MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 38 : K e r a g u a n


__ADS_3

..."*Tuhan, kenapa di kehidupan yang hanya sekali ini, saya nggak bisa sama dia?" *...


...-Abdur Arsyad-...


“Demi apa? Serius kamu ngalamin semua itu?! Kenapa baru cerita Rani?” Lulu memekik mendengar cerita Rani.


Mereka tengah berada di ruang Lulu, karena hari ini akhirnya Rani masuk kerja kembali. Ia awalnya merasa tak enak karena sudah terlalu lama mengambil jatah libur, namun jika dia keluar di zaman sekarang lebih susah lagi mencari pekerjaan, untung saja Lulu, atasannya tak keberatan meski Rani dipaksa apa yang terjadi padanya beberapa waktu belakangan ini.


“Ya gitulah Mbak,” ucap Rani pasrah.


“Bener-bener ya tu orang, kalau sampai ketemu aku bejek-bejek dia,” Lulu semakin geram dengan apa yang telah dilakukan Tama pada Rani.


“Yasudah Mbak, aku lanjut kerja lagi ya?” ucap Rani siap untuk bangkit meninggalkan ruangan Lulu.


“Ran,” panggil Lulu membuat Rani mengurungkan niatnya membuka pintu, “Kamu jangan terlalu capek ya, kasian anak kamu.”


Rani mengangguk berterima kasih atas pengertian atasannya itu, “Makasih ya Mbak.”


“Aku masih nggak percaya kenapa Bapak dan Ibu kamu malah suka sama Tama, jelas-jelas pria itu penjahat kelamin,” ucap Lulu masih kesal mengingat cerita Rani beberapa waktu lalu.


Rani tersenyum tipis, “Doakan yang terbaik untuk aku dan anak ini ya, Mbak.”


Lulu hanya bisa prihatin menatap sedih pada Rani karyawan yang sudah dirinya anggap sebagai adik sendiri itu, malang sekali nasib kamu Ran, batinnya.


Rani hendak membuka pintu kembali namun pintu itu tiba-tiba terbuka dari luar, menampilkan Diandra yang ngos-ngosan.


“Mbak Rani, ada yang nyariin tuh.”


Rani terlihat bingung siapa pula yang akan mencarinya di jam segini, “Kamu kenapa lari-lari?”


“Takut Masnya nunggu kelamaan,” ucap Diandra kemudian.


“Ha? Mas siapa?” tanya Rani semakin bingung.


“Aku juga nggak tahu, cuman bilang nyariin Mbak. Aku malah baru mau nanya, Mbak ganti pacar ya? soalnya beda sama yang biasanya kesini,” tutur Diandra panjang lebar dengan polos.


“Siapa Ran?” tahu-tahu Lulu sudah di belakang Rani tepat.


Rani menggeleng, “Nggak tahu Mbak,”


Namun beberapa saat kemudian Mbak Lulu seakan teringat pada seseorang, “Oh aku tahu Rani. Biar aku yang ketemu sama dia, harus dikasih pelajaran tu anak.”


Lulu keluar begitu saja mendahului Rani yang masih berpikir, siapa gerangan yang datang ke tempat kerjanya, namun kemudian ia teringat seseorang yang membuat dirinya langsung berlari menyusul Lulu, meninggalkan Diandra yang bingung melihat tingkah dua perempuan itu.


Benar saja dugaan Rani ternyata Tama yang datang menemuinya, tadinya Rani sempat khawatir kalau Lulu melakukan tindak kekerasan pada Tama, lah itu malah perempuan itu hanya menyapa sekilas bahkan langsung kembali.

__ADS_1


“Mbak kenapa sih?” tanya Rani bingung.


Tama sudah melihat kehadiran Rani, pria itu lantas tersenyum senang hingga menampilkan gigi putihnya.


“Itu kan Tama?” tanya Lulu berbisik memastikan apa yang baru saja dirinya lihat.


“Iya itu, yang aku ceritain,” ucap Rani membenarkan apa yang Lulu maksud.


“Tapi kok nggak ada tampang anak kurang ajarnya ya, itu kelihatan anak baik-baik,” ucap Lulu membuat Rani geleng-geleng kepala.


“Yeee, Mbak Lulu ada-ada aja, aku kira mau Mbak apain gitu dianya,” Rani tak mengada-ngada ia tadi sempat ketar-ketir melihat Lulu yang ngacir begitu saja waktu tahu Tama yang datang.


Lulu tertawa garing, “He he, cuma kenalan doang kok. Yaudah sana, ditungguin.”


Setelah mengatakan hal tersebut Lulu pergi begitu saja, Rani kemudian mendekati Tama yang sedari tadi menunggu dirinya.


“Maaf ya ganggu, tapi aku nggak akan lama kok,” ucap Tama begitu Rani sudah berada tepat dihadapannya.


“Ada apa Tama? Aku belum masuk jam istirahat nih,” ucap Rani mengingatkan, ia menunjuk jam


besar di lobi yang masih menampilkan pukul 10.45 wib.


Tama mengangkat tangannya, “Aku bawa pastry lagi, kamu suka kan? Akau sengaja dateng jam segini soalnya kalau jam istirahat takutnya banyak pelanggan di café.”


