Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
Lega


__ADS_3

Pov Author


Motor yang dikendarai Wati telah sampai di depan restoran. Tanpa membuang waktu, Wati memarkirkannya di parkiran dan menguncinya. Kemudian dia kembali ke Nina yang masih berdiri di pintu masuk.


"Ayok Nin!" Wati menarik tangan Nina untuk memasuki restoran.


Nina hanya menurut. Dia mengikuti setiap langkah Wati. Sampai di kamar pun Nina masih tetap berdiri dengan tatapan kosong. Walaupun airmatanya telah kering, tapi isakannya masih terdengar walau samar.


"Duduk Nin." Menyadari Nina yang hanya berdiri mematung. Wati pun segera menarik tangan Nina.


"Mbak menurutmu aku harus gimana?" Tanya Nina dengan masih terbengong.


"Hemz. Jangan memaksakan perasaan Nin, kalau memang nggak nyaman ya tinggalkan. Lagian menurutku Andre terlalu posesif. Kasihan kamu kalau selalu di tuntut sempurna seperti yang dia inginkan." Wati seperti tidak menyukai Andre.


"Iya mbak." Jawab Nina singkat.


Mereka berdua pun bersiap untuk tidur. Wati memunggungi Nina dan menghadap dinding. Sedangkan Nina sendiri masih memegang ponselnya. Baru saja mau di matikan ada notifikasi whatsapp masuk.


"Nin, udah tidur?" Ternyata Kevin yang mengirim pesan.


"Iya mas. Ini mau tidur." Balas Nina.


"Oh, pulang jam berapa tadi?" Tanya Kevin.


"Sama seperti kamu mas." Balas Nina.


"Emoticon malas. Maksudku dari taman?" Kevin kepo.

__ADS_1


"Hehe. Baru aja."


"Nemuin siapa sih?" Jiwa kepo Kevin meronta.


"Kepo. Besok aja aku critain.Ya udah sampai jumpa besok ya mas. Bye" Balas Nina mengakhiri chatnya dengan Kevin.


"Ok. Bye. Tidur yang nyenyak." Kevin pun meletakkan ponselnya.


****


"Nin, bangun!" Wati yang terbangun lebih dulu membangunkan Nina.


"Ya ampun Mbak, kesiangan kita." Nina yang baru bangun pun kaget. Karena waktu menunjukkan pukul 05.00. Sudah lewat waktu subuh.


Wati lebih dulu memasuko kamar mandi. Dengan segera mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajiban. Begitu pun dengan Nina, dengan tergesa bergantian ke kamar mandi. Seperempat jam kemudian mereka berdua selesai melaksanakan shalat subuh.


"Pagi begini bikin kopi Mbak?" Tanya Nina.


"Ya ngopi itu bagusnya pagi Nin. Biar mata melek." Canda Wati.


"Iya Mbak, tapi kan belum makan nasi. Yang ada perut perih, bisa kena asam lambung."


"Tenang aja ini nggak bikin asam lambung."


Wati menuju dapur. Dia menyalakan kompor dan menjerang air. Cukuplah untuk dua orang. Saat akan menyeduh kopi, Atikah datang dengan masih mengantuk juga.


"Sekalian dong bikinin aku kopi Wat!" Pinta Atikah.

__ADS_1


"Cuci muka dulu, Tik. Kamu jorok ilermu kemana-mana itu lo." Wati kelihatan jijik.


"Ish." Dengan muka sebal Atikah masuk kamar mandi sebelah dapur.


"Ini kopimu Nin." Wati menyodorkan segelas kopi untuk Nina.


"Mbak beneran ini minum kopi sepagi ini nggak papa?" Nina masih ragu untuk menyeruput kopinya.


"Bentar." Wati meninggalkan Nina sendirian di dapur.


Tak berapa lama Wati sudah kembali. Dia membawa sebungkus roti tawar. Lalu membukanya.


"Ini Nin." Wati menyerahkan satu lembar roti tawar ke Nina.


"Buat apa Mbak?" Nina kebingungan.


"Gini nih caranya." Wati mulai menyobek roti tawarnya dan mencelupkan ke kopi yang masih panas.


"Kalau gini nggak bikin asam lambung Nin." Lanjutnya.


Nina pun mengikuti wati. Satu lembar roti tawar masuk ke perutnya.


"Gimana perasaan kamu sekarang Nin?" Wati bertanya di sela-sela menikmati rotinya.


"Sudah plong Mbak. Lega banget." Kata Nina.


"Ya udah. Kamu yang semangat, jangan ragu melangkah." Nasihat Wati.

__ADS_1


"Siap Mbak!" Nina mengacungkan 2 jempolnya.


__ADS_2