Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
BAB 80


__ADS_3

Pov Nina


Pagi itu aku berharap masih bisa berbincang dengan Mbah Kakung Suroyo. Tapi sayang, sebelum aku datang beliau sudah tiada. Meninggalkan kami semua. Akan tetapi ada wasiat beliau yang mengganjal di hatiku. Beliau menginginkan aku menikah tahun depan.


Sebenarnya andaikan aku menikah tahun depan pun tak masalah. Mas Kevin pun kelihatannya sudah siap untuk berumah tangga. Namun, aku terlalu insecure dengan tanggapan tetangga nanti. Selama ini tetangga di sebelah ramahku suka julid terhadap keluargaku, terutama aku. Mereka seakan-akan menjadi cctv berjalan yang akan terus mengawasiku.


Dulu saat aku berpacaran dengan Andre pun, mereka suka menggosipkan yang tidak-tidak. Sebenarnya aku pacaran dengan Andre juga masih dalam tahap wajar. Belum sampai melakukan hal yang tak senonoh. Tapi tanggapan masyarakat ya begitulah.


Akan tetapi Pakdhe Bandi yang mengetahui kegamangan hatiku, segera menguatkan ku. Beliau juga mendukung perjodohanku dengan Kevin. Dan beliau siap menjadi wali nikahku kelak.


Malam pertama setelah kematian Mbah Kakung, Keluarga Mas kevin datang untuk bertakzi'ah. Seperti biasa, Ibu Mas Kevin selalu ingin dekat denganku. Ini lah yang membuat aku nyaman berhubungan dengan Mas Kevin. Keluarganya sangat baik dan welcome dengan keberadaanku. Harapanku, semoga kelak aku bisa menjadi menantu yang baik di keluarga itu.


POV AUTHOR


Nina kembali memasuki rumah, dan bergabung dengan ibu-ibu di dapur guna menyiapkan sajian untuk bapak-bapak yang tahlilan. Menu kali ini di buatkan nasi pecel dengan minum teh manis hangat.


"Sudah pulang tamunya Nak? " Tanya Budhe Suji (Istri Pakdhe Bandi).

__ADS_1


"Sudah Budhe, Baru saja aku mengantar sampai depan. " Jawab Nina.


"Tadi yang ikut ta'ziah siapa lo Nin? Kok banyak sekali orangnya?" Tanya Mbak Pur (Anaknya Pakdhe Bandi.


"Ibu bapaknya Mas Kevin, sama Mbaknya Mbak. Yang dua oranglaki-laki muda itu, menantunya Bapak Burhan. " Jawab Nina.


"Emang Kevin berapa bersaudara? " Tanya Mbak Pur lagi.


"Lima Mbak. "


"Yang belum dua, Mas Kevin sama adiknya yang paling kecil. "


"Ouh, begitu. Kan sebentat lagi Kevin nikah, hehe. " Canda Mbak Pur.


"Apaan sih Mbak? " Nina merona malu.


"Ini nasinya seberapa Mbak? " Tanya Nina mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Satu centong penuh di tambah setengah. " Jawab Mbak Pur ikut menata nasi di piring dan memberi contoh ke Nina.


"Eh, kebanyakan Pur. Satu centong aja jangan penuh-penuh. Ntar malah nggak habis. Orang sekarang nggak kaya orang dulu yang makanya banyak Pur. " Budhe Suji memberikan pengarahan.


Akhirnya tataan nasi sesuai dengan instruksinya Budhe Suji. Ba'da Isya', bapak-bapak jamaah yasin sudah memenuhi rumah Mbah Suroyo. Mereka membacakan yasin juga tahlil untuk Almarhum. Lalu di tutup dengan doa.


Pemuda laki-laki menyajikan makan dan minum untuk bapak-bapak yang telah selesai ngaji. Gotong royong dan kerukan di desa memang masih terjalin sangat baik. Ibu-ibu yang tadi ikut membantu pun, sekarang tengah mencucikan piring bekas makan bapak-bapak.


Bu Ida dan Budhe Suji membungkus nasi pecel dan lauknya untuk di bawa pulang para tetangga yang membantu tadi.


"Yu Narti, ini tolong di bagi ke yang lain ya? " Pinta Budhe Suji.


"Iya Ndok, ini masing-masing berapa bungkus? " Tanya Bu Narti.


"Dua bungkus Yu, nanti kalau sisa buat sampeyan. " Sahut Bu Ida.


Para tetangga yang telah selesai mencuci piring pun di bagikab dua bungkus nasi tadi. Semua terlihat senang. Dan berpamitan kepada Bu Ida dan Budhe Suji. Bu Ida mengucapkan banyak terimakasih kepada para tetangga. D

__ADS_1


__ADS_2