
Pov Nina.
Acara lamaran Indah selesai cukup malam. Jam sepuluh lebih. Sebelum pulang aku membantu keluarga Mas Kevin untuk bersih-bersih. Sebenarnya mereka semua menyuruhku duduk saja. Tapi aku merasa risih.
Hampir satu jam aku bersih-bersih, kemudian aku minta di antar ke restoran sama Mas Kevin. Saat aku berpamitan, ibunya Mas Kevin membawakan satu kantong kresek besar, berisi makanan dan jajanan tradisional. Aku sudah menolak, tapi beliau memaksa. Akhirnya kubawa ke restoran kresek itu. Lumayanlah, buat bangunin Mbak Wati, pikirku.
Tok Tok tok
Pintu ku ketuk, tak lama ada sahutan dari dalam.
"Eh, Nina. Tak pikir kamu pulangnya besok. Kenapa malam sekali? " Tanya Mbak Wati.
"Sini deh Mbak duduk dulu. " Aku menarik tangan Mbak Wati ke sisi ranjang dan meletakkan bungkusan kresek dari Mas Kevin.
"Apa ini Nin? " Tanya Mbak Wati ikut membuka kresek yang aku taruh.
"Jadi ceritanya aku itu, tadi di jemput Mas Kevin di ajak buat ke acara lamaran adiknya. Trus nggak mampir ke restoran, jadi langsung kesana Mbak. " Kataku.
"Ehmz, kenal sama semua keluarga dong! " Ledek Mbak Wati.
"Iya, sama tetangganya juga. " Kataku sambil tersenyum, membayangkan percakapanku dengan ibu-ibu tetangga Mas Kevin.
"Cieee, ada peningkatan Nih. " Kata Mbak Wati.
"Ya udah Mbak, itu di makan nasinya. " Kataku untuk mengakhiri ledekan Mbak Wati.
"Ok deh Nin. "
Mbak Wati bangkit dari duduknya. Dia keluar menuju dapur mengambil alat makan. Aku pun mengganti bajuku dengan pakaian tidur.
__ADS_1
"Kamu nggak makan lagi Nin? " Tanya Mbak Wati mulai menyendokkan nasi ke piringnya.
"Enggak Mbak, tadi udah ikut makan disana Mbak. " Kataku.
"Yang lamaran itu kakaknya Hanny kan Nin? "
"Iya Mbak, Indah namanya. "
"Dapet orang mana? "
"Kayaknya nggak jauh dari sini deh Mbak. " Kataku.
"Trus kamu kapan Nin? " Ledek Mbak Wati lagi.
"Ehmz, mulai deh Mbak Wati." Aku pura-pura kesal.
"Nggak juga kali Mbak. Mbak Wati itu lo yang buruan! " Kataku.
"Aku mah santai Nin. Pacar aja belum punya. "
"Makanya cari Mbak. " Saranku.
"Males. Pengen sendiri dulu."
"Oke deh, setuju aku Mbak. "
Mbak Wati pun menyelesaikan makannya.
"Ini sisanya tak taruh di kulkas ya Nin. Lumayan buat sarapan besok. " Saran Mbak Wati.
__ADS_1
"Iya Mbak. Terserah aja. " Kataku.
****
Pov Author
Denting jam memunjukkan waktu tengah malam. Meskipun restoran Pak Hari di tengah kota, suasana malam juga cukup sepi. Hanya terdengar beberapa kendaraan yamg melewati jalan besar.
Nina mulai menata bantal untuk tidur. Wati sendiri setelah makan dan bersih-bersih sudah tidur. Mungkin sudah masuk alam mimpi. Nina pun mulai memejamkan mata, berharap esok bisa bangun pagi dan kerja kembali.
Namun cukup lama Nina berusaha tidur, sepertinya raga enggan untuk masuk alam mimpi. Nina berguling-guling di kasurnya. Sampai Wati yang sudah mulai pulas ikut terbangun.
"Nina, kenapa sih berisik? " Kata Wati duduk dengan mata terkantuk-kantuk.
"Nggak bisa tidur Mbak. " Nina ikut duduk.
"Ya ampun masih kepikiran di rumah camer? " Wati meledek, seiring dengan kantuknya yang hilang.
"Enggak lah Mbak. " Kata Nina lagi.
"Hehe, iya pun nggak papa kali Nin. " Kata Wati.
"Mbak, tumben ya Mbak Atikah nggak ngusilin aku lagi. " Nina mengalihkan pembicaraan.
"Ya baguslah Nin. Sama aku juga jarang cari gara-gara. " Kata Wati.
"Tapi aku curiga ada sesuatu Nin!" Lanjut Wati.
"Apa Mbak? " Nina mendadak kepo.
__ADS_1