
Mobil yang di kendarai Nina sekeluarga telah sampai di halaman rumah Kevin. Pelayat yang berdatangan masih banyak. Keluarga Nina di sambut oleh Mbak Umi dan Mas Saipul. Mereka di persilahkan masuk ke dalam rumah.
"Ikut berbela sungkawa Mbak Umi, semoga Bu Burhan Husnul Khatimah. Keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan." Kata Bu Ida ketika menyalami Mbak Umi.
"Iya bu, terimakasih banyak kedatangannya. " Kata Bu Umi sambil sedikit terisak.
Keadaan menjadi hening. Belum ada yang memulai pembicaraan. Bu Ida pun menjadi canggung. Sampai akhirnya beberapa orang datang membawa suguhan untuk keluarga Nina.
"Silahkan di minum Bu, Pak. " Kata Mas Ipul memecah suasana.
"Iya Mas. " Kata Bu Ida dan yang lain. Lalu mereka pub meminum teh yang telah di sediakan.
"Jadi ceritanya ini bagaimana Pak? Kami di kabari Nina begitu syok. Padahal kemarin beliau itu masih sehat, sewaktu melayat di rumah. " Tanya Pakdhe Bandi ke Pak Burhan.
"Kemarin itu kan Ibu ada janjian sama temannya sesama pedagang di pasar untuk sejarah umroh Pak. Trus minta tolong sama Kevin untuk di antar kebetulan Kevin kerjanya masuk shif pagi." Pak Burhan tampak menghela nafas untuk menjeda ucapannya.
"Karena nggak sabar menunggu kedatangan Kevin. Jadilah Almarhumah berangkat di bonceng temannya itu. Ternyata dia juga belum lihai naik motor. Ketika di jalan besar langsung belok kanan tanpa menyalakan lampu sein. Jadilah di tabrak motor Vixion dari belakang. Dan Ibu terpental, helmnya terlepas. " Jelas Pak Burhan.
__ADS_1
"Ya Allah. " Nina yang baru mendengar cerita realnya langsung terkaget menutup mulut dan terisak.
"Trus teman ibu itu keadaannya gimana Pak? " Tanya Nina.
"Sekarang juga kritis di rumah sakit Nak. " Kata Pak Burhan.
Suasana hening kembali. Begitu tragis kecelakaan itu. Sampai Bu Burhan meninggal di tempat dan temannya dalam keadaan kritis.
Setelah cukup lama mengobrol Bu Ida dan rombongannya berpamitan. Sesuai rencana, Nina tidak ikut pulang karena akan membantu menyiapkan acara tahlilan tiga harian nanti malam.
"Di kamarnya Dik. Dia masih sangat syok. Maklumlah, selama ini yang paling dekat dengan Ibu ya Hanny itu. " Jawab Mbak Umi.
"Oalah, Iya Mbak. Saya paham perasaan Hanny saat ini. " Kata Nina.
"Kamu sudah makan Dik? Makan dulu, ini lauknya sudah matang. " Tawar Mbak Umi.
"Nanti saja Mbak. " Jawab Nina sungkan.
__ADS_1
Nina membantu Mbak Umi memasukkan sembako ke dalam tas kain. Isinya beras setengah kilo, gula seperempat, minyak gelas 1 buah.
"Setiap hari di kasih bingkisan kaya gini Mbak? " Tanya Nina.
"Nggak dik, Ya cuma buat tiga harian sama tujuh harian. Cuma nanti pas tujuh harian orangnya lebih banyak. " Jawab Mbak Umi.
Kemudian karena banyak tetangga yang membantu mengemas sembako. Mbak Umi pun menyambut tamu yang datang berta'ziah. Nina juga sudah mulai akrab dengan tetangga sekitar, karena sudah pernah bertemu saat acara lamaran Indah.
"Mbak Nina dari pagi ya disini? " Tanya salah satu ibu-ibu, Bu Endar namanya.
"Ba'da Ashar tadi Bu. Pagi masih kerja dulu bu. " Jawab Nina dengan tersenyum.
"Kasihan ya Bu Burhan. Padahal beliau ceria banget, sejak tau Mas Kevin punya pacar. " Kata Bu Endar lagi.
"Sudah takdirnya Bu. " Jawab Nina.
Tak ada obrolan lagi. Kini baik Nina ataupun ibu-ibu yang lain sibuk kembali memasukkan sembako di wadahnya. Biar cepat selesai dan bersiap untuk menyiapkan hidangan makan nanti malam.
__ADS_1