
Seperti biasanya pagi ini Rani hanya duduk manis karena tak diperbolehkan oleh Tama melakukan apapun, sedangkan pria itu sudah sibuk mengepal kamar yang tak terlalu luas untuk mereka berdua.
"Tama, kamu lho yang harusnya istirahat kenapa jadi aku yang nggak boleh ngapain-ngapain?" ucap Rani yang duduk di tepi ranjang mengamati Tama yang sedari tadi kesana kemari membereskan kamar mereka.
Tama tersenyum memperlihatkan lekukan di bawah matanya, "Selama aku masih ada pokoknya kamu nggak boleh capek."
Seperti yang sudah mereka bicarakan sebelumnya, karena Rani hari ini libur mereka akan pergi ke rumah sakit untuk mengontrol kandungannya.
"Nanti kamu sekalian periksa lagi ya, sama ganti perban. Itu jahitannya pasti bahaya banget, masih sakit nggak?" tanya Rani khawatir terlebih Tama tak pernah benar-benar istirahat ada saja yang pria itu lakukan.
"Iya, tenang aja. Aku lihat kamu langsung sembuh kok," ujar Tama membuat Rani memasang wajah malas, "Oh iya udah jadi transfer ke rumah? kalau belum aku aja ya yang transfer ke rumah?"
"Udah kok, semalem pakai M-banking. Kamu emangnya udah gajian?" Rani ingat betul Tama belum lama masuk kerja dari mana suaminya itu punya uang, bukan meremehkan tapi Rani tahu kalau Tama juga harus memulai ini semua dari nol bersamanya.
Tama meletakkan terlebih dahulu kain pel di belakang sebelum duduk di sebelah Rani," Kamu tenang aja, aku masih ada tabungan. Lagian kerjaan sampingan aku banyak kok."
Rani mengernyitkan alisnya, "Apa aja emangnya? ngamen?"
Tama tertawa mendengar pertanyaan polos Rani, wajar saja perempuan itu mengiranya ngamen karena setahu Rani memang Tama hanya bisa memainkan alat musik.
Tama mengambil tangan Rani yang kemudian ia jadikan sebagai alat berhitung, "Pertama aku emang gitaris, terus aku juga bantu bersihin kontrakan, nyuci mobil di tempat teman aku, jadi guru ngaji privat anak-anak, antar jemput anak sekolah," belum sempat Tama kembali menyebutkan lagi pekerjaannya Rani mengehentikan pria itu.
"Bentar, ini serius kerjaan kamu sebanyak itu?" jujur Rani terkejut dengan semua yang Tama sebutkan, "Jadi guru privat? serius?"
Tama mengangguk, "Iya, tapi nggak setiap hari. Kalau cuci mobil, itu di tempat teman aku kalau lagi keteteran biasanya ngabarin, tapi udah lama sih enggak. Nah kalau guru privat tu dulu waktu SMA aku pernah bantu-bantu di masjid sering ada pengajian kebetulan aku bisa ngaji ada satu Bapak-Bapak yang lagi nyari guru ngaji buat anaknya, makanya pas liat aku tadarusan di tawarin deh."
Rani tak sadar sedikit menganga masih tak percaya dengan apa yang dirinya dengar, "Hah? kamu bisa ngaji yang ngajarin siapa?"
Tama mencubit pipi Rani membuat perempuan itu mengaduh, "Suami kamu ini nggak sebodoh yang kamu kira kok Rani. Dulu nenek sering banget ngajarin aku ngaji," Tama sedikit sedih mengingat apa yang telah terjadi padanya, "Makanya aku beneran ngerasa berdosa banget waktu ngelakuin hal itu sama kamu."
Rani geleng-geleng kepala, "Nah itu dia, Pak ustad abal-abal ya kamu?"
__ADS_1
"Ya Allah, nggak gitu. Kalau sebatas Iqra' aku insha Allah bisa Rani. Dan masalah kita aku beneran nggak sadar malam itu," jelas Tama.
"Tapi kamu bilang sama aku mabuk-mabukan juga kan?" todong Rani menunjuk Tama.
"Iya, aku pernah minum, tapi nggak mabuk-mabukan juga. Itu karena dipaksa anak-anak waktu SMA," jujur Tama ia masih menggenggam tangan Rani berharap istrinya percaya dengan apa yang dirinya katakan.
Ternyata hampir sebulan ini Rani baru sadar ia tak pernah berbicara banyak satu sama lain, dirinya selalu menghindar sehingga tak banyak mengetahui kehidupan Tama, masih banyak hal yang belum dirinya tahu tentang pria ini.
"Terus kok kamu bilang kalau pengangguran?" tanya Rani mengingat bagaimana Tama yang kebingungan mencari pekerjaan, bahkan saat di bus malam itu Rani mendengar Tama yang tengah menanyakan pekerjaan pada temannya.
