MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 8 : S e l a s a


__ADS_3

Perut mulai keroncongan di jam istirahat kantor semua karyawan berhamburan menuju restoran disekitar gedung atau bahkan hanya cukup menuju kantin di lantai dasar, begitupun dengan Rafi yang saat ini tengah menunggu salah satu sohibnya untuk makan siang bersama.


Rafi bekerja sebagai content writer di salah satu media, riset dan menulis yang dilakukan hari ini membuat Rafi harus ekstra mengeluarkan tenaganya.


“Lama bener jalan lo,” gerutu Rafi saat melihat Elgin yang kini berjalan kearahnya.


Rafi dan Elgin bekerja di gedung yang sama, meskipun kantor yang berbeda. Elgin memiliki kantor management sendiri yang kerap mengurusi artis-artis  baru.


“Dih, sabar dong. Tadi ada salah satu artis gue yang rewel nggak mau main film,” jelasnya.


Keduanya lantas masuk kedalam lift yang akan membawa menuju lantai bawah, hari ini tampaknya mereka tak ingin terlalu banyak lagi membuang tenaga dengan berjalan kaki mencari makan karena pilihannya jatuh


pada nasi padang yang ada di kantin gedung mereka.


Saat tengah mengantre mengambil pesanan Elgin menyadari raut wajah sohibnya itu tampak tak bersemangat seperti biasanya, “Muka lo, asem bener dah.”


Mereka maju selangkah menandakan orang di barisan depan antrean telah menyelesaikan pesanannya, “Nggak apa-apa, cuman lagi kepikiran Rani aja.”


Elgin menatap Rafi tak percaya, pasalnya sangat jarang sekali ia melihat Rafi seperti itu saat pacaran dulu, “Lagi berantem kalian?”


“Enggak. Kayaknya cewek gue lagi ada masalah, makanya gue kepikiran aja,” tuturnya yang


kini telah meraih piring siap menyendok nasi.


Elgin menyendok rendang beserta bumbu ke piringnya yang telah penuh nasi, “Coba lo hibur dong.”


Rafi turut mengambil rendang yang menurutnya tampilannya itu sangat lezat, “Pengennya sih, gitu. Cuma masalahnya gue nggak tahu nih, dia lagi ada masalah apa. Sebelumnya nggak pernah dia kayak gini, jadinya agak aneh  menurut gue,” jelasnya.


Setelah selesai mengisi piringnya mereka kompak memilih tempat duduk yang berada di pojokan kantin yang hampir penuh agar lebih leluasa berbicara, tanpa khawatir didengar orang lain.


Elgin mencelupkan tangannya kedalam air dalam wadah yang juga ia bawa, “Nggak ada yang aneh, emang cewek begitu kan? Kita nggak pernah tahu moodnya gimana,” ucap Elgin berharap sahabatnya itu memahami kekasihnya.


Rafi menyuap penuh nasi kedalam mulutnya, ia lantas mengangguk menyetujui, “Tapi ya Gin, Rani nggak pernah kayak gini. Apapun yang lagi dia rasain atau masalah yang lagi dia alami pasti ngomong.”


Elgin menatap Rafi sekilas, “Ya, siapa tahu kan masalahnya kali ini serius. Emang udah lo tanyain lagi?” Rafi menggeleng, memang setelah mengantar Rani dua hari lalu dirinya belum coba menanyakan bagaimana keadaan kekasihnya lagi.


“Nah, ini nih laki-laki nggak pekaan. Lo tahu dia lagi nggak baik-baik aja, malah lo diemin. Tanyain dong, kalau perlu lo datengin dia,” Elgin menggigit daging rendangnya kesal, kemudian Elgin teringat sesuatu, “Waktu lo pulang duluan dari villa, lo lihat Tama nggak?”


Rafi memberikan isyarat bahwa ia akan menelan terlebih dahulu makanannya, “Enggak, waktu gue mau anter Rani, mobil Tama udah nggak ada duluan,” jawabnya setelah menelan makanannya.


Elgin sedikit berpikir, pasalnya Tama hingga saat ini tak membalas pesannya yang menanyakan bagaimana dia bisa pulang begitu saja.


“Kenapa?” Tanya Rafi.


“Tu anak nggak ada kabar nyampe sekarang, gue chat nggak dijawab,” jelasnya yang kemudian membuka kunci layar berharap mungkin saja ada pesan masuk dari Tama.


“Mungkin lagi ada kerjaan,” Rafi menjawab singkat.

__ADS_1


“Nggak mungkin, terakhir kali dia minta kerjaan ke gue karena masih  nganggur,” Elgin mengingat saat di villa


memang Tama sempat meminta pekerjaan dari Elgin.


“Serius lo?” tanya Rafi tak percaya.


Sewaktu SMA mereka teman karib yang sangat dekat, bahkan Tama sering menginap di rumah Rafi. Mereka bahkan dulu sempat ngeband bareng, Tama memiliki keahliah memainkan alat musik gitar yang lumayan menurut Rafi, namun Tama sudah sering dapat pekerjaan sebagai gitaris di caffe atau di acara-acara pensi.


“Iya, gue juga agak kaget waktu dia bilang gitu. Katanya jobnya lagi sepi,” jawab Elgin.


Sebagian besar teman-temannya memang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, namun ada beberapa yang hanya sampai bangku sekolah menengah atas saja seperti Tama dan Rego, meski demikian hingga saat ini mereka masih berhubungan baik contohnya saja beberapa hari lalu mengadakan acara reunian.


