
"Pegangan sayang," ucap Tama mengingatkan Rani yang sedari tadi hanya menarik kemeja Tama.
"Ini udah pegangan," kata Rani.
Tama melihat Rani dari kaca spion di sampingnya, "Bukan gitu."
"Terus gimana?" tanya Rani sedikit meninggikan suaranya karena motor melaju kencang melewati mereka.
Tama manarik tangan Rani yang kemudian ia letakkan di pinggangnya, "Gini lho, peluk aja."
Karena merasa kaku Rani melepaskan tangannya kembali, "Emang kamu nggak geli?"
Tama tertawa, "Ya enggak lah, aku malah suka, kalau kamu peluk."
Namun Rani masih enggan melakukan hal itu, sehingga ia kembali menarik ujung kemeja Tama.
Muncul satu ide di kepala Tama, ia ingin mengerjai istrinya. Tama kemudian menaikkan kecepatannya lebih tinggi membuat Rani merasa takut.
"Tama jangan kenceng-kenceng aku takut!"
"Apa? Aku nggak denger."
Rani mengeratkan pegangannya di kemeja lelaki itu, "Tama! aku takut."
"Makanya kamu pegangan aku," teriak Tama yang menahan tawa.
Rani masih teguh dengan pendiriannya, ia tetap tak melakukan apa yang Tama inginkan.
Karena kecepatan yang tinggi membuat Tama harus ngerem mendadak ketika lampu merah, Rani yang tidak siap dengan hal itu akhirnya terkantuk tubuh Tama yang berada di depannya.
"Aduh!" keluh Rani.
"Maaf sayang, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Tama khawatir ia menolehkan kepalanya untuk mengecek kondisi Rani.
"Kamu tuh, ngapain ngebut ya Allah. Aku takut," ucap Rani dengan ekspresi takutnya.
"Maaf ya, tadinya aku mau ngerjain kamu. Bahaya banget padahal," sesal Tama.
"Ada-ada aja sih!"
"Maaf, sekarang pegangan ya? Biar kamu lebih aman," tutur Tama dengan lembut.
Rani tak dapat memalingkan pandangannya kali ini. Tama, ditambah angin sepoi-sepoi jalanan kenapa bikin jantung Rani tak karuan.
"Sayang?"
Gusti, ngapain ni orang sekarang lancar banget manggil sayangnya, batin Rani.
"Rani?" panggil Tama lagi.
"Eh iya! Iya aku pegangan, bawel banget sih!"
Rani akhirnya merangkul pinggang Tama dari belakang membuat pria itu merasa senang.
"Nah gitu dong dari tadi."
__ADS_1
Lampu kembali hijau membuat Tama harus melajukan sepeda motornya, dan tentunya sekarang tangan Rani telah melingkari perutnya.
"Mau makan nggak?" tanya Tama saat masuk gang Melati setelah lampu merah.
"Em, aku kenyang. Tadi di cafe di kasih kue terus sama Retno. Kamu lapar nggak?" tanya Rani kembali pada Tama.
"Sedikit," ucap Tama, "Eh, eh, eh, astagfirullah!"
Pada detik itu ada sebuah motor yang menabraknya dari belakang membuat motor Tama terjatuh.
Ia dengan segera menanyakan keadaan Rani, "Rani ada yang sakit?"
"Ssss, kaki aku sakit," ucap Rani kesakitan, karena kakinya terjepit di bawah kendaraan besi itu.
Tak sampai di situ datang sebuah mobil jeep hitam dari arah berlawanan.
Tama kembali mengingat kejadian minggu lalu saat ia dihajar habis-habisan di sini.
"Rani, kamu cepetan lari sembunyi! Ini mereka yang udah mukulin aku waktu itu," tutur Tama membantu Rani berdiri.
Rani menggeleng keras, ia menarik kemeja Tama, "Enggak! Aku nggak akan ninggalin kamu."
Beberapa pria mulai turun dari mobil tersebut, namun kali ini mereka tak mengenakan topeng, membuat Tama geram karena ia tahu mereka semua.
Tama melihat sekelilingnya tak ada satupun orang di sana, bahkan dua orang suruhan Babe. Tama menyesal karena menyuruh dua orang itu pulang, padahal hal genting seperti ini bisa saja terjadi.
"Rani, please kamu lari ya sekarang. Ini bisa bahaya buat kamu."
Rani mulai ketakutan, "Enggak Tama, aku nggak mau lihat kamu kenapa-napa lagi."
Kata salah seorang pria yang Tama kenal betul dengan suaranya, itu Elgin.
Tama mencoba membuat Rani berada di belakangnya, "Rani kamu tetap didekat aku ya."
"Nggak tahu malu ya, bininya hasil curian. Rani, lo habis ditidurin kenapa mau sama manusia biadab kaya dia?" ucap Waren tersenyum miring.
