
"Nggak apa-apa Pak, Bu, ini temannya Tama," ucap Rani menenangkan.
Bapak dan Ibu tampaknya benar-benar waspada, terlebih Tama sempat menyinggung penculikan yang terjadi pun dilakukan oleh teman-teman menantunya.
Tangan Ibu yang refleks mengambil bantal untuk melindungi anaknya, masih setia mengangkat tinggi tangannya itu.
Sedangkan Bapak meraih termos air di atas meja pasien membuat Rani tak dapat menahan tawanya.
"Tenang Pak, saya benar-benar teman Tama. Kami dari kepolisian, yang menyelidiki kasus penculikan pada Rani," jelas Rego berusaha menenangkan.
"Pak, Bu, apa yang dia bilang benar," ucap Rani menenangkan.
Bapak dan Ibu akhirnya terlihat mengendur, setelah mendengar apa yang Rani katakan.
"Sorry ya, setelah kejadian itu. Aku sama keluargaku jadi was-was," ringis Rani agar Rego tak salah paham.
Rego mengibaskan tangannya, "Sans, paham banget gue. Lo nggak usah merasa nggak enak gitu Ran, emang pada brengsek temen gue."
Keceplosan, Rego menutup mulutnya sendiri karena telah berkata kasar di depan kedua orang tua Rani. Ia lantas tersenyum kikuk.
"Tapi ada apa ya kalian ke sini, soalnya Tama belum ngasih tahu apa-apa soal kamu mau kesini."
Rego menyerahkan map coklat di tangannya, "Gue mau minta sedikit keterangan lo Ran, dari kantor di izinin karena mereka tahu lo masuk rumah sakit. Jadi nanti lo nggak perlu datang ke kantor polisi. Oh iya gue emang belum sempet bilang sama Tama, barusan gue telpon sibuk dia."
Rani menyerahkan kembali map coklat itu pada Rego, "Tama lagi kerja."
Rego mengangguk, emang di jam-jam segini pasti semua orang di jam kerja.
"Bisa kita mulai sekarang Ran, biar lo bisa langsung pulang juga."
"Boleh."
Rani kemudian menoleh pada kedua orang tuanya, "Bapak sama Ibu tolong tunggu di luar dulu ya."
"Nggak, Bapak mau tetap di sini," ucap Bapak tegas.
Meski Ibu hanya diam saja namun beliau terlihat menginginkan hal yang sama dari gerakannya yang menarik lengan Rani lembut.
"Nggak masalah Ran, kalau memang beliau tetap mau di sini."
Untungnya Rego cepat membaca situasi tersebut.
Kesaksian Rani di mulai, Rego serta satu timnya melontarkan satu persatu pertanyaan.
Termasuk niat keji Rafi yang melecehkannya, semua dapat Rani sampaikan dengan runtut.
Sekitar 20 menit akhirnya selesai juga, Rani merasa lega. Terlebih Rego sempat menyampaikan kesaksiannya akan membuat Rafi dan teman-temannya di hukum, tanpa pembelaan.
__ADS_1
"Meskipun gue terdengar udah telat banget, tapi congrats ya atas pernikahan kalian. Lo beruntung Rani, Tama orang yang baik," ucap Rego sebelum pria itu pamit.
Rani tersenyum hangat, "Thanks."
Tepat saat itu Wawan datang mengambil, "Mbak, maaf ya tadi sedikit macet karena ada kecelakaan, mana barang-barang yang bisa saya masukin?"
"Wawan ya?" tanya Rani memastikan.
"Iya Mbak, " ucap Wawan sopan, ia bahkan menciun tangan Bapak dan Ibu.
"Kalau gitu, kita duluan ya Ran. Hati-hati lo, sampai ketemu di persidangan," pamit Rego.
"Makasih ya Rego, atas bantuan kamu."
"No problem, Ran," setelahnya Rego melambai, ia meninggal rumah sakit.
Begitupun dengan Rani setelah semua barang dimasukkan Wawan, ia langsung masuk ke mobil.
"Kita langsung ke rumah, Bos Babe ya Mbak," ucap Wawan, melihat Rani dari kaca spion depan.
"Iya Wan, kalau Tama bilangnya gitu. Aku ngikut aja."
Sebenarnya Rani sudah pernah datang ke rumah Babe Jerris, namun entah kenapa kali ini membuatnya sedikit deg degan, apalagi ia akan datang bersama kedua orang tuanya, tanpa Tama.
Ibu yang duduk di sebelah Rani tampak celingukan menatap jalanan yang padat di sore hari.
"Namanya juga Ibu kota Bu," nimbrung Bapak yang duduk di jok penumpang depan samping Wawan.
