Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
BAB 73


__ADS_3

Nina terkikik mendengar Kevin memanggilnya sayang terdengar kaku dan gugup. Begitu pun Kevin mengusap belakang kepalanya supaya lebih rileks. Mereka berdua bertatapan sesaat dan sama-sama mengulum senyum malu.r


"Nin, mana minumnya. " Teriak Agus ketika berjalan mendekati meja kasir, bermaksud langsung mengambil minuman pesanan pengunjung. Akan tetapi yang ada baki kosong.


"Eh, sorry Mas Agus. " Nina pun berlari menuju base minuman.


"Gila lu Vin, ini jam kerja malah ngajakin Nina pacaran! " Agus pura-pura memaki Kevin setelah Nina ke dapur.


"Kesempatan Gus! " Kata Kevin.


"Udah berani di depan umum ceritanya? " Goda Agus.


"Kan elu yang ngajarin Gus. " Kata Kevin cuek.


"Mas, ini! " Nina menyodorkan baki yang berisi penuh minuman.


"Iya, cepet kembali ke base mu Nin. " Kata Agus.


"Kenapa Mas? " Tanya Nina bingung.


"Ntar Kevin nggak fokus kerja. " Katanya dengan berlari menghindari tatapan tajam dari Kevin.

__ADS_1


"Ouh. Hehe! " Nina terkikik sambil menutup mulutnya.


"Aku ke dapur dulu ya Mas. Jangan Kangen."Kata Nina menggoda Kevin lagi.


"Iya. Semangat! "


Nina pun kembali ke dapur dengan wajah yang bersemu merah. Wati dan Atikah memperhatikan wajah Nina yang tampak ceria dan tersenyum.


"Emang ya, kalau lagi jatuh cinta, orang berjejer disini juga nggak bakalan nampak." Canda Wati.


"Hehe, apaan sih Mbak? " Nina memeluk sahabatnya.


"Doain Mbak, tahun depan ya? " Kata Nina tanpa merasa curiga dengan kebaikan Atikah yang tiba-tiba. Sedangkan Wati membaca bahasa tubuh Atikah yang mencurigakan. Tapi untuk sementara Wati diam saja, dia takut malah di kira provokasi.


"Iya. Amiin. " Jawab Atikah terdengar cuek.


****


Di rumah Pak Burhan


Suasana di rumah Pak Burhan kini sepi. Aris dan Indah sudah menempati rumah baru mereka. Putra sulung dan anak keduanya juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Si bungsu juga ada tugas magang dari kampusnya, tinggallah berdua dengan sang istri di rumah. Karena Kevin pun tengah bekerja.

__ADS_1


"Baru kemarin ya Pak, anak cucu berkumpul. Rumah serasa hidup. Ada teman di ajak ngobrol. Sekarang udah pada sibuk dengan kegiatan masing-masing. " Keluh Bu Burhan sembari meletakkan secangkir teh di meja depan suaminya yang tengah duduk sambil membaca Qur'an. Beliau baru saja pulang dari Mushola menunaikan ibadah shalat Magrib.


"Ya sabar bu, anak-anak juga bosen kalau di rumah terus. Biarkan mereka mengurus keluarga. Menggapai cita-cita dan bekerja untuk mengidupi keluarganya kelak. " Pak Burhan terlihat berwibawa saat menasehati istrinya.


"Coba kalau Kevin menikah barengan sama Indah kemarin Pak. Pasti saat ini Nina disini, menemani ibu yang sudah tua ini. "


"Kan tahun depan bu. Sesuai perjanjian dengan Nina kemarin. Kasihan Nina kalau di tekan. Dia masih remaja bu. Baru juga duapuluh tahun. Masih menikmati masa-masa kegadisannya. "


"Ibu takut umur ibu nggak panjang pak. Takut nggak bisa melihat anak-anak kita berkeluarga. " Bu Burhan tampak sangat sedih dan menunduk lesu di samping suaminya.


"Umur memang tidak ada yang tahu Bu. Tapi kita berdoa saja, semoga kita di panjangkan umurnya. Dan bisa melihat anak-anak kita sukses semua. " Pak Burhan menatap dalam istrinya. Seseorang yang telah menaninya dari nol, dari beliau tidak punya apa-apa, dan sekarang terwujud cita-citanya memiliju kios. Cukup untuk membiayai keluarga, dan sekolah kelima anaknya.


"Iya Pak. Menurut bapak, Nina itu anaknya gimana? " Tanya Bu Burhan meminta pendapat tentang Nina ke suaminya.


"Ya menurutku dia anaknya periang, santun, dan bisa menyesuaikan dengan orang baru. Cocoklah dengan Kevin yang pendiam. " Itu pendapat Pak Burhan.


"Iya pak, mudah-mudahan mereka berdua berjodoh dunia akhirat. " Harapan Bu Burhan.


"Amiin bu. "


Beliau berdua akhirnya menunggu Isya' tiba dengan bertadzarus Al-Qur'an.

__ADS_1


__ADS_2