
Sesampainya di parkiran restoran Kevin sengaja menderu-deru kan suara motornya. Suara yang keras mengundang perhatian banyak orang, terutama kawan kerjanya yang free.
"Berisik tahu Mas, kalau Pak Hari ada di dalam gimana coba? " Kata Nina.
"Nggak ada Nin, mobilnya juga nggak ada. " Jawab Kevin dengan santainya.
"Woy, berisik. Mentang-mentang habis kencan. " Teriak Agus masuk ke area parkir.
"Tuh, loe tahu.Ni bagi ke temen-temen. " Kata Kevin menyodorkan bungkusan jagung bakar ke Agus.
"Loe di ajak kencan kemana Nin? Kok bawaanya jagung? " Tanya Agus.
"Alon-Alon. Kenapa Mas? " Jawab Nina jujur.
"Hahaha, gila loe Vin. Hari gini ngajak anak orang kencan ke alon-alon." Sindir Agus.
"La trus mau kemana? Ke diskotik kaya loe? " Tanya Kevin dengan bercanda.
"Ya nonton kek. Apa ke Mall terdekat tuh kan ada. " Kata Agus.
"Ngapain ribet perkara kencan sih? Emang aku kok yang ngajak ke alon-alon. " Kata Nina menengahi.
"Mbak Wati kemana Mas Agus? " Tanya Nina.
"Wati sore ini off. Dia pusing kayak e." Kata Agus.
"Ya ampun, trus pulang Mas? " Tanya Nina.
__ADS_1
"Enggak, istirahat di kamar. Buruan liyatin Nin. Kamu kan sohibnya. "
"Ok. Mas Kevin, aku masuk dulu ya. Terimakasih buat hari ini. " Kata Nina.
"Ok. Cepet rehat. " Kata Kevin.
Nina pun meninggalkan Kevin dan Agus di parkiran, dia sedikit berlari ke kamar Wati. Selama ini Wati jarang sakit, wajar Nina sebegitu khawatirnya.
"Ya Allah Mbak, sakit apa? " Begitu membuka pintu Nina terkejut dengan keadaan Wati yang berbaring dengan keadaan pucat.
"Demam Nin. Gila ternyata gue selemah ini sekarang. " Kata Wati sambil memegangi keningnya.
"Ya Allah Mbak. Lagian Mbak Wati juga jarang libur, malah kebanyakan lembur lo. " Kata Nina.
"Kalau aku libur, otomtis gaji aku berkurang Nin. "
"Belum mikir kesitu Nin. Ini buat nebus rumah ibu. "
"Loh, emang kenapa? " Nina mengorek informasi.
"Sertifikatnya di gadaikan sama bapak. Trus kabur sama selingkuhannya. Lha ibu ku di tinggalin hutang banyak. " Keluh Wati. Baru kali ini dia curhat.
"Ya Allah sabar ya Mbak. Maaf kalau aku lancang bertanya. " Kata Nina tak enak hati.
"Nggak apa Nin. Malah aku sekarang seneng ada teman curhat! " Kata Wati dengan tersenyum.
Nina pun memeluk Wati untuk memberi kekuatan. Nina pikir hanya Nina yang kurang beruntung di dunia ini. Ternyata ada yang lebih tertekan batinnya selain dia.
__ADS_1
"Eh, Nin. Kamu tadi ke hajatan nggak ke inget aku? Nggak di bawain makanan gitu?" Wati memecah keheningan.
"Acaranya prasmanan Mbak. Lagian kalau tak bawain dari tadi siang juga pasti basi." Kata Nina.
"Ya udah sebagai gantinya, Mbak Wati pengen makan apa? " Tawar Nina.
"Pengen nasi padang sebrang jalan Nin!" Rengek Wati.
"Ya udah, aku tak ganti baju dulu Mbak. " Kata Nina.
"Ok. "
Nina pun mengganti bajunya dan ke kamar mandi. Dia membasuh muka dan menghapus make up tipis di wajahnya.
"Nin ini uangnya! " Kata Wati.
"Ini aja Mbak. Jarang-jarang lo aku mau traktir. " Canda Nina.
"Eh, beneran. Pakek ini aja Nina. " Kata Wati lagi sambil mencoba bangun.
"Eh, nggak usah. Beneran Mbak, nasi padang mah kecil. " .
"Hemzz, sombong! Mentang-mentang habis naik gaji. " Canda Wati juga.
"Iya dong. Ya udah aku tinggal dulu ya. " Kata Nina pamit.
"Oke. Makasih Nin. " Kata Wati lemah.
__ADS_1
Nina tersenyum dan mengangguk sambil menutup daun pintu dari luar.