Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
BAB 70


__ADS_3

Wati yang kesehatannya belum begitu baik memaksa untuk bekerja. Sebenarnya semua temannya sudah melarang, akan tetapi ia tetap pada pendiriannya.


Akhirnya Wati di pindah di base garnish yang kerjanya tidak terlalu berat. Sedangkan Nina di base minuman bersebelahan dengan Atikah. Sejak dua bulan terakhir ini Atikah tidak lagi julid ke Nina. Mungkin dia sadar atau merasa kalah bersaing dengan Nina guna mendapat hati Kevin. Walaupun Atikah belum bisa begitu akrab dengan Nina, paling tidak, nggak ada lagi keributan diantara keduanya.


"Pagi Mbak. " Sapa Nina ke Atikah ketika Atikah masuk ke base nya. Karena Nina lebih dulu di base minuman, jadi dia berinisiatif menyapa terlebih dahulu.


"Pagi juga, gantiin Wati? " Tanya Atikah datar.


"Iya Mbak. Mbak Wati kurang enak badan. " Jawab Nina sembari menata blender dan menyiapkan buah-buahan kalau ada orderan jus biar tidak kerepotan.


"Kenapa nggak cuti aja. Kalau udah enakan baru kerja. " Sepertinya Atikah mulai nyambung ngobrol dengan Nina. Pembawaan Nina yang ceria, serta supel di ajak ngobrol menjadikan siapa saja nyaman ngobrol dengannya.


"Iya makanya aku di suruh pindah ke base ini sama Mas Kevin Mbak. Biar Mbak Wati nggak begitu berat kerjanya. " Kata Nina.


Atikah diam saja tidak merespon ucapan Nina lagi. Mungkin Nina menyebut nama Kevin menjadikan hati Atikah terusik. Sebenarnya dari luar Atikah sudah ikhlas, tapi dari hatinya mungkin belum. Menyadari Atikah yang diam, Nina pun tidak melanjutkan ngobrolnya.

__ADS_1


Lalu lalang pengunjung yang akan makan siang di restoran Pak Hari mulai terlihat. Jam-jam makan siang memang restoran selalu rame. Karyawan mulai sibuk di base masing-masing.


Kevin yang seharusnya hanya di kasir ikut mengantar makanan ke meja pengunjung. Saking banyaknya pengunjung, semua karyawan menjadi kerja dobel. Nina yang seharusnya hanya di minuman pun ikut membantu Atikah memasak saos untuk asam manis.


"Mbak Wati, butuh bantuan? " Tanya Nina ketika selesai membantu Atikah. Karena dia sudah beres di base minuman.


"Enggak Nin. Aku udah selesai kok. Waktunya santai aja. Pengunjung juga udah mulai sepi kelihatannya.


"Ok Mbak. Masih pusing? " Tanya Nina.


"Nggak separah kemarin Nin. " Jawab Wati.


"Iya Nin. Makasih banyak ya. Kamu pengertian banget. "


"Itu gunanya adik Mbak. " Jawab Nina tersenyum.

__ADS_1


Pengunjung sepi, Nina membantu karyawan yang lain membereskan meja-meja tamu. Mengumpulkan piring dan gelas kotor ke dalam keranjang lalu mengelap meja kembali supaya kelihatan bersih.


"Jangan capek-capek. " Kata Kevin ketika Nina melewati meja kasir.


"Siap Bos! " Kata Nina sembari memberi hormat.


Kevin tertawa melihat kelakuan Nina lalu mengacak rambut kekasihnya itu dengan gemas. Nina pun berlalu, menggantikan tugas Wati karena jamnya Wati istirahat. Otomatis Nina hanya berdua dengan Atikah di dapur.


"Nin, gue mau ngobrol sama loe. " Atikah mendekati Nina. Nina yang awalnya asyik mengiris timun seketika menghentikan kegiatannya.


"Iya Mbak m, silahkan. " Nina turut duduk di samping Atikah.


"Gue mau minta maaf Nin, selama ini gue selalu julid sama loe. Gue iri aja loe anak baru tapi semua bisa sayang sama loe. Sedangkan gue dulu pas masih baru disini selalu di tindas. Rasanya nggak adil bagi gue. " Atikah menghela nafas sejenak. Sedangkan Nina masih menyimak.


"Makanya gue juga ingin loe di tindas. Gue sengaja semena-mena sama loe. Gue juga cemburu ketika Mas Kevin lebih memilih loe. Tapi setelah gue pikir-pikir, rasa iri dan cemburu ini tidak menguntungkan sama sekali. Gue malah sering makan ati dengan ambisi gue. Loe mau maafin gue kan Nin? " Tanya Atikah menatap Nina dengan berkaca-kaca. Sepertinya dia plong telah mengungkapkan isi hatinya.

__ADS_1


"Iya Mbak. Aku juga minta maaf kalau ada salah ya?" Kata Nina sambil memeluk Atikah yang tergugu.


Anggi menatap dua sahabatnya yang tengah berpelukan itu dengan tersenyum. Dia sebenarnya sudah sedari tadi berdiri di ambang pintu dapur. Tapi, baik Nina ataupun Atikah tidak menyadarinya.


__ADS_2