
“Lo mau makan apa hari ini Ran?” seorang dengan rambut bob membawa secarik kertas ditangannya mendatangi sebuah meja penuh dengan kertas corat-coret.
Sadar telah tiba waktunya istirahat seseorang yang namanya disebut mengangkat kedua
tangannya berharap semua ototnya yang tegang kembali rileks, “Udah waktunya
istirahat ya, Mbak?”
“Udah Rani. Mau makan soto aja nggak?” tanya perempuan dengan rambut bob lagi.
“Em,” sedikit menimbang akhirnya Rani menyetujui masukan tersebut, “Boleh deh, Mbak.
Aku nggak pake daun bawang ya.”
Mencatat pesanan juniornya seraya berkata, “Sip. Jangan terlalu maksain diri Ran,”
ujarnya.
Rani menatap Mbak Lulu, atasan yang menurutnya berhati malaikat itu, “Enggak kok
Mbak, tapi aku akan semaksimal mungkin ngerjainnya. Mbak tenang aja, pokoknya
aku nggak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Mbak kasih ini.”
Mengangguk pasrah, “Iya, percaya gue. Tapi awas aja kalau lo sakit dan kita keteteran packing barang.”
Rani tertawa mendengar perkataan atasannya, “Yaelah Mbak, kirain khawatir sama aku.
Ternyata takut nggak ada yang packing barang.”
Lulu berlalu setelah mencatat pesanan Rani, dari balik punggungnya ia terlihat
tertawa mendengar jawaban juniornya itu.
Rani tersenyum tipis ia sedikit menerawang mengingat bagaimana dirinya bertemu
dengan Lulu tahun lalu, hingga mendapat kesempatan untuk bekerja di online shop milik Lulu.
Tiba di Jakarta pada usia yang masih 15 tahun tentunya tak mudah bagi Rani, terlebih ia ditipu saudaranya sendiri saat itu yang mengatakan akan memberi pekerjaan
begitu Rani tiba namun hingga dua bulan berlalu Rani masih harus menganggur.
Rani tak berbekalkan keahlian apapun, ia hanya lulusan SMP yang harus mencari uang untuk membantu kedua orang tuanya.
Tabungan yang dibawanya dari kampung mulai menipis, terlebih ia harus membayar kost yang sudah menunggak.
Akhirnya Rani bermodalkan nekat memasuki tiap rumah makan yang ia lewati, berharap ada pekerjaan yang tersedia.
Mulai dari mencuci piring, bersih-bersih rumah, menjaga toko, hingga menjadi pengasuh pernah ia lakukan. Namun yang paling lama bertahan adalah jasa bersih-bersih, yang lebih mengejutkan tak hanya membersihkan rumah maupun toko Rani pun kerap menerima pekerjaan untuk membersihkan apartemen.
Kebiasaan membantu Ibunya dikampung membuat Rani begitu cekatan mengerjakan pekerjaannya, sehingga ia banyak disukai tuan rumah.
Tak ada protes serius dari pemilik rumah yang menggunakan jasanya, beberapa kali hanya masalah mengganti bad cover yang kurang rapi, itupun karena dikampung Rani hanya
tidur beralaskan karpet sehingga tak mengetahui cara merapikan bed cover.
Jangan tanya promosi seperti apa yang ia lakukan, Rani hanya bekerja dengan semaksimal mungkin tuan rumah puas dan akan merekomendasikan Rani pada kenalan mereka yang
membutuhkan jasa bersih-bersih.
Lulu menjadi salah satunya, saat itu ia tengah sibuk mengurus bisnis clothing sehingga ia butuh seseorang untuk membersihkan apartemennya.
Namun Lulu yang berhati baik itu memperlakukan Rani tidak seperti seorang atasan, ia menganggap Rani teman bahkan seperti adiknya sendiri Rani tak diperkenankan untuk memanggil Bu atau Pak seperti atasan lainnya. Mereka kerap bertukar cerita, bahkan
Rani tak merasa sungkan atau malu menceritakan kehidupannya di kampung.