Pantas saja Rani melihat Tama kini mengenakan kaos hitam bertuliskan Comfort Zone kecil di bagian dadanya, yang ia balut dengan jaket jeans pria itu.


“Iya, maaf ya,” ucap Tama.


“Yaudah aku mau lanjut kerja lagi,” kata Rani sedikit mengusir Tama.


Tama masih berdiri pada posisinya, “Em nggak ada apa gitu sesuatu?”


Rani memasang ekspresi bingung, “Sesuatu apa?”


“Ya apa gitu?” kata Tama mengulang kalimatnya yang sulit Rani mengerti.


“Tama, aku nggak ngerti maksud kamu. Yaudah kita bahas di rumah aja ya, aku lagi banyak packingan soalnya.”


Rani langsung membalikkan badannnya begitu saja, ia benar-benar tak paham mengenai apa yang Tama maksud. Rani menoleh kebelakang memastikan Tama sudah meninggalkan kantornya, namun ternyata pemuda itu masih di sana memasang wajah cemberutnya.


“Kenapa sih?” tanya Rani mulai emosi.


“Emosi mulu,” ucap Tama tak kalah sewot.


Rani yang semakin dibuat bingung memilih untuk tak menghiraukan pria itu lagi, “Dih, aneh banget. Nggak jelas dasar.”

__ADS_1


Sedangkan Tama yang melihat punggung Rani semakin menjauh, semakin pula ia menekuk mukanya layaknya anak ABG yang lagi ngambek.


“Nggak ada peka-pekanya, cium tangan suami kek, peluk kek, perasaan gue udah perhatian banget jadi suami,” ucapnya yang kemudian bergegas meninggalkan kantor Rani.


Meski Tama sudah berusaha untuk tak menaruh harapan, tetap saja ada harapan yang tumbuh di dalam lubuk hatinya setiap saat.


Terlebih ia akan menghabiskan hari-harinya hanya bersama Rani, seperti semalam jantung Tama berdegup kencang waktu Rani mengizinkannya untuk tidur tepat di samping perempuan itu.


Berbeda dengan Rani yang tampak biasa saja, ya wajar saja karena perempuan itu tak memiliki perasaan sedikitpun padanya, Tama dengan langkah berat menuju parkiran tempat motornya berada, namun ia melihat mobil Rafi yang baru saja tiba.


Tama memastikan sekali lagi apakah itu benar-benar mobil Rafi, dan ternyata benar saja kalau itu mobil Rafi, terlebih sekarang pria yang dirinya kenal itu keluar dari mobilnya.


Begitu melihat Tama, Rafi tampak terkejut meski ia kembali mengatur ekspresinya agar terlihat biasa saja.


“Ngapain lo kesini?” tanya Tama tanpa basa-basi lagi.


“Biasa, mau ketemu Rani,” jawab Rafi enteng.


“Gue makasih banget lo perhatian sama Rani, tapi jangan lupa dia sekarang istri gue, dan lo sekarang udah jadi masa lalunya,” ucap Tama mulai geram, entah kenapa sekarang Rafi di matanya seorang rival yang tak tahu diri.


Rafi turut tersulut emosi, “Jangan lupa ya, lo yang ngerebut Rani dari gue, yang seharusnya di posisi lo itu gue.”


Tama tak sabar lagi pria itu melayangkan pukulan pada Rafi hingga pria itu terhuyung, tak sampai di situ Rafi pun melakukan hal yang sama hingga perkelahian terjadi.


Untungnya ada security yang melihat kejadian tersebut sehingga mereka dapat dilerai dengan cepat, sebelum mengundang kerumunan.


Tama pun teringat posisinya yang baru masuk kerja tak enak hati apabila izin terlalu lama, akhirnya ia memutuskan untuk kembali saja ke café.


Namun Rafi sepertinya masih tak cukup memprovokasi Tama, sehingga ia mendekati kembali Tama kembali, “Lo inget ya, sampai sekarang di hati Rani cuman ada, gue,” ucapnya jumawa.


Kalau bukan karena beberapa orang kembali mendatanginya mungkin Tama sudah kembali menghajar Rafi.


“Lihat aja, gue akan bikin Rani ngelupain lo.”


Itu perkataan terakhir yang Tama sampaikan pada Rafi, yang di tanggapi pria itu dengan ekspresi meremehkan.


Meski Tama mengucapkannya dengan yakin, namun lambat laun itu terdengar seperti sesuatu yang tak akan pernah terjadi, bisakah dirinya membuat Rani mencintainya dan melupakan Rafi? Bahkan Tama ragu akan hal itu, sakit sekali hatinya melihat perempuan yang ia sayangi masih dekat dengan lelaki lain.


[]


Ps. Itulah yang pernah Rafi rasakan Tama, kenapa kamu ngerebut pacarnya?


Rasainkan galau? cemburu? sukurin !!!!!


Now playing 🎼 Rossa - Terlalu Cinta

__ADS_1


"Namunnn apalah daya ini, bila ternyata sesungguhnya, aku terlalu cinta dia,, "


Coba bacanya sambil dengerin lagu ini, feelnya kerasa banget sadnya. Puter lagu ini pas Tama naik motor balik ke cafe :(


__ADS_2