
Rani menatap pria di sampingnya yang sudah tertidur, setelah pertengkaran tadi Tama tak sedikitpun bicara lagi padanya.
Bahkan saat Rani hendak mengatakan masakannya enak, sedikitpun Tama tak menggubrisnya, Rani menghela napas, apa yang harus ia lakukan pada lelaki itu, bisakah Rani mencintai Tama?
Rani memiringkan tubuhnya untuk sepenuhnya menatap Tama yang tidur terlentang di sebelahnya tanpa menggunakan selimut. Tubuhnya yang tinggi membuat kaki pria itu hampir melewati batas tempat tidur, bulu matanya yang lentik membuat Rani sedikit iri, belum lagi hidungnya yang bangir, namun tetap menurut Rani hidungnya lebih mancung.
Rani menyentuh perutnya sendiri, mulai berpikir kira-kira akan mirip siapakah anak di perutnya ini nanti. Meski Rani malas mengakuinya, namun Tama termasuk pria yang tampan, meski dengan kulit yang sedikit gelap.
Entah kenapa Rani belum juga mengantuk, ia malah sibuk memandangi pria itu, detik berikutnya Rani harus menahan napas karen atiba-tiba Tama membalikkan tubuhnya tepat menghadap ke arah Rani.
Meskipun mata Tama tertutup tetepa saja membuat Rani merasa gugup dengan posisi berhadap-hadapan seperti saat ini. Rani mencoba mengatur napasnya, tenang-tenang ini Tama lho bukan Aliando Syarif, ucapnya pelan mengelus dadanya yang tak karuan.
Rani semakin panik saat Tama mulai menggerakkan matanya, tanda kalau pria itu akan membuka matanya sebentar lagi, akhirnya Rani berpura-pura menutup matanya.
Setelah beberapa saat ia tak mendengar apapun sehingga ia berpikir mungkin saja Tama kembali tidur, Rani memberanikan dirinya untuk membuka sedikit matanya untuk mengintip Tama, dan betapa terkejutnya Rani, karena Tama ternyata tengah menatapnya dengan mata terbuka.
Rani kembali menutup matanya rapat-rapat dan hal tersebut berhasil membuatnya tampak bodoh di hadapan Tama.
“Nggak bisa tidur?” tanya Tama kemudian.
Rani akhirnya membuka matanya pasrah, karena sudah ketahuan, “Kamu marah?”
Tama mengehela napas, “Enggak.”
“Trus kenapa diam aja?” Rani tak sadar mengerucutkan mulutnya bak anak kecil.
“Sakit banget rasanya, istri aku belain orang lain,” ucap Tama dengan matanya yang sendu.
“Maksud aku bukan gitu, Tama.”
“Lalu?”
Rani memainkan tali guling yang ada diantara mereka, “Ya, aku cuman mengutarakan apa yang aku tahu.”
“Maksud kamu, yang kamu kenal dan tahu hanya Rafi?”
Rani mengangguk, “Untuk saat ini iya, toh kamu tahu sendiri kita kenal baru mau sebulanan mungkin? Sedangkan Rafi aku sudah tahu dia salam dua tahun.”
“Aku juga lebih lama mengenal Rafi.”
Rani mengangguk setuju dengan apa yang Tama katakan, “Iya aku tahu, tapi toh seseorang akan punya banyak definisi di mata tiap orang yang mengenalnya.”
“Maksud kamu?” Tama sedikit kesulitan mengerti kalimat Rani.
__ADS_1
“Maksudnya gini, misalnya aku nih, bisa aja di mata kamu aku perempuan yang nyebelin dan bawel, nah tapi di mata Yori, aku Rani yang dewasa, tegas. Jadi maksud aku kita akan punya arti yang berbeda-beda di mata tiap orang, karena emang manusia punya sisi yang di tonjolkan tergantung di mana, dan sama siapa.”
Tama mengangguk faham, “Jadi berlaku juga untuk Rafi yang berbeda di mata aku dan di mata kamu gitu?”
“Iya, sama juga kaya kamu di mata aku dan Ibu pasti berbeda.”
“Kalau di mata kamu aku seperti apa?”
Rani menatap Tama malas, “Nyebelin.”
“Ganteng kali, orang kamu dari tadi ngelihatin aku kan?” Tama menatap Rani dengan tatapan jail.
Rani
mendorong Tama kesal, “Ih, enggak. Enak aja.”
Tama tertawa sebelum ia kembali serius, “Tapi kamu tadi belain Rafi.”
