Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
BAB 62


__ADS_3

Sekarang di warung Bu Sri tinggal Budhe Pimah seorang diri.


"Udah belum belanjanya Budhe Pimah? " Tanya Bu Sri yang kesal melihat Budhe Pimah tak kunjung selesai memilih barang belanjaan.


"Sabar to Bu Sri, pembeli raja lo. " Kata Budhe Pimah dengan santainya.


"Iya tapi mau tak tinggal shalat dulu. Warung mau aku tutup sebentar. "


"Ya udah ini di hitung. " Budhe Pimah menyerahkan belanjaannya. Dan Bu Sri pun mulai menghitung total belanja Budhe Pimah.


"Tiga puluh delapan budhe." Kata Bu Sri setelah menghitung totalnya.


"Tambah trasi deh Bu, biar pas empat puluh ribu. "Kata Budhe Pimah.


"Iya. " Bu Sri menambahkan dua potong terasi kedalam kantong belanja.


"Ini, masih ada dua puluh ribu bu, kurangnya besok ya? " Kata Bu Pimah tanpa perasaan bersalah.


"Tau gitu kenapa belanjanya nambah-nambah terus budhe, ini catatan sampeyan sudah banyak lo. " Kata Bu Sri sewot.


"Yang penting bayar to." Bu Pimah tak kalah sewot sambil menyambar tas belanjanya. Bu Sri hanya geleng-geleng kepala. Lalu menutup warungnya untuk makan siang dan shalat dulu.

__ADS_1


...****************...


Nina dan ibunya yang sudah memasuki rumah mengganti bajunya dengan pakaian santai. Lalu Bu Ida membuka bingkisan yang di berikan oleh Bu Burhan tadi.


"Apa Bu? " Tanya Nina menghampiri ibunya di meja makan.


"Oh, ini lo di bawain kue sebanyak ini Nin. " Kata Bu Ida.


Terlihat di dalam bok ukuran cukup besar ada kue-kue tradisional. Lalu juga nasi dengan lauknya dalam bok yang berbeda.


"Nanti Bu Sri di kasih ya Nin. Sebanyak ini kita juga nggak bakalan habis. " Kata Bu Ida.


"Iya bu, nanti tak anter sekalian mau belanja. " Kata Nina.


"Iya bu." Ninapun beranjak dari duduknya untuk mengambil air wudhu dan sekalian shalat.


Tiara yang sudah sampai dari sekolah pun di suruh Bu Ida untuk makan siang dengan nasi bok itu.


"Katanya prasmanan Bu, kok di kasih nasi berkat? " Tanya Tiara.


"Ya mungkin ada yang di kasih berkat buat di bawa pulang Ra. " Kata Bu Ida.

__ADS_1


"Orang tuanya Mas Kevin kaya ya Bu? " Tanya Tiara dengan polosnya.


"Nggak juga dek, ibu dan bapaknya Mas Kevin itu jualan di pasar. Kiosnya juga tak terlalu besar. " Kata Nina keluar dari kamar selesai melaksanakan shalat dzuhur.


"Oh, Mbak udah tau kiosnya? " Tanya Tiara.


"Udah sekali. Pas diajak Mas Kevin ambil belanjaan buat resepsian itu. " Kata Nina.


"Tapi masakannya emang enak-enak lo Mbak. Pasti mahal ini kokinya. " Kata Tiara.


"Iya kali. Tapi untuk resepsi ini memang sokongan dari kakak-kakaknya Mas Kevin. " Kata Nina memceritakan yang dia ketahui.


"Eh, kok malah gosip anak-anak ibu ini. " Kata Bu Ida.


"Nin, ini kamu anterin ke Bu Sri ya? " Pinta ibunya sambil menyerahkan bungkusan.


"Iya bu, tapi warungnya kayaknya masih tutup deh. "


"Lewat pintu belakang Nin. Biasanya Bu Sri jam segini shalat trus makan siang. Jadi ini biar buat makan siang. "


"Iya bu. " Nina meraih bungkasan itu dari tangan Bu Sri.

__ADS_1


Nina berjalan ke rumah Bu Sri. Benar dugaannya, warung masih di tutup untuk sementara, karena si empunya mau shalat dan makan, serta istirahat sebentar tentunya. Walaupun di desa, warung Bu Sri ini cukup ramai, selain menjual berbagai kebutuhan pokok Bu Sri juga menjual sayuran segar. Sesuai perintah ibunya, Nina menuju pintu belakang warung Bu Sri untuk memberikan berkat dari hajatan.


__ADS_2