
Pov Nina
Sehabis acara di rumahnya Mas Kevin aku tidak bisa tidur. Rasa nyaman di hati tapi malah mata yang sulit terpejam. Mbak Wati pun ikut begadang, karena aku yang bikin kebisingan.
Tidak sengaja kami malah ghibahin Mbak Atikah. Memang aneh, beberapa hari ini sifat julidnya berkurang. Dan sepertinya Mbak Wati tahu sesuatu. Tapi Mbak Wati belum mau membuka suara, ia menyimpannya sendiri. Dan aku pun juga nggak memaksa. Itu adalah privasinya dia.
"Sorry ya Nin, aku sih cuma nebak aja. Kayaknya si Atikah hamil deh. " Kata Mbak Wati pelan.
"Hahh? " Aku tercengang kaget di buatnya.
"Jangan teriak Nin, ntar kamar sebelah bangun. " Maksud Mbak Wati kamarnya Mbak Atikah.
"Habis Mbak Wati ada-ada saja sih. " Kataku dengan suara yang pelan.
"Ini masih praduga Nin."
"Emang orang hamil itu tandanya gimana Mbak? " Tanyaku lagi dengan setumpuk rasa penasaran.
__ADS_1
"Yang jelas udah berkali-kali aku memergoki seorang laki-laki keluar dari kamar Atikah. Logikanya ngapain laki-laki masuk kamar perempuan malem-malem kalau nggak buat gituan Nin. " Kata Mbak Wati serius.
"Berarti karyawan sinu juga dong Mbak. " Kataku.
"Bukan, orang luar. "
"Kok bisa seenaknya keluar masuk.? " Tanyaku.
"Ya kalau di beri akses bisa aja to Nin. " Mbak Wati mulai memejamkan mata, kantuknya mulai menyerang.
Aku termangu dengan pendapat Mbak Wati, kok bisa-bisanya Mbak Atikah seperti itu. Katanya dia cinta mati sama Mas Kevin. Lha ini kok malah menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Apa mungkin Mbak Atikah patah hati karena Mas Kevin mengabaikannya.
****
"Ya ampun Nin, udah jam enam. " Teriak Mbak Wati sambil menepuk badanku.
Aku menggeliat, ternyata benar kami melewatkan waktu subuh. Disini biasanya adzan subuh sekitar setengah lima. Dan ini jam enam lebih kita baru bangun. Ehm, efek begadang seperti ini.
__ADS_1
"Aku mandi dulu. Gantian ya Nin. Ngejar waktu subuh. " Mbak Wati menyambar handuknya yang tergantung.
Mbak Wati memang tipikal orang yang tidak pernah melalaikan kewajiban shalatnya. Dia pasti shalat, dan kalau sempat berjamaah ke mushola. Makanya, aku senang bersahabat dengannya. Banyak membawa perubahan positif terhadapku.
"Ayok Nin, kok malah tidur lagi. " Mbak Wati membangunkanku.
"Iya Mbak. "
Aku pun mandi dan keramas, rasanya kepalaku berat. Efek ngantuk yang belum hilang mungkin. Air dingin yang mengguyur badan menjadikan aku seperti punya energi lagi. Kuselesaikan mandiku dengan cepat.
"Ayok Mbak" Kataku ke Mbak Wati ketika aku sudah memakai mukena.
"Ayo. " Mbak Wati yang di depanku mengimami shalat subuh yang telat dengan khusyu'.
Sepuluh menit berlalu. Aku dan Mbak Wati menghangatkan makanan yang dari ibuknya Mas Kevin kemarin.
"Kopinya Nin. " Kata Mbak Wati menyodorkan secangkir kopi susu.
__ADS_1
"Makasih Mbak. " Kataku menghirup aroma kopi yang asapnya masih mengepul.
Sejak bersama Mbak Wati aku juga ketagihan kopi setiap pagi. Kamipun menikmati kopi do gazebo belakang restoran. Melihat matahari yang mulai merangkak naik. Kemudian kami sarapan dan berlanjut membersihkan meja-meja pengunjung.