aku menuju base kembali untuk menyiapkan orderan selanjutnya. Aku akui, diamnya Mas Kevin sangat menyiksaku.


"Kenapa kamu mukanya kaya di tekuk gitu?" Seperti biasa, Mbak Atikah menambah mood burukku.


"Nggak papa Mbak."


"Ehm, patah hati ya?" Ledeknya.


Aku hanya diam, seperti biasa. Tipikal Mbak Atikah kalau di ledenin makin membuat onar. Kuputuskan diam, terserah dia mau ngomel apa.


Karena diam, Mbak Atikah capek sendiri. Dia melenggang pergi. Ternyata ke meja kasir, mengajak ngobrol Mas Kevin. Biasanya Mas Kevin akan cuek, tapi kali ini dia terlihat menanggapi candaan Mbak Atikah. Apa dia sengaja membuatku cemburu. Tapi tak dapat ku pungkiri hatiku teramat sakit melihatnya

__ADS_1


__ADS_2