Tama kembali menatap Rani, ia merapikan anak rambut Rani yang hampir menutupi mata perempuan di hadapannya, "Aku bukan karyawan seperti Rafi, yang ke kantor setiap hari make kemeja, sepatu pantofel. Pekerjaan yang aku kerjain sekarang, nggak pasti gajinya, kadang ada, kadang engga."
Rani mencoba mengelus pelan tangan Tama yang masih menggenggam tangannya, "Yang penting halal Tama, apapun itu aku akan dukung kamu. Bentar, terus kamu antar jemput anak sekolah sama ngajar ngaji kapan? aku belum pernah denger kamu pamit mau nganter anak sekolah."
"Antar jemput kok, makanya aku bangun pagi terus kan? kecuali kemaren aku ngabarin ortu anak itu kalau lagi nggak bisa nganter lagi sakit. Kalau ngajar ngaji itu, mereka lagi liburan keluar negeri, nggak tahu kapan baliknya. Nah kalau yang lain, ya kalau diperlukan aja aku bakal dateng." jelas Tama panjang lebar.
"Sekarang kamu udah full time di cafe kan?" Ucap Rani mengingatkan artinya Tama tak dapat leluasa mengambil pekerjaan lepas lagi.
Rani kemudian terpikirkan hal itu, ide bagus juga melihat dompet suaminya. Lagi pula selama ini Rani hanya melihat luarnya saja kalau dompet Tama berwarna coklat tua tak pernah sekalipun Rani melihat isinya.
"Boleh?" Rani terlihat berbinar.
"Kok kamu jadi semangat gitu, emang istri-istri pada seneng banget ya kalau ngelihat dompet suaminya?" Tama beranjak mengambil dompet dalam tas kecilnya yang selalu dia bawa.
Rani menerima benda berukuran kecil itu, meski sudah terlihat sedikit lusuh namun sepertinya pria itu sangat pandai merawat barang, "Aku buka ya?" tanya Rani meminta izin pada pemiliknya sekai lagi.
Betapa terkejutnya Rani setelah membuka dompet itu ada foto anak kecil yang tengah tersenyum lebar dengan permen lollipop di tangannya.
Tama menepuk jidatnya, ia melupakan sesuatu, "Oh iya, ya ampun. Harusnya aku cek dulu tadi."
"Kok kamu ada foto ini?" Rani terkejut mengapa foto kecilnya ada di dompet Tama.
__ADS_1
Tama menggaruk-nggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku minta sama Ibu, waktu malam terakhir kita mau ke Jakarta itu."
"Kok aku nggak tahu kamu sempet lihat foto album kami?" Rani mengamati foto kecil di tangannya.
"Pas kamu ke rumah Mbak Wiwit, aku dikasih lihat foto kamu," kenang Tama, "Jangan diambil ya, boleh kan aku simpan di sini."
Rani tersenyum, "Malu aku lho, tapi ya udah nggak apa-apa."
Perempuan itu memasukkan kembali foto ke dalam dompet, "Kalau ini?" tanya Rani setelah menemukan foto lainnya di dalam dompet Tama, "Ini dompet apa foto album sih?"
Tama terkekeh, "Itu foto nenek," ia mengambil pas foto kecil di tangan Rani, "Kalau beliau masih ada, pasti seneng ketemu kamu."
Rani menatap Tama dengan sedih, pastilah lelaki itu merindukan neneknya, "Beliau juga akan seneng lihat cucunya jadi orang baik."
Tama melengkungkan senyumnya melihat Rani, "Aku emang kebiasaan nyimpen foto orang-orang yang berharga di dompet, jadi bisa lihat kapan aja deh. Kalau anak kita udah lahir, nanti fotonya juga aku simpan di sini."
"Salah," ucap Rani membuat Tama bingung.
"Kok salah?"
Rani menutup kembali dompet cokelat yang hanya berisi beberapa kartu dan uang merah dua lembar itu kembali, "Kamu nyimpen foto aku di situ karena biar hemat kan? jadi kalau mau jajan inget istri di rumah yang ngomel-ngomel nyuruh hemat."
Tama tertawa mendengar apa yang Rani katakan, "Iya, bisa juga. Soalnya istri aku galak. Aw! aduh sakit."
Rani mencubitnya saat itu juga, "Bilang sekali lagi! aku galak?"
Ancam Rani membuat Tama semakin mengaduh, "Iya maaf, aw! Rani ayo siap-siap kita Aw! mau ke dokter kan?"
Namun Rani masih saja mencubitnya membuat Tama harus berusaha menyelamatkan diri dari cubitan maut istrinya itu.
[]
__ADS_1