
Nina memasuki kamarnya. Ia merebahkan diri di kasur yang telah di ganti sprai oleh ibunya. Sebenarnya, Nina tidak mau memikirkan kejulidan tetangganya. Tapi kata-kata Tiara terngiang di telinganya. Untuk mengalihkan pikirannya, Nina berniat membuka aplikasi game di ponselnya. Akan tetapi, ada notif hijau di ponsel itu. Hanya satu pesan, ternyata dari Kevin.
[Oh iya. Lagi apa Nin]
Pesan itu di kirim sekitar dua jam yang lalu. Itu berarti sesaat sebelum Nina membantu ibunya mencabuti rumput pekarangan.
[Maaf baru balas Mas. Ini tadi aku bantuin ibu cabuti rumput pekarangan. Trus Hpnya tertinggal di kamar. ] Balas Nina.
[Rajin banget. ] Kevin dengan cepat membalas pesan itu.
[Pumpung di rumah Mas. Kalau di tempat kerja kan nggak mungkin bantuin. Hehe]
[Ok deh. Lagi apa sekarang? ]
[Rebahan Mas. Restoran rame? ]
[Lumayan. Nanti di jemput habis Ashar? ]
[Yang penting Mas Kevin nggak sibuk aja. Kalau sibuk aku bisa naik ojek Mas. ]
[Untuk kamu aku nggak sibuk Nina.]
[Cieeee.... ]
[Kok cie? ]
[Enggak]
[Ya udah kamu istirahat aja. Sampai jumpa nanti. ]
__ADS_1
[Iya Mas. ]
Obrolan mereka pun berakhir. Kevin memilih mengakhiri obrolannya. Takut garing dan Nina bosan. Begitulah orang jatuh cinta. Tanpa bertemu langsung pun, hanya berbalas pesan sudah bikin bahagia.
"Loe kenapa senyum-senyum sendiri? " Tanya Agus yang kebetulan lewat depan meja kasir.
"Sotoy loe,,, ." Sahut Kevin.
"Makanya shalat dulu, biar nggak kesambet. " Saran Agus dan berlalu dari tempatnya tanpa menunggu jawaban dari Kevin.
Seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Kevin pun berjalan ke mushola kecil yang ada di restoran. Mumpung restoran sepi, dan sudah masuk waktu dzuhur. Ia pun mengambil air wudhu dan melaksanakam shalat dzuhur dengan khusyu' dan memanjatkan doanya.
"Rabb, ampunilah dosaku yang masih jauh darimu. Yang terkadang terlena dengan gemerlap dunia. Sehingga sering kali abai menghadapmu.
Rabb, Jika memang Nina ada lah jodoh yang Engkau tetapkan untukku. Maka, dekatkanlah kami, dan permudahlah hamba untuk mengikatnya secara halal. Jika memang dia bukan untukku. Maka hilangkanlah perasaan kagumku untuknya. Amiin. "
Jarum jam menunjukan pukul 14.00, rencananya Kevin akan menjemput Nina ba'da Ashar. Nanti dia tidak masuk kerja lagi, dia ingin mengajaka Nina jalan-jalan ke sekitaran taman kota. Sekalian untuk mengungkapkan perasaannya lagi, dan memperjelas hubungan mereka.
****
"Nin, bangun! " Bu Ida menggoyangkam tangan Nina yang tengah tertidur pulas.
"Ehmz. Iya bu! " Nina mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memulihkan kesadaran.
"Jam berapa ini. " Tanya Nina.
"Sudah jam dua. " Jawab Bu Ida.
Ternyata sudah satu jam Nina menikmati tidur siangnya. Dia beranjak keluar kamar mengikuti ibunya yang telah keluar dulu. Tiara pun sudah bangun, ia tengah menikmati keripik pisang sambil menonton televisi.
__ADS_1
"Udah bangun Mbak? " Tanya Tiara yang asyik menonton televisi tanpa menoleh ke Nina yang juga ikut duduk di belakangnya.
"Udah. "
Bu Ida datang dari dapur membawa tiga gelas kolak. Beliaupun memberikan satu-satu untuk anaknya. Dan satu gelas lagi untuk dirinya sendiri.
"Panen pisang bu? " Tanya Nina.
"Iya, pisang kepok depan rumah itu. " Tunjuk Bu Ida.
"Nggak di jual aja Bu? Satu tandan kan banyak. "
"Harga pisang lagi murah Nin, ini kan barengan dengan panennya perkebunan. Kemarin satu tandan cuma di tawar 30 ribu, padahal isinya ada tujuh. Mending di konsumsi sendiri sama di bagi tetangga. " Curhat Bu Ida.
"Ouh, iya bu. Pantes ibu bikin keripik, bikin kolak juga.
Memang sekarang lagi musim panen pisang. Warga desa biasa menjualnya ke tengkulak, dan tengkulaklah yang mendistributorkan ke pasar induk yang ada di kota. Kalau lagi musim panen seperti ini, biasanya memang tengkulak suka membanting harga. Kadang mereka membeli dengan harga se enaknya.
"Oh, ya buk. Ini gaji Nina bulan ini. Ibu pegang ya, buat kebutuhan rumah. Sisanya buat pegangan Nina. "Nina menyodorkan amplop ke ibunya.
Bu Ida menerima amplop itu dan membukanya. Ada rasa terharu. Tujuh lembar uang berwarna merah di dalam amplop itu beserta slip gaji dengan angka satu juta. Itu artinya Nina hanya mengambil tiga ratus ribu.
"Pegangan kamu sedikit sekali Nin. Seharusnya kamu berikan separo aja ke Ibu. "
"Nggak papa bu, ini InsyaAllah cukup. Kan makan sama peralatan mandi udah di tanggung restoran. "
"Iya, terimakasih banyak ya Nduk. " Kata Bu Ida.
Bu Ida lantas kembali memasukkan uang itu ke dalam amplop. Beliau berdiri dan memasuki kamar, guna menyimpan uang pemberian Nina.
__ADS_1