
Pov Nina
Udara malam yang lumayan dingin menembus kulit menemani perjalananku dan Mbak Wati dari supermarket. Aku tak memakai jaket dan' menyetir, jadi hembusan angin sangat terasa di kulit. Sesampainya di restoran ternyata Mas Kevin ada di parkiran. Aku berniat menyapa.
"Belum pulang Mas?" Tanyaku.
"Sengaja nungguin kamu nin. Tadi katanya mau ngobrol." Jawabnya.
"Ya udah aku masuk duluan ya Nin?" Sepertinya Mbak Wati tahu kami akan ngobrol penting. Akhirnya meninggalkan kami berdua.
"Tumben nggak pakai jaket Nin? Nggak kedinginan?" Sepertinya Mas Kevin tahu kebiasaanku yang tiap kali pergi pasti pakek jaket.
"Iya Mas. Tadi lupa nggak pakek. Cepet-cepet soalnya." Jawabku.
"Pergi kemana emangnya tadi sama Wati?" Tanya Mas Kevin.
"Belanjaan bonus kemarin itu lo Mas. Beli ini?" Ku tunjukan tentengan yang kubawa.
"Ehm gitu."
"Oh ya Mas? Katanya mau ngobrol? Ngobrolin apa?" Tanyaku to the point.
"Kamu juga ada yang di omongin kan. Kamu duluan deh?" Mas Kevin sepertinya enggan bicara lebih dulu.
__ADS_1
"Mas duluan deh!" Aku kekeh pada pendirianku.
"Ehmz, suka maksa ya kamu." Mas Kevin menatapku dalam.
Aku jadi salah tingkah. Walaupun mulai akrab, tak biasanya Mas Kevin menatap sedalam itu. Biasanya bicara pun seperlunya.
"Dari awal kita ketemu aku udah suka sama kamu, Nin. Tapi aku terlalu takut buat bilang. Takut kamu malah nggak nyaman sama aku. Ini sudah ku pikirkan matang-matang Nin.Andaipun kamu menolak aku tak masalah." Kata Mas Kevin dengan nada datar tanpa ekspresi.
"Maaf mas." Aku menghela nafas.
"Aku sudah menduga." Mas Kevin menyela ucapanku.
"Ish, aku belum ngomong Mas!" Kataku sambil menepuk bahunya cukup keras.
"Sakit Nin. Iya, jawabanmu udah aku tebak!" Katanya dengan datar lagi sambil mengusap bahunya.
"Kamu pasti nggak bisa menjalin hubungan denganku kan?" Katanya sambil menekuk wajahnya.
"Yeeee, salah!" Kataku.
"Lalu apa Nin? Jangan membuat aku bingung!" Katanya sambil menatapku lagi. Ku pandang wajahnya yang teduh.
"Aku ngomong, tapi jangan disela. ok?"
__ADS_1
"Ya silahkan!"
"Aku baru aja putus sama pacarku Mas. Kemarin malam pas Mas Kevin ngajak aku ngobrol, sebenarnya aku janjian ketemu sama pacar aku itu Mas. Kami menyelesaikan masalah kami, dan memang berpisah adalah keputusan terbaik." Kataku pelan.
"Apa ini ada hubungannya dengan aku sehingga kamu putus Nin?" Tanya Mas Kevin dengan perasaan tidak enak sepertinya.
"Bukan Mas. Memang aku sudah tidak cocok lagi sama dia. Dan aku pun dulu nggak niat berpacaran sama dia Mas." Jelasku.
"Oh, begitu." Mas Kevin hanya manggut-manggut.
"Trus hubungan kita ini gimana Nin?" Tanyanya mencari kepastian.
"Kita temenan aja ya Mas. Aku belum bisa menjalin sebuah hubungan lagi. Dan aku pun ingin fokus kerja dulu." Kataku jujur.
"Memang kalau pacaran nggak bisa bikin fokus kerja ya?"
"Hehe, nggak tau Mas." Kataku cengengesan. Mas Kevin mengambil sesuatu dari tas ranselnya.
"Ini buat kamu Nin!" Mas Kevin menyerahkan kotak yang di bungkus.
"Apa Ini mas?"
"Kamu buka nanti saja ya. Aku pulang dulu Nin. Kamu buruan istirahat. Menyiapkan tenaga buat besok."
__ADS_1
"Iya Mas. Makasih ya?"
Setelah Mas Kevin meninggalkan parkiran aku pun juga masuk ke dalm restoran lagi. Langsung ku buka pintu kamar. Ternyata Mbak Wati sudah tidur. Aku pun ke kamar mandi. Dan langsung merebahkan diri untuk tidur.