
Tepat pukul 12.00 Clara dan Bu Hari menyelesaikan makan siangnya. Ninapun langsung membereskan sisa makanan mereka. Kemudian dia pamit ke Bu Hari untuk kerja kembali.
"Nin, kalau kamu akhir pekan ini mau pulang boleh lo."
"Iya bu. Nanti saya pikirkan lagi."
"Kalau bingung mau naik kendaraan. Ambil aja motor di rumah Nin, nggak ada yang makek." Tawar Bu Hari.
"Palingan juga di jemput Andre ma." Kata Clara.
"Siapa Andre?" Bu Hari yang memang tidak tau bertanya dengan kening mengerut.
"Temen deket Nina."
"Oalah udah punya pacar to Nin?" Bu Hari bertanya dengan menyelidik. Ada sedikit kecewa juga di hati Bu Hari. Beliau berharap Nina bersama Kevin.
"Enggak Bu, cuma temen deket aja. Teman satu sekolah dulunya." Jawab Nina berbohong, karena dia sendiri sebetulnya tidak terlalu suka dengan Andre.
"Oalah, oke!" Bu Hari memaklumi kegugupan Nina.
Bu Hari dan Clara meninggalkan restoran. Ninapun kembali ke base nya, selama makan siang tadi di gantikan Anggi. Kalau Wati yang menggantikan juga tidak mungkin, dia sendirian di bagian minuman.
"Udah Mas Anggi, aku udah kembali." Begitu memasuki base nya Nina memberitahu Anggi.
"Ok, Nin. Tenang aja." Anggi pun kembali ke tempat Bayu.
****
__ADS_1
Malam itu Restoran tutup lebih awal, di karenakan stok ikan sudah habis. Para karyawan bisa istirahat lebih cepat.
"Mbak Wati, aku ke kamar dulu ya." Nina masuk kamarnya setelah memberi tahu Wati.
"Ok Nin, nanti aku susul." Wati yang masih asyik dengan gawainya duduk di teras restoran.
Sesampainya di kamar, Nina juga mengambil Hpnya. Dia berencana menghubungi ibunya kalau akhir pekan ini pulang. Dia juga sudah kangen masakan ibunya.
Titt, ,, Tiit,,,,,
"Halo, Assalamu alaikum." Terdengar suara gadis kecil dari sebrang.
"Waalaikum salam. Tiara, belum tidur?"
"Belum Mbak, malah ibu yang udah tidur. Makanya telfon aku yang ngangkat." Jawab Tiara.
"Bentar lagi kak, lagi ngerjain PR ini. Ada apa kak? Malem-malem nelfon?"
"Ehmz, tolong bilang ke ibu ya dik, akhir pekan ini Mbak mau pulang."
"Bener Mbak? Ya udah nanti tak bilang ke Ibu." Tiara sangat senang kakak perempuannya itu mau mau pulang.
"Ok. Ya udah Mbak tutup ya telfonnya. Kamu lanjutin ngerjain PRnya."
"Iya Mbak."
"Ya udah, Assalamu alaikum."
__ADS_1
"Waalaikun salam."
Acara telepon pun berakhir. Nina juga merebahkan badannya ke kasur. Walaupn tutup lebih awal, rasa capek juga mendera di tubuhnya. Matanya pun mulai terpejam. Kemudian Wati masuk ke kamar. Mau nggak mau Nina membuka matanya lagi.
"Udah nelfon ibumu Nin?"
"Udah Mbak baru aja. Tapi Ibuku dah tidur. Adikku yang jawab."
"Tumben Ibumu jam segini udah tidur?"
"Kecapean kali Mbak. Beberapa hari ini banyak yang mencucikan pakaian."
"Kenapa nggak buka laundry aja Nin?" Wati memberikan ide.
"Di desa mana laku Mbak? Ibuku kan pencuci panggilan, lagian kebanyakan dari mereka membayarnya dengan beras, kadan dengan sayur mentah. Kaya' semacam barter gitu lo Mbak."
"Oh, gitu, ya? Baru tahu aku."
"Lagian buat beli mesin cucinya juga belum mampu Mbak."
"Iya Nin. Ibu mu hebat ya, singgleparent bisa membesarkan kamu dan adik kamu." Wati kagum dengan ibu Nina.
"Ya begitulah Mbak, bagiku Ibuku segalanya, wanita terkuat versiku. Makanya, aku juga nggak mau ngecewain dia Mbak. Sudah berkali kali hatinya rapuh. Tapi beliau tidak pernah mengeluh." Nina menerawang, menggambarkan sosok ibunya.
"Iya, semoga kamu bisa membahagiakan ibumu Nin." Harapan Wati.
"Semoga Mbak."
__ADS_1
Akhirnya kedua gadis itu terlelap di kasur.