Rani bercerita bagaimana dirinya setiap bulan memiliki tanggung jawab untuk mengirimi uang keluarganya di kampung sehingga ia butuh pemasukan tambahan,
terlebih saat adiknya mulai masuk sekolah.
Lulu yang kala itu membutuhkan karyawan tambahan untuk packing barang pesanan online shop miliknya meminta Rani untuk turut membantu.
Meskipun tak melanjutkan sekolah namun Rani tergolong anak yang cerdas saat di bangku sekolah, ia selalu berada di peringkat lima besar. Tak hanya packing, kala dibutuhkan ia dengan
senang hati membantu pekerjaan lainnya seperti mengirim barang, mengecek
__ADS_1
gudang, bahkan mengurus bahan mentahan untuk produk baru.
Meskipun online shop atasannya itu masih tergolong baru, namun bisnis clothing cukup menjanjikan. Rani belajar banyak dari Lulu dalam menjalankan bisnis
tersebut, hingga puncaknya ia iseng menggambar sebuah model baju yang sedari
dulu dirinya impikan.
Tak muluk-muluk dress semi casual dengan saku di depannya, dan lipatan karet di bagian pergelangan tangan.
Meskipun tampak sederhana namun desain ini membuat Lulu cukup terkesan karena dress dengan semi casual banyak diminati, terlebih anak muda untuk beraktifitas sehari-hari.
Rani tentunya tak percaya diri saat Lulu meminta ia menggambar dress tersebut dengan serius agar dapat dieksekusi menjadi baju sungguhan. Tentunya tak sampai disitu semua tim Lulu yang masih hitungan jari
turut memberikan dukungan pada Rani.
“Ayo dong Ran, ini kesempatan emas lho,”
“Pengalaman ini nantinya bakal berguna
banget.”
“Ini bisa ngubah hidup kamu kedepannya,” jawab lainnya.
Serta berbagai dukungan lainnya yang membuat Rani akhirnya mengiyakan tawaran Lulu tersebut, berakhir seperti saat ini mejanya penuh dengan kertas corat-coret sketsa yang belum jadi, meski sedikit membuat pusing namun Rani senang melakukannya.
Rani lambat laun mengurangi pekerjaan bersih-bersih, ia fokus untuk membantu bisnis Lulu. Semua yang telah ia lalui masih terasa seperti mimpi, Lulu akan jadi
orang yang berjasa dalam hidupnya. Meskipun memang belum dapat dikatakan
hidupnya sudah makmur seratus persen tetap saja kini kehidupannya membaik, Rani
tahu apa yang harus dilakukannya sekarang dan rencana apa yang akan ia lakukan
kedepannya.
Rani bahkan ingin mulai membuka usaha kecil-kecilan dengan sedikit tabungan yang
telah ia miliki.
pria yang telah ia kenal dua tahun ini.
Rani tak bisa menahan senyumnya saat ia mengingat Rafi Pangestu, ia masih mengingat
dengan jelas kemaren sore saat Rafi melamarnya.
Namun Rani masih belum dapat memberikan jawaban, tak bisa dipungkiri Rafi adalah
cinta pertamanya. Rani bahagia selama ini, Rafi memperlakukannya dengan sangat
baik. Tak pernah sekalipun Rani mendengar pemuda dengan rahang tegas itu
berkata kasar.
Baik tuturnya, menjaga sholatnya, serta menyayangi keluarganya, hal ini dapat Rani
simpulkan dari bagaimana Rafi selalu mendahulukan kepentingan keluarganya
di atas kepentingannya sendiri.
Rani masih belum siap jika menikah dalam waktu dekat ini karena kebutuhan
keluarganya yang begitu banyak. Adiknya yang mulai masuk sekolah serta ayahnya
yang meminta untuk merenovasi rumahnya di kampung.
