Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
BAB 90


__ADS_3

Nina dan Wati sampai di rumah Kevin. Gerimis kecil mulai turun. Ternyata jenazah Bu Burhan akan di mandikan. Nina pun menyalami pelayat terlebih dahulu. Kemudian di ikuti oleh Wati.


Nina mencari-cari keberadaan Mbak Umi. Ternyata Mbak Umi di ruang tengah. Nina bergegas kesana.


"Mbak, ikut berbela sungkawa! " Nina menyalami Mbak Umi dan memeluknya.


"Iya dik. Terimakasih. Tau dari siapa? " Mbak Umi membalas pelukan calon adik iparnya itu.


"Mas Kevin Mbak! " Jawab Nina. Mbak Umi terlihat mengangguk.


Selanjutnya jenazah di mandikan pihak keluarga. Di moment itulah Nina bertemu dengan Kevin. Nina pun tak berani untuk sekedar menyapa. Kevin kelihatan sangat terpukul. Bahkan matanya terlihat sembab.


"Kamu ikut memandikan dik? " Tanya Mbak Umi ke Nina.


"Iya Mbak. Boleh kan? " Nina menatap calon kakak iparnya itu.


"Boleh. Ayo! " Ajak Mbak Umi.


Nina pun berjalan beriringan dengan Mbak Umi. Hanny juga turut memandikan mendiang ibunya. Selesai di mandikan jenazah di kafani lalu di shalatkan, kemudian di kebumikan di makam keluarga.

__ADS_1


Selesai di shalatkan keluarga Pak Hari datang untuk ta'ziah. Mbak Umi pun menyambut Bu Niingsih. Bu Ningsih memeluk Mbak Umi dan menguatkan.


"Sabar ya Bu Umi, semoga Almarhumah husnul khatimah. " Kata Bu Ningsih.


"Iya Bu, terimakasih banyak sudah berkenan ke mari! " Mbak Umi membalas pelukan Bu Ningsih.


Sedangkan Pak Hari duduk bersama pelayat laki-laki yang lain. Terlihat Mas Ipul dan Aris juga ikut menyapa bosnya Kevin itu.


Tak lama kemudian, tepat pukul sebelas malam jenazah di berangkatkan. Kalimat tahlil mengiringi keberangkatan Bu Burhan menuju peristirahatan terakhir. Kevin dan saudara laki-lakinya ikut memanggul keranda Bu Burhan.


Sedangkan di rumah para pelayat sudah pulang. Selain jenazah sudah di berangkatkan, gerimis yang mulai jatuh lagi juga membuat semua pelayat segera pulang. Termasuk keluarga Pak Hari, mereka berpamitan kepada Pak Burhan sekeluarga.


"Iya Mbak. Kalau begitu biar Wati pulang dulu. " Jawab Nina.


"Wat, kamu pulang dulu nggak papa. Ntar kamu kecapean lagi." Kata Nina berbisik menole Ke Wati.


"Ya udah, aku pulang dulu ya Nin? " Nina mengangguk dan tersenyum. Wati juga berpamitan kepada keluarga Kevin yang lain.


Lewat tengah malam pemakaman baru selesai. Kevin pun mandi terlebih dahulu, badannya lengket dan bajunya penuh dengan lumpur. Selesai mandi, Kevin menemui Nina.

__ADS_1


"Mau kuantar sekarang? " Tanya Kevin melihat Nina duduk sendirian di kursi depan. Sedangkan Mbak Umi menidurkan Azizah, anak bungsunya.


"Kalau Mas Kevin nggak repot. Sekarang juga nggak papa. Aku turut berduka cita ya Mas. Semoga ibu husnul khatimah. " Kata Nina memegang tangan Kevin.


"Iya Nin, terimakasih banyak. Mungkin takdirnya ibu harus pergi secepat ini. " Kata Kevin lebih tenang.


"Mas yang sabar ya, ikhlas!" Nina kembali menyemangati Kevin.


"Iya. Terimakasih ya? "


"Sama-sama. "


Kevin mengantar Nina pulang ke restoran dan memastikan Nina masuk ke dalam. Lalu dia putar balik motornya dan kembali ke rumah. Rumah sudah sepi, semua sudah masuk ke kamar. Tinggal Pak Burhan sendiri duduk termenung di ruang tamu.


"Mau aku bikinkan kopi Pak? Atau makan? " Tanya Kevin.


"Nggak usah Vin. Bapak nggak merasa lapar. "


Kevin menyadari bapaknya tengah berduka pun tak banyak bertanya lagi. Sebenarnya dia sendiri juga sangat berduka. Tidak menyangka sang ibu pergi secepat itu. Tapi Kevin juga memikirkan kesehatannya, dia pun makan nasi bungkus, walaupun sulit untuk menelan ia paksakan untuk makan.

__ADS_1


__ADS_2