Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
Ternyata Tangguh


__ADS_3

Sore itu Pak Hari berkunjung ke restoran. Beliau datang bersama keluarga lengkapnya. Beserta seorang laki-laki berperawakan tinggi, berkulit putih dan berkumis tipis. Kelihatan tampan dan berwibawa.


"Mas Kevin, saya pesen meja yang muat 8 orang ya.!" Sesampainya di depan meja kasir Pak Hari memesan meja.


"Iya Mas, menunya? " Sambut Kevin ramah.


Pak Hari pun menuliskan beberapa menu yang di pesan. Lalu menyerahkan kepada Kevin. Setelah itu rombongan Pak Hari berjalan ke meja yang telah di bersihkan. Sementara itu Kevin mengintruksi teman-temannya untuk menyiapkan pesanan bosnya itu.


"Teman-teman ini pesenan bos, tolong segera di buat. Soalnya beliau sudah menunggu. " Intruksi Kevin ke teman-temannya.


"Siap!" Serempak semua menjawab.


Semua sibuk menyiapkan pesanan bosnya. Sambil menunggu ikan dan ayam yang di masak. Nina mulai mencetaki nasinya.


"Nin, kamu udah selesai? " Tanya Wati.


"Udah Mbak, ada yang perlu aku bantu Mbak? " Nina mendekati Wati.


"Tolong kupasin apelnya dong. Haduh delapan minuman minta jus segar semua, mana buahnya beda-beda semua. " Gerutu Wati.


Nina pun tersenyum mendengar gerutuan Wati. Diapun membantu mengupaskan beberapa buah yang belum dikupas. Lalu mencucinya sekalian dan mendekatkan kepada Wati.


"Ini Mbak. Ada yang bisa di bantu lagi? " Tawar Nina.

__ADS_1


"Udah Nin. Kamu kembali ke base kamu aja Nin. "


"Ok kalau gitu Mbak. "


Ninapun kembali ke base nya. Tak lama setelah itu bayu mengantar tiga ayam goreng untuk di garnish. Satu jam kemudian pesanan Pak Hari sudah siap. Nina mengantar ke meja yang telah di beritahu Kevin.


"Permisi, ini pesanannya." Kata Nina.


"Eh Nina, apa kabar Nak? " Mbah kakung lebih dulu menyapa.


"Sehat Kung. " Nina menjawab sembari menyalami Mbah kakung. Dan menyalami yang lain. Termasuk sosok pemuda yang baru di lihatnya pertama kali.


"Mbah kakung sehat? " Lanjut Nina.


"Nina biar makan bareng kita aja ya Har? " Pinta Mbah Kakung kepada menantunya.


"Iya Mas, biar Nina makan siang bareng kita. " Bu Ningsih pun turut meminta Nina makan bersama.


"Makan sini aja Nin. " Clara tak mau kalah.


"Ehmz, nggak usah. Nina makan di belakang saja Kung. Sama teman-teman, lagian ini belum waktu istirahatnya Nina. " Tolak Nina halus.


Clara dan mamahnya saling lirik. Biasanya setiap kali makan bersama di restoran, Pak Hari pasti mengajak Nina makan bareng. Tapi tumben kali ini Pak Hari diam. Dan cenderung membiarkan penolakan Nina.

__ADS_1


"Ya sudah Nina silahkan kembali ke base mu. " Perintah Pak Hari.


"Iya Pak. "


Nina pun meninggalkan meja itu. Dia kembali ke basenya. Semua orang dalam meja itu terdiam. Mbah Kakung tampak kecewa sekali. Secara tidak langsung, menantunya itu membantah sebuah perintah darinya.


"Ayo kita mulai makan. " Pak Hari membuyarkan keheningan.


Kini semua makan dalam diam. Memendam pertanyaan dalam hati masing-masing. Tak ayal dengan Clara, berkali-kali dia menyiku lengam ibunya.


"Nanti akan mamah tanyakan ke papah. " Bisik Bu Ningsih ke telinga Clara. Beliau seakan tahu maksud anaknya.


"Tangguh sekarang kesibukannya apa? " bu Ningsih membuka percakapan dengan pemuda tadi setelah acara makan selesai.


"Bantuin temen jadi fotografer prewed Mbak. " Kata pemuda tersebut yang tenyata bernama Tangguh.


"Oh, Kenapa nggak bikin studio? " Tanya Bu Ningsih lagi.


"Belum berani Mbak ini juga masih belajar. " Jawab Tangguh.


"Ya nggak papa, Ngguh. Anggap aja latihan kerja. Nanti kalau langsung jadi bos kamu nggak ngrasain seninya orang sukses. " Nasihat Mbah Kakung sambil melirik ke Pak Hari entah apa maksudnya.


"Iya Pakdhe. "

__ADS_1


__ADS_2