Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
Kebersamaan


__ADS_3

Mas Kevin yang semula acuh tak acuh dengan keributan di dapur akhirnya mendekat. Semua sudah berkumpul di dapur. Hanya dia sendiri yang belum kelihatan.


"Udah, kenapa sih mesti ribut saat jam kerja. Kalau mau ribut nunggu sampai restoran tutup. " Teriak Mas Kevin, baru kali ini dia semarah itu.


"Nggak usah pakek teriak juga kali, Vin! Ngomong yang santai aja. Ilang wibawa loe! " Mas Bayu tumben tak sependapat dengan Mas Kevin.


"Udah bubar, kok kaya anak kecil semua sih. Ada masalah dikit gitu aja langsung ribut. Ayo bubar kembali ke base masing-masing. Jangan sampai pengunjung dengar. Bisa-bisa pak bos marah besar kalau sampai tahu. " Mas Bayu bagaikan oase di padang pasir.


Suasana yang awalnya tegang, berubah menjadi cair. Seperti kerbau yang di cocok hidungnya, semua pun kembali ke base nya masing-masing.


"Lain kali kalau Atikah kurang ajar, kamu harus nglawan Nin. Tunjukkan kalau kamu itu kuat, jangan lemah kaya gitu!" Mbak Wati masih terbawa emosi.


"Iya Mbak."


"Dia itu kalau lawannya mengalah makin seneng. Kamu harus nglawan Nin. Banyak yang Pro kamu disini. Tenang aja.!" Kata Mbak Wati dengan masih berapi-api.


"Iya Mbak. " Hanya itu yang bisa ku katakan saat ini, kalau di sanggah, takutnya Mbak Wati semakin emosi.


****


Pov Author


Di belakang meja kasir Kevin masih melamun. Dia bingung dengan dirinya sendiri. Ingin sekali dia marah, tapi apa yang membuatnya marah. Memberikan kado Nina berupa jilbab itu dengan harapan Nina memakainya.

__ADS_1


Tadi pagi dia berangkat kerja penuh dengan semangat. Harapannya melihat sang pujaan hati memakai jilbab yang dia berikan. Tetapi sesampainya di restoran, harapannya tidak sesuai kenyataan. Nina masih belum memakai jilbab pemberiannya. Itulah yang membuat moodnya berantakan.


"Jangan ngelamun aja loe! " Agus menyadarkan lamunannya.


"Lagi badmood aku. " Jawab Kevin.


"Ehm, sampek segitunya. Ada masalah apa? "


"Nggak ada." Kevin menelungkupkan kepalanya ke meja.


"Loe nggak pakar jadi pembohong. "


"Sotoy. " Kevin meninju pelan lengan Agus.


"Sama Nina? "


"Loe nggak tau gue emang keturunan dukun. "


"Dukun santet. " Canda Kevin.


"Sialan loe. "


Mereka terdiam sejenak. Agus pun berhati-hati bicara dengan Kevin. Biasanya orang yang lagi galau akan gampang tersinggung. Kita cuma ngeliyat aja disangka mengejek, apalagi ngajak ngobrol yang menjurus pada kegalauannya.

__ADS_1


"Kalau loe mau cerita, cerita aja ke gue, Vin. Kadang kita bisa lemah kalau urusan cinta. " Agus mulai bicara serius.


"Jam kerja Gus, profesional. " Kata Kevin dingin.


"Yaelah, Loe tadi juga ngobrol sama uler. "


"Hust, jangan ngatain orang. Kalau denger bahaya. "


"Loe kok belain dia. Yang loe suka uler apa Nina sih? "


"Nina lah. Tapi bukan berarti ngatain orang seperti itu Gus. "


"Gue nggak ngatain. Dari dulu julukannya juga gitu."


Mendengar kawannya berbincang-bincang Bayu yang semula di base penggorengan mendekat. Mumpung restoran lagi sepi, saatnya bergosip ala lelaki.


"Loe ngadem nggak ngajak-ngajak gue sih Gus?" Tegur Bayu.


"Ngadem apaan? Disini hawanya panas! " Kata Agus melirik Kevin dan mengibaskan tangannya ke leher, seperti orang yang gerah beneran.


"Hahaha. Siram tuh pakek air. " Canda Bayu.


Kevin geleng-geleng kepala mendengar candaan kawannya. Lumayan menghibur dikala hati lagi suntuk. Bayu dan Agus terlibat obrolan panjang karena tak ada pengunjung, sesekali menyindir Kevin. Tujuaanya mengembalikan mood Kevin. Andaikan moodnya kurang baik, akan berimbas ke mereka juga.

__ADS_1


"Dah Vin, loe terusin becanda loe sama Agus. Gue balik base. Kasihan Anggi menungu terlalu lama. " Kata Bayu.


"Sial loe, datang akhir pulang awal. Bukan Anggi yang menunggu tapi penggorengan loe tu yang butuh belaian. Hahaha! " Canda Agus. Kevin ikut terbahak mendengar candaan Agus yang tak pernah garing. Saat seperti inilah kebersamaan dengan Kawan ia rasakan. Kawan yang mampu menghiburnya saat gundah gulana.


__ADS_2