Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
Tantangan Dari Agus


__ADS_3

Terik matahari mulai menembus bumi. Masih hangat belum terlalu panas untuk beraktivitas. Lalu lalang kendaraan juga mulai reda. Jam kantor, jam sekolah sudah di mulai. Jadi, aktivitas lalu lintas mulai lenggang. Sementara itu, Kevin masih menikmati sarapannya. Sepiring nasi goreng pedas terhidang di meja.


"Belum berangkat, Vin?" Tanya Pak Burhan.


"Belum Pak, sebentar lagi." Jawab Kevin.


"Kedua adikmu sudah berangkat?"


"Sudah mungkin, dari tadi nggak kelihatan. Ada apa Pak?" Tanya Kevin.


"Bapak mau ke pasar, bantuin ibumu jualan. Tapi sama sekali nggak ada kendaraan." Keluh Pak Burhan.


"Bareng Kevin aja Pak. Seperempat jam lagi berangkat." Tawar Kevin.


"Ya sudah selesaikan makanmu dulu. Bapak tak siap-siap." Pak Burhan meninggalkan meja makan itu.


Tak lama kemudian Pak Burhan di bonceng Kevin berangkat ke pasar untuk membantu istrinya jualan. Di pasar itu istrinya berjualan beraneka ragam sayuran. Kiosnya memang tidak terlalu besar, tapi barangnya lengkap. Jadi banyak pembeli yang tertarik. Jika yang menunggui hanya satu orang, akan kewalahan jika pembelinya mulai banyak. Maka dari itu, setiap hari Pak Burhan membantu istrinya.


"Kok baru datang Pak?" Baru saja Pak Burhan turun dari motor sudah kena omelan.


"Iya, di rumah nggak ada motor." Jawab Pak Burhan.


"Nggak mampir dulu Vin?" Bu Burhan memanggil Kevin.


"Nggak Bu, udah kesiangan banget ini. Kevin berangkat dulu." Kevin menyalami kedua orang tuanya.


"Hati-hati."


****

__ADS_1


SesampainyaKevin di restoran ternyata sudah ramai. Kevin pun segera ke meja kerjanya. Ada tiga orang yang bersiap membayar. Dengan segera Kevin melayani pengunjung itu.


"Dari mana aja loe Vin? Tumben telat." Kata Agus.


"Nganter Bapak ke pasar dulu." Jelas Kevin.


"Tumben minta dianter sama loe?"


"Iya, soalnya Hanny ada kuliah pagi. Nggak bisa nganter." Jawab Kevin.


"Kapan Hanny lulus Vin?" Tanya Agus cengar-cengir.


"Emang kenapa?" Kevin mendelik.


"Mau gue lamar lah!" Jawab Agus dengan PDnya.


"Belum tentu dia mau."


"Kata ku lahh." Canda Kevin.


"Alah, palingan loe takut di langkahin Hanny." Ejek Agus.


"Ngapain takut." Elak Kevin


"Buktinya ampe sekarang belum ada gandengan." Agus terus mengejek Kevin.


"Kalaupun punya gandengan, juga nggak bakalan koar-koar kayak loe kali."


"Ok, deal ya. Kalau jangka satu bulan loe nggak dapat gandengan. Gue bakalan duluan lamar si Hanny." Tantang Agus.

__ADS_1


"Ok, deal." Kevin pun menerima tantangan Agus. Mereka berjabat tangan selayaknya duel beneran.


Obrolan mereka berhenti ketika banyak pengunjung yang datang. Disaat sibuk seperti itu, Kevin masih sempat-sempatnya mencari keberadaan Nina. Dia berjalan ke dapur dengan alasan membikin kopi.


"Wat, kopi hitam cangkir satu. Gulanya dikit." Teriak Kevin ke Wati yang ada di base minuman.


"Bikin sendiri ya Mas. Ada pesanan jus ini" Kata Wati.


"Ok."


Kevin sengaja berjalan dengan pelan dan memperhatikan ketika melewati base Nina. Merasa di perhatikan Nina pun menoleh dan tersenyum. Kevin di buat salah tingkah dengan senyuman Nina. Sampai dia tidak menyadari menabrak seseorang.


"Aduh!" Pekik Atikah.


"Ya ampun. Sorry Tik." Kata Kevin membantu berdiri.


"Nggak papa Mas." Atikah malah senyam senyum.


"Seneng tuh di tabrak." Celetuk Wati.


"Apaan sih Wat? Sirik aja." Kata Atikah.


"Udah, kok jadi ribut sih." Kevin meminimalisir keributan.


"Dia yang mulai." Tunjuk Atikah ke Wati. Wati mencebik kesal.


Nina hanya tersenyum memandang. Dia sendiri juga bingung, gara-gara menatapnya terlalu lama, sampai-sampai kevin menabrak Atikah.


"Mana kopinya Wat?"

__ADS_1


"Ini mas, ini gulanya. Tunggu airnya mendidih." Kata Wati.


Kevin pun mulao meracik kopinya. Kopi cangkir pahit dengan sedikit gula. Tadi pagi belun sempat menyeruput kopi. Karene keburu mengantar Bapaknya.


__ADS_2