Terlebih akankah keluarga Rafi akan menerima Rani? dengan latar belakang keluarga yang sangat sederhana bahkan dapat dikategorikan menengah kebawah. Berbanding terbalik dengan keluarga Rafi yang tergolong mampu.
Meskipun Rafi selalu meyakinkannya bahwa ia akan menerima Rani apa adanya, begitupula dengan keluarga pemuda itu, namun tetap saja masih ada sedikit keraguan dalam dirinya.
Saat Rani masih sibuk dengan pikirannya ponselnya berdering nyaring, sedikit terkejut
Rani segera meraih benda pipih itu.
Rafi, batinnya membaca nama yang tertera dilayar. Namun Rani
__ADS_1
sedikit ragu untuk menggesek tombol terima panggilan.
Gimana nih kalau Rafi nanya jawaban
kemaren, batinnya. Menarik napas akhirnya Rani memberanikan diri menjawab panggilan tersebut.
“Assalamualaikum,” jawabnya pelan.
Hening beberapa saat, “Waalaikumsalam,” terdengar jawaban dari sebrang, “Rani,
kamu nggak apa-apa kan? Kok suaranya kaya lemes gitu?” tanya Rafi.
Rani menarik napas sebelum menjawab pertanyaan Rafi tersebut, “Rafi, kalau kamu butuh
jawaban sekarang aku masih belum bisa.”
Terdengar gasrak-gusruk sebelum Rafi menjawab, “Rani
aku akan tetap nunggu jawaban dari kamu. Tapi bukan berarti kamu diemin aku
gini dengan nggak membalas pesan aku. Aku berharap kamu nggak terlalu terbebani
dengan pertanyaan aku kemaren, ya.”
Rani benar-benar kagum degan pria diseberang sana, lihat saja bagaimana sabarnya Rafi menghadapi dirinya, bahkan tak ada sedikitpun paksaan dalam nada bicaranya.
“Maafin aku Rafi. Nggak akan lama, hanya sehari lagi saja aku minta waktu supaya aku
benar-benar yakin. Boleh kan?” tanyanya.
“Iya Rani Ku. Tentu saya aku akan nunggu
kamu, sehari dua hari nggak masalah.” Saat
menjawab pertanyaan tersebut Rani dapat merasakan Rafi yan tersenyum, bertambah
menghangatnya perasaannya kemudian. “Aku
sebenarnya nelpon kamu mau minta tolong sama kamu.”
“Mau minta tolong apa Rafi?” tanya Rani segera.
“Jadi teman SMA aku ada yang mau ngadain
acara gitu di Villa, tapi harus pada bawa pasangan. Kamu mau nggak nemenin aku?”
Rani lantas tersenyum senang, ia merasa Rafi sangat menghargai setiap keputusannya
makanya apapun yang akan Rafi lakukan melibatkan Rani selalu meminta
persetujuan dirinya terlebih dahulu.
“Iya boleh,” ujarnya.
Belum sempat melanjutkan perkataannya seseorang mengetuk mejanya, Diandra salah satu staff bagian packing barang telah berdiri
didepannya. Paham bahwa Rani tengah melakukan panggilan ia tak langsung bicara
melainkan memeragakan gerakan ayo makan,
sambil menunjuk arah dapur umum yang ada di kantornya.
Rani kemudian membalas dengan menyatukan ibu jari dan jari telunjuk sehingga
membentuk lingkaran yang dapat diartikan oke.
“Beneran nggak masalah kamu nemenin aku?” tanya Rafi memastikan.
Setelah Diandra berlalu Rani kemudian menjawab, “Iya. Nanti kamu kabarin aja ya, jam berapanya. Oh iya, aku makan siang dulu ya Rafi, udah ditungguin yang lain
soalnya.”
“Oh iya. Selamat istirahat ya sayang, aku juga mau cari makan dulu.”
Setelah menutup panggilan tersebut Rani memandang ponselnya sesaat ia berharap besok sudah dapat memberikan jawabannya pada pemuda itu, semoga ini keputusan yang terbaik, batinnya.
__ADS_1
[]