"Kalian semua mau apa lagi bangsat! Jangan pernah ya lo sebut nama Rani pakai mulut lo yang kotor itu," umpat Tama membuat Waren terlihat geram.
"Masih untung ya lo nggak langsung gue bunuh!"
Seseorang dengan motor ninja yang tadi menabrak Tama membuka helm full facenya, "Hai sayang, tadi pagi kamu aku ajak ngobrol nggak mau sih, eh malah ketemu di sini."
Rafi melepas helmnya, ia kemudian mendekati Rani, "Sayang sini, kamu nggak kangen sama aku?"
"Anjing! Jangan pernah sentuh Rani!" teriak Tama menarik Rani agar semakin merapat ke tubuhnya.
Rani ketakutan tangannya kini mulai bergetar, baru kali ini ia melihat Rafi dengan tatapan yang menurutnya sangat mengerikan.
"Rafi tolong jangan," ucap Rani.
"Sttt, cup cup anak manis, aku nggak akan lukain kamu kok. Kalau saja waktu itu kamu nggak mutusin hubungan kita Ran, semua ini nggak akan pernah terjadi."
"Diem lo bangsat!" teriak Tama kini mendorong tubuh Rafi yang semakin mendekat.
Dimas yang membawa stik kayu di tangannya maju mendekati Tama, "Jangan terlalu basa-basi sama dia, kita langsung eksekusi aja gimana?"
__ADS_1
Dimas mulai mengayunkan stik kayu itu, membuat Tama harus menghindarinya, "Rani lari!" teriaknya.
Rani yang kebingungan akhirnya memilih berlari, berusaha mencari pertolongan, namun sayang Rafi lebih dulu menarik tangannya.
"Mau kemana Raniku? kamu kok jadi sombong gini," ujar Rafi yang sukses membuat Rani bergidik ngeri.
"Tama tolong!" teriak Rani.
"Rafi! lepasin Rani sekarang!" geram Tama ia ingin menarik Rani, namun sayang tubuhnya dihadang oleh Dimas, dan juga Maditra.
"Minggir lo pada!"
Maditra melayangkan satu pukulan ke muka Tama, "Bugh!"
Tama berusaha mengingat bela diri yang sempat ia pelajari dulu, ia tak tinggal diam pukulan pun Tama layangkan pada Maditra.
"Tama! Tama! tolong jangan sakitin Tama lagi!" Teriak Rani, kini air mata telah mengucur di pipinya.
Meski awalnya Tama berhasil melawan, namun Elgin membawa tongkat di tangannya menghantam kepala Tama dengan keras membuat Tama limbung.
"Aaa! Tama awas!" Rani berusaha melepaskan tangan Rafi namun sayang tenaganya tak sebesar pria itu.
Ia menyaksikan bagaimana Maditra, Dimas, dan Elgin memberikan pukulan bertubi-tubi pada Tama.
"Rafi tolong udah! tolong! tolong!" Rani masih berteriak berharap ada orang lain yang akan menolongnya.
"Kamu mendingan diam Rani, aku nggak akan nyakitin kamu," kata Rafi kini coba menutup mulut Rani dengan tangannya.
Waren kembali mengemudikan mobil jeep mereka, mobil itu melaju mendekati tempat Rafi.
Sedari awal memang rencana mereka adalah untuk mengambil Rani bagaimanapun caranya.
"Rafi bawa masuk!" teriak Waren setelah membuka kunci mobil tersebut.
Rani berusaha untuk melawan, ia tendang Rafi sekuat tenaga, "hmmm hmmmmm!" teriakan Rani terendam karena mulutnya dibekap tangan lebar Rafi.
Meski Tama menarik kaki Dimas dan Maditra, berharap dua orang itu jatuh namun lagi-lagi Elgin akan memukulnya, bahkan tangannya yang belum seratus persen pulih kembali mereka injak.
Tama melihat Rani yang dipaksa masuk dalam mobil, "Rani! jangan takut aku akan jemput kamu!"
Rani semakin menangis sesegukan, cobaan apa lagi yang akan ia dan Tama lalui kali ini.
Baru saja Rani merasakan kebahagiaan karena hatinya mulai lapang menerima Tama, namun sekarang ada cobaan lagi bagi mereka.
"Lo nggak akan bisa milikin sesuatu yang sedari awal bukan punya lo anjing! sampah kayak lo seharusnya tahu diri!" ketus Elgin sebelum meninggalkan Tama yang tak lagi telah terkapar.
Tama terbatuk-batuk, merasakan ulu hatinya begitu nyeri.
"Rani! jangan bawa Rani!"
"Udah cukup, cabut guys!" perintah Elgin.
Mereka lalu meninggalkan Tama begitu saja.
"Rani!" panggil Tama lagi saat melihat mobil yang membawa Rani semakin menjauh.
__ADS_1
[]