
Akhir pekan yang di tunggu Nina tiba. Dengan mengendarai motor matic yang ia pinjam dari Clara, ia meluncur ke desa kelahirannya. Jalanan cukup ramai walau masih pagi. Banyak orang yang healing ke suatu tempat guna melepas penat setelah 6 hari kerja.
Nina menikmati perjalanan kali ini. Rencananya dia akan libur sehari untuk menikmati kebersamaan dengan adik dan ibunya. Pak Hari juga sudah mengizinkan. Berbekal uang seratus ribu pemberian Pak Hari dia berhenti di kios buah. Dia membeli buah salak 2kg untuk oleh-oleh. Orang desa kalau pulang kampung tidak bawa oleh-oleh rasanya tidak lengkap.
***
Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam jalan yang di lalui Nina bukas jalan aspal lagi. Melainkan jalan yang sempit dan dengan dasaran batu rata yang disusun. Tandanya rumah Nina semakin dekat. Udara yang panas pun berganti dengan semilir angin sejuk. Rumah sederhana terlihat di depan mata, Nina mematikan mesin motornya.
"Assalamu alaikum." Nina memberi salam sambil memasuki rumah.
"Waalaikum salam." Bu Ida yang dari dapur melangkah ke pintu depan dan menjawab salam.
"Ibu!!!" Nina sedikit berlari dan menghambur memeluk ibunya.
"Ya Allah Nduk, ibu fikir kamu pulangnya nanti siang."
"Aku udah izin 1 hari nggak kerja bu. Oh iya, ini ada buah salak bu."
"Nggak usah beli oleh-oleh juga nggak papa Nin. Kan belum dapat gaji to?"
__ADS_1
"Itu tadi di kasih uang saku Pak Hari Bu, di luar gaji Nina."
"Ehmz, iya Nduk. Oh ya, kamu belum sarapan kan?"
"Hehe, belum bu. Kangen masakan ibu jadi sengaja nggak sarapan dulu tadi."
"Iya. Mau di masakin apa?"
"Nasi pecel aja Bu, aku bantuin. Oh ya, Tiara kemana Bu?" Nina mencari adiknya.
"Adikmu ngerjain tugas sekolah di rumah temennya yang di sebrang desa." Nina hanya manggut-manggut.
"Kenapa kompor gasnya nggak di pakek bu?" Nina tau kalau ada kompor gas bantuan dari pemerintas beserta gas yang 3kgan.
"Sayang Nin uangnya buat beli gas. Lagian kayu bakar juga banyak."
"Iya bu, tapi gas itu juga hemat, cuma 20rb kali buat 2 minggu." Nina berusaha membujuk ibunya.
"20 rb bisa buat beli bahan lauk Nin."
__ADS_1
"Ya udah terserah ibu deh."
Tak lama kemudian masakan mereka sudah matang. Pecel dengan gorengan tempe, bakwan dan tahu isi. Sederhana tapi terasa nikmat di lidah Nina.
"Buruan sarapan Nin." Bu Ida menata masakannya di meja makan.
"Iya bu."
Nina pun menyedokkan Nasi, sayuran, dan menyiramkan saos kacang ke atasnya. Iya juga mencomot tempe goreng dan bakwan. Nina makan dengan tangan tanpa sendok. Memang orang desa seperti itu, terasa nikmat jika makan langsung dengan tangan.
"Mantap banget bu."
"Memang disana nggak pernah makan pecel?" Tanya ibunya.
"Nggak bu, paling sarapan sama tumis, kalau nggak gitu sama sayur. Jarang banget bikin pecel. Ribet bikin sambelnya bu."
"Nanti tak bawain bubuk sambalnya Nin. Jadi kamu nanti tinggal nyeduh aja."
"Iya bu. Makasih banyak."
__ADS_1
Nina pun menghabiskan sarapannya. Lalu dia mencuci piring dan membantu ibunya membersihkan meja makan. Karena di dalam rumah cukup gerah. Akhirnya , dia menuju ke teras sembari menunggu adiknya pulang. Angin semilir menerpa rambutnya, entah kekenyangan atau memang kecapean, Nina terlelap di atas dipan teras rumahnya.