Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
Mbak Wati Marah


__ADS_3

"Udah nggak usah dilihatin. Ntar si Atikah makin dempet. Cuek aja. " Mbak Wati sepertinya mengamati juga.


"Ini juga udah tak biarin Mbak, hehe. " Aku mencoba menghibur hatiku sendiri.


"Sabar! " Mbak Wati mengelus pundakku.


Aku hanya mengangguk. Tak terasa air mata yang daritadi kutahan akhirnya luruh juga. Aku benci dengan pemandangan ini, Aku benci dengan sikap Mas Kevin yang egois. Ya Allah, perasaan apa ini. Kupegangi ulu hatiku, semakin ku coba menepis semua perasaan kecewa. Maka, dada ini semakin nyeri rasanya.


"Ini Nin." Mas Agus tiba-tiba dari arah samping menyerahkan dua ekor ikan bakar untuk ku garnish. Aku kaget dibuatnya.


"Loe kenapa? " Tanyanya, karena spontan tangan ini menghapus air mata yang sempat menetes.


"Nggak papa Mas. " Jawabku menahan tangis.


Kemudian ku lihat Mas Agus melirik ke arah Mas Kevin. Disana Atikah masih asyik ngobrol, dan semakin kesini ku dengar gelak tawa mereka berdua. Mas Agus menghela nafas.

__ADS_1


"Heehh. Udah, ntar gue bilangin Kevin. Loe tenang aja! " Katanya menenangkanku.


"Yeee, Kenapa musti Mas Kevin di bilangin? " Aku mencoba bercanda.


"Tanpa loe beritahu gue udah tahu Nin. Lagian tuh anak, udah setua itu masih kayak bayi. Bukannya bicara baik-baik malah nambah masalah. Umurnya aja yang nambah. tapi pikirannya kaya ABG labil. " Umpat Mas Agus.


"Hehehe. " Aku malah terkikik mendengar umpatan Mas Agus.


"Kenapa loe, malah cengengesan! " Mas Agus tampak geram.


Lalu Mas Agus melenggang pergi meninggalkan baseku. Sebenarnya Mas Kevin tahu kalau Mas Agus lagi menghiburka. Walaupun ngobrolnya dengan Mbak Atikah, tapi pandangan matanya tertuju ke arahku. Aku juga heran, Mbak Atika apa nggak menyadari itu. Dia kok kelihatan nyaman ngobrol dengan orang yang fokusnya bukan ke dia. Apa mereka berdua kong kalikong buat bikin panas hatiku? Entahlah hanya mereka berdua yang tahu.


"Aduh, sakit Gus! " Pekik Mbak Atikah sampai terdengar keseluruh penjuru. Ku pikir Mas Agus tadi kembali ke base bakaran, ternyata ke kasir dan ternyata sengaja menyenggol Mbak Atikah sampai terjatuh.


"Lagian jam kerja loe malah ngobrol di sini. " Mas Agus menatap Mbak Atikah dengan tajam.

__ADS_1


"Loe juga Vin, senior malah nggak bikin contoh yang baik buat junior loe. " Mas Agus gantian menatap Mas Kevin dengan tatapan tak kalah tajam.


"Apaan sih loe. ".Mas Kevin juga kelihatan marah. Mungkin karena Mas Agus yang tiba-tiba mengganggu kegiatan ngobrolnya yang mengasyikan.


"Profesional bro! " Lantang Mas Agus sembari menepuk pundak Mas Kevin.


Mbak Atikah kembali ke base. Mungkin dia takut dengan teguran Mas Agus. Dan Mas Kevin juga tak membelanya. Dia melewati baseku dan menatapku dengan tajam. Apa coba maksudnya.


"Brengsek loe! " Bisiknya di telingaku. Bukan bisikan sih, lebih tepatnya sedikit teriakan. Karena Mbak Wati pun dengar.


"Ngapain loe ngatain Nina kayak gitu? " Benar dugaanku, Mbak Wati pasti malah yang ribut kalau aku berurusan dengan Mbak Atikah.


"Temen loe tu, tukang ngadu. Sengaja kan loe bilang sama Agus kalau gue lagi ngobrol sama Mas Kevin? " Mbak Atikah menunjuk-nunjuk tepat di depan mataku.


"Jangan salah paham loe, tadi si Agus ngantar gurami bakar yang mau di garnish. Dan lihat loe asyik ngobrol sama Mas Kevin. Ya wajar dong, kalau Mas Agus negur loe. Lagian tahu masih jam kerja. Sempet-sempetnya loe ngobrol kya gitu. Profesional dikit donk." Suasana semakin memanas dan Mbak Wati menggebrak meja.

__ADS_1


Semua menuju ke arah dapur, Mbak Anggi yang tadinya santai di base penggorengan pun ikut berkumpul. Entah apa yang terjadi selanjutnya.


__ADS_2