Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
BAB 83


__ADS_3

"Pak, kok belum siap-siap! " Teriak Bu Burhan dari dapur.


"Udah di panggil tuh Pak. Buruan, keburu nyonya besar ngambek. " Kata Kevin.


"Haha, bisa aja. Ya udah, besok aja Vin nyari ayamnya. " Pak Burhan pun naik ke atas dan mencuci tangannya. Kemudian, tugas beliau ke pasar untuk mengantar istrinya dan membantu berjualan.


"Vin, kamu nggak kerja." Tanya Bu Burhan yang akn berangkat tetapi melihat Kevib masih bersantai di teras depan.


"Kerja lah Bu. Sebentar lagi. " Kata Kevin.


"Sarapan dulu kalau gitu. Itu ibu bikin pepes ikan tongkol. " Kata Ibunya.


"Eh Vin, bukannya nanti kamu mau ke acara tiga harian Mbah Suroyo. Kok kerja? "


"Ya, nanti kerjanya setengah hari aja Bu. Selepas ashar pulang. " Kata Kevin


"Ya sudah kalau begitu. "


Setelah kedua orang tuanya pergi ke pasar. Kevin mengunci pintu kamarnya. dan juga rumahnya untuk bersiap berangkat kerja. Dengan waktu yang sudah mepet Kevin pun sedikit terburu-buru.


"Gue kira loe nggak masuk lagi Vin. " Todong Bayu disaat Kevin


"Emang ada alasan gue nggak masuk? "


"Ya kali aja loe mau temenin Nina. "

__ADS_1


"Idih, loe ni. "


"Katanya temen-temen ada rencana takziah? " Tanya Kevin.


"Nanti gantian pas waktu istirahat Vin. " Kata Bayu pasti.


"Aku nanti masuk setengah hari bay. " Kata Kevin.


"Kenapa memangnya? "


"Di undang acara tahlilan tiga harian di rumah Nina. " Jawab Kevin.


"Biar Agus yang gantiin. "


"Terserah. Intinya setelah Ashar nanti, meja kasir kosong. "


"Ternyata Mbah Kakung Nina meninggal ya Mas? Kok dari kemarin nggak ngasih tahu? " Tanya Wati.


"Maaf Wat, pemakaman di desa itu semua orang sibuk. Aku juga panik, nggak nyangka kalau Mbah Kakungnya Nina sudah meninggal pas aku tiba disana. " Jawab Kevin.


"Iya Mas. Aku sendiri juga nggak nyangka. Pasti Nina sedih banget. Dia pernah curhat kalau Mbah Kakung itu sangat menyayanginya semenjak ayahnya meninggal. Bahkan dia berangan-angan kalau menikah nanti Mbah Kakungnya akan di minta sebagai wali nikah. " Jelas Wati panjang lebar.


"Gitu ya? Ehm, nanti kamu bareng yang lain aja buat takziah Wat. " Saran Kevin.


"Iya Mas, aku sudah bilang Clara kalau mau ikut sama mobilnya. Katanya nanti sehabis jam sepuluh."

__ADS_1


"Na bareng itu aja. Trus biar nanti anak-anak yang lain bergantian. "


"Iya Mas. Berarti aku nanti ijin ya Mas. "


"Iya silahkan. "


Semua bergantian untuk takziah ke rumah Nina. Wati yang sudah bilang ke Pak Hari berangkat terlebih dahulu. Pak Hari pun menjemput Wati di restoran.


"Mas Kevin, tolong panggilin Wati ya? " Pinta Pak Hari sambil berdiri di depan meja kasir.


"Ouh. iya mas. Sebentar! "


Wati ternyata masih bersiap-siap ketika di panggil Kevin. Kevin ke depan untuk menemui Pak Hari.


"Mbak Wati masih siap-siap Mas. " Kata Kevin.


"Iya Mas. Nggak apa-apa. Kemarin pas kamu nganter itu sudah meninggal Mas? " Tanya Pak Hari.


"Sudah Mas, kelihatannya belum lama. Nina juga kelihatan shock sekali. Maaf mas, nggak sempet langsung mengabari. "


"Nggak papa Mas. Itu rumahnya yang sebelah mana mas? "


"Desa Sumber Makmur mas. Jalannya lebih sulit daripada rumah Nina sendiri. " Jelas Kevin.


"Ok. Biar nanti Clara yang minta sharelock ke Nina. "

__ADS_1


"Iya Mas. Enaknya emang gitu aja. "


Wati sudah selesai bersiap dan masuk ke mobil Pak Hari. Ternyata semua anggota keluarga Pak Hari ikut semua. Termasuk Mbah Kakung dan Mbah Putri.


__ADS_2