Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
BAB 61


__ADS_3

Tak sampai satu jam mobil yang di tumpangi Nina sudah memasuki jalan makadam. Tandanya desa Nina sudah semakin dekat. Pak sopir pun memperlambat jalan mobilnya. Karena jalan yang berbatu tidak bisa untuk ngebut.


"Udah deket Pak. Pelan-pelan aja nggak pa-pa. Daripada nanti mobilnya rusak. " Kata Nina.


"Iya Mbak Nina. Kok nggak ada perbaikan ya, padahal ini jalur antar desa lo. " Pak sopir berargumen.


"Sebenarnya udah banyak warga yang komplen pak, tapi tetep aja nggak ada respon dari kelurahan. " Sahut Bu Ida.


"Iya bu, orang bawah kayak kita ini mau protes pun kalau dari kelurahan diam ya tetap nggak ada perubahan. "


Mobil itu telah sampai di depan rumah Nina. Ternyata di warung Bu Sri telah berkumpul segerombolan ibu-ibu. Entah berbelanja atau hanya ikut tempat buat ngerumpi. Nina dan ibunya turun dari mobil. Karena sudah di bayar, mobil pun melesat pergi tanpa mampir dulu.


"Dari mana Bu Ida kok rapi amat, habis kondangan? " Celetuk Budhe pimah dari segerombolan orang yang ada di warung bu Sri.


"Iya Budhe, mari.! " Bu Ida memilih beringsut dari halaman rumahnya.


"Tunggu dulu dong bu Ida, itu ke kondangan siapa kok Nina mau jauh-jauh pulang ke desa?" Jiwa kepo Bu Sri pun meronta.

__ADS_1


"Kondangan temen saya bu. Udah dulu ya, kami masuk dulu. Mau ganti baju gerah banget ini. " Kata Nina yang tak tahan dengan ke kepoan tetangganya itu. Para tetangganya berbisik-bisik.


"Eh, Nina itu sombong amat ya sekarang. Mentang-mentang bisa kerja di kota. " Budhe pimah yang raja julid mulai membuka pembicaraan.


"Biasa hidup miskin sekali punya uang berani tuh nyewa mobil. " Ibu-ibu yang mulai gusar.


"Itu kayaknya kondangan di rumah pacarnya Nina. " Kata Bu Sri.


"Eh, sampeyan tau dari mana Bu? " Budhe Pimah mulai mendekati kawan yang cocok buat bergosip.


"Terus gimana Bu? " Budhe Pimah tidak sabaran.


"Trus di kasih kresek yang ada merk toko baju. Palingan yang di pakai itu juga yang di kasih sama lelaki itu. " Pendapat Bu Sri.


"Iya ya. Nina itu memang kelihatan matrenya, dulu aja mau di pacar ama anaknya Kang Roji nggak mau. Katanya masih sekolah, alasan aja. Lha pas sekolah aja juga pacaran sama Andre anaknya juragan sapi desa sebelah. " Bu Pimah berapi-api membicarakan keburukan Nina.


"Kok Budhe Pimah paham banget sama jalur ceritanya. " Kata Bu Mita, yamg dari tadi diam menyimak.

__ADS_1


"Ya iyalah, Kang Roji itu kan masih sepupuku, jadi aku tahu seluk beluk kisah Nina anaknya si Ida itu. " Budhe Pimah seperti punya kartu Asnya Nina.


"Sudahlah bu, nggak baik ngomongin tetanga sendiri. Oh ya Bu Sri ini belanjaan saya semua berapa? " Tanya Bu Mita yang tidak ingin berlarut-larut dalam kumpulan ibu-ibu bergosip.


"Gula setengah, sabun mandi, sama beras dua kilo ya Bu Mita? " Tanya Bu Sri.


"Tambah sabun cuci bajunya satu renteng ya Bu. " Bu sri mengambilkan dan menghitung total belanjaan Bu Mita.


"Semua empat puluh lima ribu Bu Mita. " Kata Bu Sri.


"Ini Bu, kembaliaanya kasih kecap sama bumbu masak aja bu. " Kata Bu Mita menyodorkan uang lima puluh ribu.


"Ouh, iya ini ya Bu Mita. "


"Iya, mari ibu-ibu saya duluan ya. " Kata Bu Mita ramah kepada ibu-ibu yang lain.


Ibu-ibu yang tadinya berkumpul, kini satu persatu mulai buyar dari warung bu Sri. Tinggal Budhe Pimah saja yang masih memilih barang yang akan di belanja.

__ADS_1


__ADS_2