Rani tak banyak menanggapi, hanya tersenyum menyimak kedua orang tuanya yang membandingkan kesemrawutan Jakarta dan daerah tempat mereka tinggal.
"Tapi to Ran, kamu kok manggil suamimu nama gitu. Ya Mas, atau Kang Mas," ujar Ibu tiba-tiba membuat Rani yang hampir tertidur karena perutnya yang masih terasa sakit kembali membuka mata.
"Aduh Rani kok geli ya kalau manggil pake embel-embel gitu Bu," ucap Rani bergidik membayangkan memanggil Tama dengan sebutan Mas.
"Kok geli, itu namanya sopan. Masak kamu manggil suamimu yang lebih tua kok sebut nama gitu."
Tampaknya Ibu masih tak terima jika Rani memanggil suaminya tanpa embel-embel di depannya.
Akhir menghela napas, "Iya, nanti Rani manggilnya Mas Tama."
Meski Rani tak sanggup membayangkan hal itu, pasti Tama akan menertawakannya nanti, lihat saja.
Bapak menoleh ke belakang, menatap Rani untuk beberapa detik yang kemudian kembali lagi pada posisi duduknya.
"Rani, si bajingan itu nggak mungkin kan, bakal gangguin kamu lagi?"
Rani mengernyit, mengingat siapa yang Bapak maksud.
__ADS_1
"Siapa Pak?"
Bapak kembali menoleh, "Itu lho, mantan kamu."
"Kalau kasus ini beneran di selidiki, tanpa ada campur tangan, dan permainan kotor, pasti dia masuk penjara Pak."
Kali ini Bapak yang mengernyit kan kedua alisnya, "Permainan kotor opo toh?"
Rani sedikit memajukan tubuhnya agar dapat menjelaskan pada Bapak, "Bapaknya mereka orang-orang penting Pak. Makanya waktu Tama pernah ngelaporin ke polisi, laporan Tama di tolak-"
"Mas Tama," seloroh Ibu mengoreksi cara Rani memanggik suaminya.
"Iya maksudnya Mas Tama. Ya gitu Pak, apa lagi salah satu ayah teman Mas Tama ini pejabat Legislatif jadi gitu deh," jelas Rani.
"Tapi sepertinya kali ini mereka bakalan terima hukuman deh Mbak, soalnya ada salah satu yang make obat-obatan terlarang gitu."
Wawan turut nimbrung membuat sesaat ketiga orang lainnya di dalam mobil menatap, membuat Wawan sedikit kikuk.
"Eh maaf, saya kok malah ikut-ikutan."
Rani menggeleng, "Nggak apa-apa Wan, pas malam itu grebek mereka kamu ikut kan?"
Kalimat Rani menarik perhatian Bapak dan Ibu.
"Iya Mbak," jawab Wawan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Meski Tama telah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tetap saja Rani merasa ingin mendengar, cerita dari orang lain.
Rani membuka lebar-lebar telinganya, "Sebenarnya yang terjadi malam itu apa sih Wan?"
Wawan pun terlihat antusias, "Wah Mbak, malam itu heroik banget Bos Tama. Setelah Mbak diculik Bos bener-bener nggak tenang. Mana keliling Jakarta kali ya malam itu datangin semua rumah temannya buat nyariin Mbak. Nggak tidur sama sakali Mbak, serem banget saya lihatnya. Habis itu ya Mbak, perlengkapannya tu Bos bawa banyak banget, mana make strategi macam-macam-"
"Wan, udah-udah! Lha kok kamu malah nyeritain Tama sih."
Rani merasa malu, apalagi Ibu dan Bapak sedari tadi menatapnya dengan senyum terkulum, jahil.
Wawan kembali menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Hehe, saya kira Mbak juga pengen dengar bagian itunya."
Ya sebenarnya Rani senang sih, tapi sekarang dia jadi malu. Pasti Ibu dan Bapak nanti akan berdebat siapa yang paling berjasa sudah memilih Tama untuk menjadi suaminya.
"Maksud aku yang kamu tahu mengenai teman-teman Tama itu."
Wawan kembali membuka mulutnya siapa bercerita, "Ya gitu Mbak, Mas Tama-"
''Udah! Nggak usah dilanjutin kalau yang kamu mau ceritain, Bos kamu mulu."
Wajah Rani sudah merah padam, bukan karena marah, bukan. Rani merasa pipinya memerah karena merasa malu, tapi juga tak dapat menahan rasa senangnya dan terharu membayangkan Tama kelimpungan mencari keberadaannya malam itu.
__ADS_1
[]