Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
BAB 75


__ADS_3

Kevin menatap langit-langit kamarnya. Dia memikirkan ucapan ibunya. Sudah sejak lama ibunya menginginkan dia untuk segera menikah. Apalagi semenjak putus dengan Laras, dia seperti trauma untuk sebuah acara lamaran.


Tring,,,,, Kevin melihat ponselnya ada notifikasi, ternyata pesan dari Nina.


[Mas, udah tidur? ]


[Belum. Kamu juga belum tidur? Besok full lagi lo.]


[Mbak Wati udah sehat kok. Besok aku mau ijin pulang Mas. ]


[Kenapa? Mau ku antar? ]


[Mbah kakung ku sakit. ]


[Rumahnya mana? ]


[Desa sebelah rumahku Mas. ]


[Aku antar ya? Nggak tega ngeliat pulang sendirian.]


[Ya udah kalau maksa. Hehe]


[Senengnya di paksa ya? ]


Tidak ada balasan mungkin Nina sudah tidur. Hari ini dia kerjanya full walaupun restoran tidak begitu ramai. Kevin pun akhirnya terlelap.


...****************...


"Vin, nanti tolong antar dagangan ibu ke pasar ya? " Pinta Bu Burhan.

__ADS_1


"Maaf bu, hari ini nggak bisa. Mau nganter Nina pulang. " Jawab Kevin sambil meneguk air.


"Ouh, kenapa kok pulang? Kemarin baru pulang? " Tanya Bu Burhan.


"Kakeknya sakit bu. "


"Parah to Vin? Kok sampai Nina pulang? "


"Nggak tau bu, semalem Nina cuma bilang izin pulang karena kakeknya sakit gitu aja. Trus aku nawarin buat nganter dia akhirnya mau. " Jelas Kevin panjang lebar.


"Ya udah, kamu hati-hati. Biar nanti dagangan ibu di anter Lek Imin pakai becak. "


"Nanti bapak antar juga nggak papa bu. Habjs siangan dikit. "


"Nggak usah Pak. Nanti bapak masih harus ngurusin ayam-ayam. Ntar malah kesiangan, nggak jadi kejual dagangannya. " Tolak Bu Burhan.


Pak Burhan memang memelihara cukup banyak ayam. Bisa di bilang peternak kecil-kecilan. Sejenis ayam jawa super (Joper). Beliau memanfaatkan sebidang tanah di belakang rumahnya untuk membuat kandang. Kandang ayamnya dibuat bertingkat, agar memuat ayam banyak.


"Kalau mengantar Nina kamu pakek motor siaps Vin? " Tanya Pak Burhan. Kerena motor Kevin saat ini termasuk motor tua. Tidak bisa untuk perjalanan jauh. Bisa ambrol mesinnya.


"Pinjem motor temen Pak. Tenang saja. "


"Ya sudah hati-hati ya! "


Kevin pun bergegas berangkat je restoran dulu untuk izin tidak masuk. Dan meminta Bayu untuk menggantikannya. Bayu pun menyanggupinya. Lantas Kevin berjalan ke parkiran untuk menunggu kedatangan Agus. Biasanya kalau bepergian agak jauh, Kevin meminjam motor Agus.


"Ngapain loe berdiri kaya patung disitu? " Tanya Agus memarkir motornya.


"Pinjem motor loe Gus. " Kata Kevin

__ADS_1


"Mau kemana loe? " Tanya Agus.


"Nganter Nina pulang, Mbah kakungnya sakit katanya. "


"Ya udah ni kuncinya. Ati-ati. Bensin full nggak usah di isi. " Kata Agus.


" Ok makasih. " Kevin pun menerima kunci motor itu.


[Mas, dimana? ] Ada pesan dari Nina. Kevin pun menelepon Nina.


Tut Tut Tutttttt


[Halo Nin. Aku udah di parkiran. Kamu kesini ya? ]


[Ok. Mas. ]


[Jangan lupa pinjem helmnya Wati. Tadi buru-buru berangkatnya. Jadi nggak sempet bawa helm. ]


[Ok. Siap]


Kevin pun mematikan telfonnya. Begitupun dengan, dia pulang lalu membawa tas selempangnya. Juga jaket untuk menghindari teriknya matahari.


"Mbak Wat, aku pergi dulu ya. Maaf bikin Mbak Wati lembur lagi." Kata Ninq berpamitan ke Wati.


"Iya tenang aja Nin, lagian kalau lembur uangku juga yang banyak. Hehe. " Jawab Wati.


"Oke deh, Ya udah aku berangkat Mbak. Pinjem helm sekalian" Kata Nina.


"Oke, itu di atas lemari helmnya. " Tunjuk Wati.

__ADS_1


Nina pun mengambil helm dan segera menuju parkiran.


__ADS_2