“Ya, karena itu apa yang aku tahu Tama. Lagi pula, mau Rafi masih deketin atau atau enggak, toh aku sudah jadi istri kamu. Walaupun aku masih dalam proses menerima aku nggak akan melewati batas kali,” tutur Rani panjang lebar.
“Beneran?” Tama berakting layaknya anak-anak yang minta permen.
“Dih apaan sih, jangan lebay. Itu prinsip aku dari dulu, nggak akan selingkuh.”
Rani tak menghiraukan lagi apa yang pria itu katakana dirinya membalikkan tubuhnya, “Udah ah, ngantuk aku.”
Tama tahu jawabannya, pastilah Rani memilih Rafi dibandingkan dirinya namun ia merasa sedikit tenang setelah mendengar penjelasan dari perempuan itu.
Tama melihat ponselnya yang berkedip-kedip di atas meja kecil di samping tempat tidur, ternyata Rego menelponnya, namun begitu Tama mengangkat panggilan tersebut Rego mmeutus sambungannya.
Tama merasa heran tak biasanya, Rego salah satu teman SMA nya itu menelponnya, terlebih dia sudah lama tak bertemu temannya itu, mungkin terakhir kali di villa Elgin, tepat saat dirinya bertemu dengan Rani.
Tak hanya itu salah satu grup Sohib Sampai Mati, yang berisikan teman-teman SMA nya itu pun tampak ramai, karena pesan yang masuk bersahut-sahutan, sedikit penasaran Tama membukanya.
SOHIB SAMPAI MATI
Juwita: Guys! Kumpul yuk, kangen! L
Mira Luciana P: Boleh,,,,,,,
Elgin Purnawan: Malez, di sini ada pengkhianat makan sisaan temen sendiri. BANCI
Waren Danureja R: KICK AJA!
__ADS_1
Rego N :BACOT LO WAREN!
Waren Danureja R:Kenapa lo yang sewot?
Mira Luciana: kalian nggak boleh gitu, so sad kalau kita harus berantem.
Fauzan Ibrahim: Ada apaan sih?
Dimas Pangestu: 2
M Fauzan: 3
Juwita: Ada apa sayang-sayangku?
Waren Danureja R: Najis!
Juwita: TAI
Elgin Purnawan: Rafi lo keluar dong. Perlu gue kick nggak sih orangnya?
Juwita: BTW Tama kenamana? Kok nggak pernah nongol sih?
Elgin Purnawan: Ga penting juga dia nongol!
M Fauzan: Sebenarnya ada apaaan sih? Gue nggak tahu apa-apa
Elgin mengelurkan anda
Tama bingung apa yang sebenarnya mereka bicarakan, seingatnya ia tak pernah melakukan kesalahan apapun pada mereka, kecuali Rafi. Namun itu sudah hal yang biasa, bahkan selama ia berteman dengan mereka pun, Tama selalu menjadi pihak yang tak terlihat, ataupun jadi orang yang selalu di suruh-suruh doang, tapi entah kenapa Tama dimasukkan kedalam geng mereka.
Bahkan Retno salah satu teman satu sekolahnya saat SMA pun mempertanyakan hal tersebut setelah sekian lama mereka bertemu lagi, mengapa Tama masih betah berteman dengan teman-temannya itu, namun Tama memilih untuk tak banyak berkomentar.
Sebenarnya Tama hanya merasa berutang budi karena pernah satu kali teman-temannya yang kaya itu membantu Tama membayar uang sekolahnya, namun ya tetap ada yang harus Tama lakukan yaitu mengerjakan semua tugas teman-temannya.
Meski begitu ada Fauzan, stu-satunya orang yang menurut Tama tak pernah mengganggunya, tapi tetap saja yang lain tak segan mengganggu Tama, yang paling membuatnya sakit hati saat mereka mengatakan dirinya anak tak diinginkan karena Tama bahkan tak pernah bertemu dengan Ibu dan Ayahnya.
Baru beberapa tahun belakangan mereka tak begitu mengusiknya lagi, bahkan sewaktu mereka berkuliah dan Tama sudah mulai bekerja serabutan dirinyalah yang diminta bolak-balik memfotocopy tugas atau bahkan mencari bahan keperluan kuliah mereka.
Jadi tak masalah kalau sekarang Tama tak terlalu dekat dengan teman-temannya lagi, ia memilih meletakkan ponselnya begitu saja, ada banyak hal yang lebih penting lainnya yang harus dirinya pikirkan.
[]
Ps. Semoga sampai ya pesan yang mau aku sampaikan ke kalian, jadi tu posisi Tama kaya ya dia berteman dengan mereka tapi toxic aja gitu, tapi ya di ajak mulu, gitu deh hehehehe maaf ya :)
__ADS_1