Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
Sederhana Tapi Menawan


__ADS_3

Pov Nina


Allahu Akbar!!


Allahu Akbar!!


Terdengar lantunan Adzan dari mushola terdekat. Samar-samar terdengar gemericik air dari kamar mandi. Ternyata Mbak Wati sudah bangun. Dia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.


"Mandi sekalian to Mbak?"


"Iya Nin, biar nggak mandi dua kali. Ngirit air." Candanya.


"Ehm, ada-ada aja."


"Beneran loh, ya udah buruan gih, hapus belekmu." Katanya sambil berlalu.


"Hehe, Ok Mbak."


Tak mengulur waktu lebih lama lagi, aku segera memasuki kamar mandi. Aku mau mandi sekalian. Bener kata Mbak Wati, mandi sekalian. Selain ngirit, juga sangat menyegarkan. Walaupun mandi sepagi ini, badan sama sekali tak merasa dingin. Berbeda kalau di desa, mandi udah jam tujuh pun rasanya menggigil kedinginan.


"Belum selesai Nin? Kamu mandi sekalian juga." Teriak Mbak Wati dari luar kamar agar aku kedengeran.


"Iya Mbak. Bentar lagi." Jawabku dengan berteriak juga.


Secepatnya ku selesaikan mandi pagiku. Eh, salah! Mandi subuhku maksudnya. Air yang awalnya terasa hangat berubah menjadi dingin. Bibir pun bergetar saking dinginnya.


Aku keluar dari kamar mandi ternyata Mbak Wati sudah nggak ada. Ku ganti bajuku dengan kaos lalu memakai celana jeans seoerti biasa. Kemungkinan Mbak Wati sudah nangkring di dapur menyeduh kopi kesukaannya.

__ADS_1


"Ini rotinya Mbak!" Semalam ketika di supermarket Aku membeli roti tawar. Nggak enak juga kalau di kasih terus sama Mbak Wati


"Kamu beli sendiri Nin?" Katanya sambil menyodorkan segelas kopi yang masih mengepul asapnya.


"Iya Mbak. Kan ada uang bonus. Makan punyaku dulu Mbak ya? Gantian." Tawarku kepadanya.


"Ok. Oh ya, kado di meja kamar itu apa Nin?"


" Ya ampun Mbak, aku sampai lupa. Itu kado dari Mas Kevin."


"Cie, jadi Kevin nembak kamu ceritanya?" Ledek Mbak Wati.


"Nggak nembak Mbak, cuma mengungkapkan perasaan." Jawabku


"Sama aja Nin. Ya udah bawa sini, aku bantu buka."


"Kira-kira isinya apa ya Mbak?" Kataku ketika aku sudah kembali ke meja dapur lagi.


"Makanya buka Nin, Aku sendiri juga nggak tahu."


Akhirnya aku membuka bungkusan plastiknya. Ternyata di dalamnya ada benda yang di bungkus kertas kado warna pink. Hemzz, Mas Kevin ada-ada saja.


"Jilbab Mbak." Kataku setelah mengeluarkannya dari kertas kado.


"Ada suratnya nggak?" Mbak Wati tidak mengamati jilbab yang aku bentangkan malah nanya surat.


"Kok malah nanyanya surat sih Mbak?" Cebikku.

__ADS_1


"Ya, kan kamu nggak berjilbab. Kok dia ngasih kadonya jilbab, pasti ada maksudnya Nin." Jelas Mbak Wati kepadaku. Ternyata ada secuil kertas yang bertuliskan


[Sederhana tapi menawan]


"Ini Mbak? Apa maksudnya ya?" Aku menyodorkan sepucuk surat itu ke Mbak Wati. Sedangkan Mbak Wati tersenyum membacanya.


"Berarti kamu disuruh berhijab sama si kulkas." Kata Mbak Wati pasti.


Aku mungkin maksudnya seperti itu. Tapi kalau untuk berjilbab sekarang aku belum siap. Belum ada pakaian yang pantas untuk berhijab. Semua baju-baju ku masih baju yang terbuka.


"Kok malah ngelamun Nin. Ayok kita mulai kerja. Semangat!!!" Mbak Wati menyemangatiku.


"Ok Mbak."


Aku pun mulai membersihkan meja-meja tamu. Hari ini belum kuputuskan berjilbab dulu. Selain karena belum ada pakaian, juga karena aku belum siap untuk berhijab.


"Pagi Nin." Sapa Mas Agus ketika baru datang.


"Pagi juga Mas."


"Tumben Kevin belum datang. Nggak ngasih kabar?"


"Ini kan masih jam 8 mas. Mas Kevin belum datang lah, biasanya juga jam 9." Kataku.


"Oh, begitu. Cieee, yang mulai perhatian." Mas Agus malah meledekku.


"Nggak gitu Mas." Aku berkata sembari senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


__ADS_2