
Pov Nina
Tepat saat iqomah berkumandang kami sampai di mushola depan rumah Mas Kevin. Parcel buah yang tadi kubeli kuletakkan di motor lalu aku bergegas mengambil air wudhu dan ikut shalat berjamaah di mushola itu.
Jama'ah mulai berdatangan, kulihat juga ibunya Mas Kevin berjalan menuju mushola. Setelah berwudhu aku meminjam mukena yang di sediakan di mushola. Lalu membuat shaf di urutan nomor tiga. Aku mengikuti shalat berjamaah dengan khusyu'.
"Sudah datang ternyata. " Setelah salam aku baru menyadari kalau aku satu shaf dengan ibunya Mas Kevin. Beliau tepat berada di sebelah kiriku.
"Iya bu. " Lalu kusalami beliau dan ku cium tangannya. Seperti Mas Kevin bertemu ibuku. Beliau menyambutnya dengan senang, dan mengelus kepalaku.
Ibunya Mas Kevin melanjutkan dzikir bersama, aku pun sama. Setelah dzikir di lanjutkan dengan doa. Aku melipat mukena dan menuju motor Mas Kevin. Ku rapikan pashminaku yang sedikit berantakan.
Di acara lamaran adiknya Mas Kevin ini aku memakai gamis marun pemberian mamanya Clara dan pashmina yang dibelikan Mas Kevin. Kebetulan yang sangat menguntungkan, ternyata pashmina yang dibelikan Mas Kevin juga berwarna marun tapi agak gelap. Masih cocok dengan gamis yang ku kenakan.
"Sudah Nin.? " Tanya Mas Kevin yang ternyata sudah menunggu di motornya.
"Sudah Mas. Ayo! " Kataku.
__ADS_1
"Kok nggak sabaran amat. " Katanya meledek. Aku mendelik pura-pura marah, dan dia malah semakin terbahak.
****
pov Kevin
Sore itu setelah sekian lama aku tidak pernah membawa seorang perempuan ke rumah menemui bapak dan ibuku setelah Laras, akhirnya ku beranikan diri membawa Nina ke rumah. Itupun atas permintaan ibuku dalam rangka acara lamaran adikku, Indah.
Malam itu Nina memakai baju berwarna merah, dan jilbab yang aku berikan. Benar dugaanku dia terlihat dewasa dan cantik ketika berjilbab. Aku sampai tak berkedip melihatnya.
"Sini masuk Nak! " Sambut ibuku ramah ketika aku dan Nina sampai di teras rumahku. Begitulah ibu, bahagia ketika aku membawa seorang wanita berkunjung ke rumah.
"Ini ada sedikit bingkisan bu. " Kata Nina menyerahkan parcel yang dibawanya tadi.
"Kok repot-repot Nak. Kamu mau singgah kerumah ibu saja ibu sudah senang sekali. " Kata ibu dengan raut wajah berbinar.
"Sama sekali tidak repot bu. "
__ADS_1
"Ayo sini Nina, ibu kenalkan dengan keluarga besar ibu. " Ibu tiba-tiba mengamit tangan Nina dan berjalan masuk ke rumah. Nina mengangguk dan mengikuti langkah ibu. Sedangkan aku mengikuti di belakang mereka.
"Ini Awan, masnya Kevin, dia anakku yang pertama. Dan itu istrinya Siti, mereka tinggal di kabupaten sebelah. Yang kedua ini Umi, mbaknya Kevin juga. Dan ini suaminya Ipul, mereka tinggal di kecamatan sebelah Nak. Ini Indah yang mau tunangan. Dan itu Hanny anak bungsu Ibu. " Ibu menjelaskan panjang lebar. Dan Nina menyalami satu persatu keluarga besarku.
"Siapa ini cantik sekali. " Bapak yang sedari tadi tidak ada muncul dari ruang belakang.
"Calon mantu Pak. " Celetuk Mas Ipul. Semua tertawa. Memang menantu bapak yang satu ini sangat humoris. Seperti oase di padang pasir. Karena keluargaku semua pendiam. Kecuali Ibu dan adik bungsuku Hanny, mereka lebih banyak bicara. Tapi tak sehumoris Mas Ipul.
"Nina Pak. " Nina pun menyalami bapak dan mencium tangannya.
"Barakallah. " Bapak menyambut uluran tangan Nina. Beliu juga tampak bahagia tapi tidak begitu kentara.
"Oh ya, Ini cucu Ibu Nin. Anaknya Mbak Umi" Ibu memperkenalkan dua cucunya. Yaitu Azizah dan Ahmad.
Ibu baru memiliki cucu dari Mbk Umi dan Mas Ipul. Mas Awan dan Mbak Siti belum memberikan cucu dalam keluarga ini. Sebenarnya sudah empat tahun mereka menikah, akan tetapi belum dikaruniai anak.
"Azizah Mbak. " Azizah yang pada dasarnya periang menyalami Nina dan mencium tangannya.
__ADS_1
"Hay, kamu cantik sekali. " Nina menyambutnya dengan senyum dan mencium pipi gembulnya. Azizah masih TK tapi badannya tinggi dan gemuk seperti anak SD.
"Panggilnya tante, dik. Itu calon istrinya Om Kevin. " Lagi-lagi mas Ipul berceloteh membuat kita semua tertawa. Sedangkan Nina tersipu.