
"Assalamu alaikum Bu Sri. " Nina mengucapkan salam tatkala melihat Bu Sri tengah duduk di kursi bagian ruang tengah. Pintu samping terbuka lebar. Jadi orang yang didalam pun terlihat.
"Waalaikum salam. Nina to?" Kata Bu Sri menjawab salam dan berjalan ke arah pintu.
"Iya bu. Ini di suruh ibu buat ngantar berkat hajatan. Diterima ya Bu. " Kata Nina menyerahkan bungkusan itu.
"Ya Allah Nin, kok repot-repot sekali. " Bu Sri menerimanya.
"Masuk dulu yuk Nin. " Lanjut beliau.
"Iya, terimakasih bu. Nina mau beli sabun ini bu. Warungnya belum buka? " Tanya Nina.
"Iya. ini juga mau buka Nin. Tunggu sebentar." Bu Sri bergegas membuka warungnya.
Nina mengikuti langkah pemilik warung itu, menunggu sampai selesai membuka. Lalu Nina memilih beberapa barang yang akan di belanjanya.
"Emang hajatan dimana tadi Nin? " Tanya Bu Sri.
"Di rumah temen Bu. "
"Temen kerja Nin? Yang nganter kamu waktu itu? " Bu Sri memberondong pertanyaan.
"Iya Bu, adiknya menikah. Trus Ibu juga dapat undangan. Jadi deh kita berdua kesana. " Jawab Nina jujur.
"Kayaknya Bu Ida bakal dapat menantu kota nih. " Canda Bu Sri.
__ADS_1
"Ya doain aja lah Bu. " Kata Nina.
"Amiin. Semoga disegerakan ya Nin. "
"Aamiin Bu. Terimakasih banyak doanya. Ini tolong di total ya Bu. " Kata Nina.
"Iya, kok beli beras segala Nin? " Kata Bu Sri.
"Iya pumpung ada rezeki Bu. Biar nanti Ibu nggak kerepotan beli beras." Kata Nina yang memang sengaja membeli kebutuhan pokok buat ibunya.
"Alhamdulillah, jarang lo anak sekarang yang mau belanjain ibunya." Puji Bu Sri tulus.
"Ehm, kan Nina udah kerja Bu. "
"Setengah aja Bu. Ibu jarang masak telur, Tiara juga alergi. " Kata Nina.
"Iya, semua seratus tiga puluh tujuh Nin. "
"Iya bu. Ini ya? " Nina menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan.
"Iya Nin, ini kembaliannya. Terimakasih banyak ya? " Kata Bu Sri berbinar, karena Nina belanja banyak dan tidak ngutang.
"Iya sama-sama bu. " Jawab Nina.
Nina pun kembali ke rumahnya dengan menenteng belanjaannya yang lumayan banyak, diantaranya beras lima kilo, minyak goreng, gula, teh, telur dan masih banyak lagi. Beruntung jarak rumahnya dekat, jadi dia tidak begitu kecapekan.
__ADS_1
"Ya Allah Nina, buat apa belanja sebanyak itu? " Tanya Bu Ida keheranan melihat anak sulungnya menenteng belanjaan di kresek merah besar.
"Ini Bu, buat stok di rumah. " Kata Nina meletakkan belanjaannya di meja teras rumah.
"Ya Allah Nduk, ibu bisa beli sendiri lo. "
"Iya, tapi Nina kan udah kerja Bu. Jadi sudah sepantasnya Nina membantu ibu. " Kata Nina tulus.
"Dengan kamu membiayai Tiara saja, Ibu sudah banyak terbantu Nin. " Kata Bu Ida.
"Iya Bu, ini di terima ya. " Kata Nina lagi.
"Iya terimakasih banyak ya Nin. " Kata Bu Ida terharu.
"Kalau belanja sebanyak ini mending ke grosir kak, lebih murah kan? " Kata Tiara yang nongol di balik pintu.
"Kalau ada tetangga yang berjualan mending kita belanjanya ke tetangga Ra, selain untuk menjalin silaturahmi, kita juga membantu perekonomian mereka. Selain itu juga, kalau kita kesusahan yang pertama kali datang juga tetangga Ra. " Nasehat Nina.
"Iya Ibu juga setuju sama kamu Nduk, jangan pas banyak uang ke grosir, terus pas ngutang ke tetangga. Itu namanya mencekik leher pedagang kecil." Tambah Bu Ida.
"Iya deh. " Kata Tiara sambil nyengir.
"Ya udah kamu siap-siap deh Nin. Keburu sore kamu kembali ke kotanya. " Kata Bu Ida.
Nina pun mengangguk. Dia mengemasi beberapa pakaian. Dan juga carier pesanan Clara. Sore nanti dia akan di jemput Kevin untuk kembali kerja di restoran Pak Hari.
__ADS_1