
Pov Nina
Aku menggeliatkan tubuhku ketika terdengar Adzan Subuh berkumandang. Setelah membuka mata baru sadar kalau aku tidur di kamar Clara. Segera ku rapikan kembali selimut dan bantalku. Kulihat Clara masih nyenyak memeluk gulingnya. Aku pun menuju ke kamar mandi. Ku basuh mukaku, dan menyikat gigiku. Lalu, aku mengambil air wudhu. Keluar dari kamar mandi ternyata Clara sudah bangun dan duduk di pinggiran kasur. Kelihatan masih sangat mengantuk.
"Sorry ra, aku berisik ya?" Aku nggak enak kalau gemercik air di kamar mandi tadi mengganggu tidur Clara.
"Enggak kok Nin." Katanya sambil menguap dan mengucir rambutnya.
"Semalem tidur jam berapa Ra?" Semalam aku memang ijin ke kamar duluan.
"Jam 12 Nin. Keasyikan ngobrol sama mama."
"Aku shalat dulu ya Ra?"
"Iya, aku juga mau ke kamar mandi." Clara mengambil handuknya. Mungkin sekalian mandi.
Setelah Clara memasuki kamar mandi. Kugelar sajadahku menghadap kiblat. Ku mulai shalat subuhku. Saat salam, terdengar Clara menarik handle pintu kamar mandi. Ternyata beneran dia mandi sekalian.
"Nggak kedinginan Ra?" Tanyaku setelah melipat mukenaku.
"Pakek air anget Nin. Kamu nggak mandi sekalian?" Tanyanya kembali.
"Aku mau bantuin mamamu di dapur dulu."
__ADS_1
"Oh ya udah." Katanya di sertai anggukan.
Aku pun keluar dari kamar Clara. Dari dapur tercium bumbu yang tengah di tumis di wajan. Di sana Bu Ningsih mulai memasukkan satu persatu bahan masakannya.
"Pagi bu. Maaf Nina kesiangan." Seketika Bu Ningsih menoleh.
"Ini masih terlalu pagi Nin." Beliau menjawab dengan masih memegang alat masaknya.
"Aku bisa bantu apa Bu?" Tawarku.
"Bantuin Ibu goreng tempe bisa Nin?"
"Bisa bu." Aku mengangguk.
"Ini tepungnya Nin." Bu Ningsih memberikan adonan tepungnya kepadaku.
"Iya bu."
Kompor ku nyalakan. Lalu penggorengan ku jerang di atasnya. Sambil menunggu minyak panas. Kucelupkan tempe ke dalam adonan tepung supaya lebih meresap.
"Di goreng setengah mateng aja Nin. Nanti kalau keras Mbah kung sama Mbah Putri nggak bisa makan."
"Iya bu."
__ADS_1
****
Meja makan rumah Pak Hari sudah penuh dengan makanan. Ada sop iga, tumis cumi, tempe beserta ikan goreng. Tak lupa setoples krupuk putih tampak di pinggiran meja. Semua keluarga duduk di meja makan dengan posisi seperti semalam.
"Wah, harum sekali ini siapa yang masak." Baru mencium bau masakan Mbah Putri sudah memujinya.
"Aku bu, di bantu sama Nina." Jawab Bu Ningsih.
"Anak perempuan harus gitu,Ra.Apapun karirnya, harus bisa dapur." Mbah Putri menasehati.
"Apa untungnya Mbah?" Clara bertanya cuek.
"Ya buat nyenengin suami, buat hemat gitu. Kalau bisa masak kan nggak perlu beli sayur mateng. Lagian sayur yang di jual juga banyak penyedap, kurang bagus buat kesehatan.
"Yah,,, jadi nggak laku dong resto papa, kalau semua masak." Canda Clara.
"Ih, kamu di nasehatin kok malah gitu Ra?" Nenek merajuk.
"Iya Mbah, nanti aku bakalan belajar masak kok. Tenang aja. Semua akan indah pada waktunya." Canda Clara lagi. Sontak mereka semua tertawa. Begitupun Mbah Kakung, sampai terbatuk-batuk.
"Pelan dong kung." Mbh Putri memijit tengkuk Mbah Kakung supaya batuknya berkurang.
"Udah-udah ayo makan lagi. Ngobrolnya di lanjut nanti." Setelah meneguk air Mbah kakung melanjutkan sarapannya. Semua tampak lahap.
__ADS_1