Rafi teringat salah satu kejadian di villa, “Katanya kemaren di villa Tama sama Waren berantem?”


Elgin yang telah selesai menyantap seluruh isi dipiringnya, “Nah, itu gue mau cerita sama lo kelupaan. Gue juga heran kenapa tu dua bisa gelud, yang lebih bikin kaget hal yang bikin mereka kaya gitu,” terang Elgin yang kini mencuci tangannya dengan air yang sama.


“Apaan?” Tanya Rafi semakin penasaran.


“Cewek lo,” padat dan singkat jawaban Elgin, namun membuat Rafi yang tengah minum


tersedak.


“Kok bisa?” tanyanya kemudian.


“Waktu lo nyusulin Rani, pas doi sakit itu si Waren nyeletuk, lo apain Rani kok mual-mual gitu, padahal ya karena magnya lagi kumat aja. Nah, Tama yang denger nggak terima tuh, ngerasa Waren ini nggak menghargai cewek lu, dengan pikiran kotor dia,” jelas Elgin panjang lebar.


“Emang brengsek Waren!” kesal Rafi.


Rafi yang kini menatap Elgin heran, “Apa yang aneh coba?”


“Tama, ribut sama Waren karena cewek lo,” Elgin menekankan kalimatnya.


“Menurut gue bagus dong, berarti emang Tama sangat menghargai perempuan. Waren emang


yang anjing! Dia udah menghina perempuan,” uacap Rafi yakin.


“Lo nggak takut Tama ternyata suka sama cewek lo?” Elgin kali ini tampak gemas.


“Itu beda konteks. Kalau dari masalah itu jelas Tama nggak salah, Gin. Kita emang tahu kan, gimana Tama memperlakukan perempuan, dari dulu dia yang paling melindungi perempuan, contohnya aja giaman dia baiknya sama Mira dan Juwita, bahkan kita sohibnya aja pernah salah paham kita Tama suka sama mereka,” kali ini Rafi


entah mengapa menggebu-gebu hal itu murni jawabannya yang telah mengenal Tama dengan baik.


Elgin mengangguk-ngangguk, “Iya juga, sih.”


“Lagian Tama baru ketemu Rani sekali, mana mungkin dia langsung suka sama cewek gue,” Rafi


tak ambil pusing dengan pertanyaan Elgin sebelumnya.

__ADS_1


Elgin kehabisan kata-kata kali ini akhirnya ia kembali ketopik Rani-Rafi, “Yaudah,


mendingan lo samperin deh cewek lo, tanyain ada masalah apa kek, hibur dia.”


Rafi mengangguk setuju, “Nanti sore deh, sekalian jemput dia pulang kerja.”


Saat yang bersamaan ponsel keduanya bergetar satu notifikasi grup muncul, yang ternyata grup chat keduanya.


SOHIB SAMPAI MATI


Mira Luciana P**:** Guys! Breaking News!


Juwita: Apaan?


Elgin Purnawan: Raffi Ahmad kawin lagi?


Waren Danureja R: WKWKWK!


Mira Luciana: FOKUS!


Fauzan: Ada apa Mira?


Mira Luciana: Gue bakal pindah ke Jakadahhh guys! Jadi please bantu gue pindahan besok ya!


Waren Danureja R:**Breaking news ini terdengar seperti tuan putri yang lagi nyari pembantu.


Elgin hanya tertawa membaca pesan di grupnya, lantas ia beralih pada Rafi yang saat ini tengah menyimak obrolan mereka tanpa mengirimkan balasan.


“Mira nyari pembantu, nih,” tuturnya yang kemudian meletakkan ponsel.


Rafi tertawa, “Iya, bakal seru sih, kalau semuanya di Jakarta.”


Mira sebelumnya tinggal di Bandung bersama dengan keluarganya, tentunya kabar baik


untuk mereka jika semua sahabatnya berada di satu kota.


“Tapi, lo masih suka nggak sama Mira?” celetuk Elgin kemudian.


“Enggak lah, gue udah serius sama Rani,” Rafi menepuk-nepuk perutnya yang terasa kekenyangan.


“WOW! Keren juga lo udah berani seriusin anak orang,” Elgin bertepuk tangan bagaikan memberikan apresiasi.


Rafi kemudian bangkit dari duduknya, “Udah ah, mau balik kerja gue.”


“Makanya kaya gue dong, kantor sendiri jadi bebas,” Elgin mengangkat kerah bajunya agar terlihat keren di hadapan Rafi.


“Sombong! Duluan ya, bisa di pecat gue kalau males-malesan.”

__ADS_1


Rafi berlalu meninggalkan Elgin yang masih tampak berpikir keras apakah ia akan menceritakan apa yang dirinya lihat pagi itu, Tama yang keluar dari kamar Rani padahal laki-laki semuanya berada di kamar bawah. Elgin merasa serba salah, kalau diceritakan ia takut akan menyakiti hati Rafi yang terlihat begitu mencintai Rani terlebih persahabatan yang telah lama mereka jaga akan hancur begitu saja. Namun Elgin juga sangat kesal apabila benar apa yang telah ia pikirkan beberapa hari ini bahwa Tama ternyata menyimpan perasaan pada Rani, yang artinya laki-laki itu telah mengkhianati sahabatnya, Elgin menggeleng-geleng tak hanya Rafi yang sahabatnya namun Tama juga, keduanya sahabatnya.


[]


__ADS_2