
Acara pemakaman Mbah Kakung Suroyo usai saat adzan dzuhur berkumandang. Kevin pun berpamitan ke keluarga besar Nina. Nina mengantar Kevin sampai pingir jalan.
"Makasih ya Mas. " Kata Nina.
"Sama-sama. Aku pulang dulu ya? "
"Iya Mas. Sekalian izin untuk cuti beberapa hari ini ya Mas. " Masih terlihat kesedihan di wajah Nina.
"Iya nggak pa-pa. Aku pergi dulu. Bye! "
Kevin meninggalkan rumah duka itu. Melihat Kevin telah jauh, Nina pun memasuki rumah kembali. Pelayat dari saudara maupun tetangga juga masih banyak. Nina pun menyalami semua tamu.
Sedangkan Ibu-ibu tetangga terdekat mulai memasak untuk menjamu jamaah tahlil nanti malam. Umumnya setiap malam akan diadakan tahlil singkat dari bapak-bapak guna mendoakan Almarhum sampai tujuh hari. Dan di malam ke tujuh biasanya yang datang semakin banyak, karena sanak saudara jauh di undang untuk turut mendoakan.
"Temanmu sudah pulang Nin? " Tanya Pakdhe Bandi ketika melihat Nina duduk di kursi panjang depan rumah. Dan beliau pun ikut duduk di sana mengobrol dengan keponakannya itu.
__ADS_1
"Sudah Pakdhe. " Jawab Nina.
"Jadi itu yang di ceritakan ibumu semalem Nin? " Tanya Pakdhe dengan selidik. Pakdhe Bandi adalah kakak kandung dari bapaknya Nina.
"Memang Ibuk cerita apa Pakdhe? " Tanya Nina penasaran.
Pakdhe Bandi menghela nafas sejenak.
"Semalam sebelum Mbah kakung kritis. Ibumu dan Tiara disini. Mbah Kakung menanyakan keberadaanmu. Dan Ibumu bilang kamu tengah kerja dikota." Pakdhe menjeda kalimatnya sebentar.
"Mbah Kakung menginginkan kamu segera menikah Nin. Dan Ibumu bilang kamu tengah dekat dengan teman kerja kamu. Pakdhe lihat orangnya cukup santun dan dewasa." Kata Pakdhe Bandi hati-hati.
"Iya memang Pakdhe. Tapi Nina baru saja dapat kerja Pakdhe. Uang Nina juga belum banyak. Apa kata orang nanti, kalau baru kerja sudah menikah. " Kata Nina dengan tatapan kosong ke depan.
"Kenapa harus dengar kata orang Nin. Yang menjalani kan kamu. Kalau kamu nyaman ya sudah jalanin aja. Pakdhe, sebagai pengganti bapak kamu. Akan mendukung semua keputusan kamu. Dan itu merupakan wasiat dari Mbah Kakung Nin. " Pakdhe Bandi menepuk pelan pundak Nina. Dan melangkah masuk rumah. Membiarkan Nina sendirian.
__ADS_1
Karena tidak ada teman di luar Nina memutuskan masuk ke dapur, dimana para ibu-ibu tengah mempersiapkan menu untuk nanti malam. Nina ikut bergabung dengan mereka.
"Ini Nina? Ya Allah, sudah jadi anak perawan sekarang ya? " Seru salah satu Ibu yang se umuran dengan ibunya.
"Iya bu. Baru lulus sekolah ini. " Jawab Nina.
"Di kota kerja apa Nduk? " Tanya ibu itu lagi.
"Di Restoran ayahnya Clara Bu. Teman sekolah Nina. " Jawab Nina.
"Oalah, iya semoga betah ya Nduk. Jaman sekarang cari kerja susah. Itu kamu baru lulus udah langsung kerja. " Puji Beliau.
"Alhamdulillah Bu Warno. Lumayan bisa bantu-bantu Ibu. Kasihan kalau cuma Ibu saja yang kerja. "
Sudah tidak ada obrolan lagi. Masakan yang sudah matang di tiriskan di dalam wadah besar. Yang nantinya akan di tata di piring bersama nasinya.
__ADS_1
Ibu-ibu yang tadi membantu pun sudah pulang. Nanti mereka akan kembali lagi ba'da Magrib guna menata lauk dan nasi di piring. Begitulah hidup di desa, semangat gotong royongnya luar biasa. Setiap ada tetangga yang kena musibah atau hajatan, tanpa di komando semua akan berkumpul.