MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 25 : P e r n i k a h a n


__ADS_3

Akhirnya tiba hari di mana Rani akan menikah dengan Tama, ia menyadari satu hal wajah kedua orang tuanya tak sesedih wajah orang tua Mbak Wiwit waktu itu, sebaliknya Bapak dan Ibu tampak tersenyum dengan tenang, Rani pun bingung bukankah biasanya ini jadi momen haru biru, atau mungkin saja karena Bapak dan Ibu yakin


bahwa anaknya akan menikah dengan orang yang baik jadi mereka tak mengkhawatirkan banyak hal?


Rani merasa heran namun ia kembali fokuus menenangkan dirinya sendiri, kini ia telah duduk tepat di samping Tama dengan kebaya serba putih, lebih tepatnya putih agak kuning karena Rani mengenakan kebaya Ibunya dulu, kini tampak begitu pas di tubuhnya.


Mbak Wiwit yang perutnya sudah terlihat semakin besar menemani Rani tepat duduk di belakangnya dan ada Ibu di samping Mbak Wiwit. Sesekali perempuan itu akan berbisik pada Rani untuk sekedar menanyakan bagaimana perasaan Rani, dan menyuruh Rani utuk tidak tegang.


Dari pada Rani kini Tama lebih butuh ditenangkan, sedari tadi lelaki itu sudah sibuk mengusap-ngusap tangannya yang basah, belum lagi berulang kali memastikan nama panjang Rani apakah sudah di sebut dengan benar atau belum, Rani sampai kesal ditanya berulang kali.


Sedangkan Rafi seperti yang pria itu katakana, di atetap kekeuh ingin menyaksikan akad nikah Rani dengan Tama. Inilah yang membuat Rani sedikit sedih, pasalnya dengan Rafilah Rani sebenarnya ingin menikah, namun takdir berkehandak lain.


Apa yang dimaksud Bapak pernikahan yang sederhana dan seadanya ayaitu mengadakan akad nikah di Masjid dekat rumah mereka, Rani tentunya tak masalah dari pada riweh memikirkan segala macam printilan dekorasi, lebih baik seperti ini.


Tinggal mendatangkan penghulu, serta keluarda dan saudara dekat pernikahan sudah dapat


dilangsungkan, yang penting perkara-perkara seperti rukun pernikahan tetap terpenuhi sudah bisa menjadi suami istri tanpa banyak memakan biaya.


Penghulu sudah datang siap dengan berbagai berkas pernikahan yang dibutuhkan, begitu juga dengan para tama yang sudah standbye untuk menyaksikan terikatkan hidup dua insan perempuan dan lelaki yang dipertemukan malam itu.


Rani baru mulai deg-degan waktu Bapak sudah berjabar tangan dengan Tama yang wajahnya sudah pucat tak karuan.


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,” penghulu membuka dengan mengucap salam.


Setelahnya beliau bertanya pada Bapak dan para saksi serta Tama apakah sudah siap untuk melangsungkan acara ini yang kemudian di angguki semuanya termasuk Rani.


Momen berikutnya mampu membuat Rani menahan napasnya saat Bapak mulai mengucapkan Ijab Qabul, “Saya Nikahkan anak saya Rani Ayu Handini dengan enkau Tama Surya Bimana dengan seperangkat sholat serta uang tunai sebesar satu juta rupian di bayar tunai.”


Tinggal selangkah lagi, Tama mengucapkan kalimatnya maka sah Rani akan menjadi istrinya.


Rani meremas kebaya yang dia pakai, ia berusaha mengintip Rafi yang tepat di belakang Bapak dan benar ternyata sedari tadi pria itu pun menatap Rani.


“Saya terima nikah dan kawinnya Rani Ayu Handini binti Burhan dengan maskawin tersebut tunai,” ucap Tama dalam sekali napas.


“Bagaimana para saksi?” suara penghulu menanyakan pada para saksi yang kemudian di jawab dengan serentak, “Sah.”


“Alhamdulillah,” jawab penghulu dan seluruh tama yang hadir.


Tama mengulurkan tangannya untuk di cium oleh Rani, tentunya Rani hanya dapat menerimanya karena ada banyak orang di sana, ia tak mungkin menolak hal tersebut.


Namun kemudian ia menyadari punggung Rafi yang berjalan keluar dari Masjid, memang hal ini tak mudah bagi mereka, Rani berdoa dalam hati, semoga hal baik selalu menyertai kamu Rafi, maaf aku harus menikah dengan sahabat kamu sendiri.

__ADS_1


Masih memandangi kepergian Rafi, Rani terkejut karena pundaknya tiba-tiba di sentuh seseorang.


“Rani kamu nggak apa-apa?” ternyata Tama yang bertanya.


Tama kemudian melihat ke arah tatapan Rani, “Kamu masih berharap sama Rafi ya, maafin aku ya.”


Rani tersenyum lemah, meski itulah jawabannya namun hati kecilnya saat ini berusaha untuk menerima Tama.


Acara selanjutnya dilanjutkan dengan salaman dengan para tamu, Rani dapat mendnegar sayup-sayup budenya membicarakan dirinya karena tak melangsungkan pernikahan adat Jawa seperti pada umumnya.


“Nikah seumur hidup sekali kok cuman begini.”


“Hamil mungkin,” jawab yang lainnya.


Rani menahan diri untuk tak menjawab, sabar-sabar, batinnya. Tama ternyata mendengar hal tersebut, pria itu menggenggam tangannya Rani berusaha menenangkan.


“Tapi perutnya kecil.”


Rani hampir tertawa mendengar hal itu, ia bahkan melirik Tama di sampingnya yang juga tertawa geleng-geleng kepala.


“Udah jangan di dengerin ya,” Tama mengelus kembali pundak Rani.


Bapak dan Ibu turut berdiri di samping Rani dan Tama untuk bersalaman dengan para Tama, namun karena kedua orang tua Tama tak dapat hadir Pakdhe Marno dan istrinyalah yang menggantikannya.


Tama tersenyum, entah kenapa setelah ijab Kabul Tama semakin sering tersenyum, “Nggak masalah dong, aku sudah merasa bersyukur banget.”


“Kenapa ?” tanya Rani.


“Udah bisa jagain anak aku, dan,,,,,” Tama diam sejenak.


“Dan apa?” tanya Rani tak sabaran.


“Dan istri aku?”


Rani memutarkan bola matanya, “Nggak usah sok manis,” decih Rani.


“Masih jutek aja,” protes Rama.


Rani tak menghiraukan gerutuan lelaki itu lagi, ia sibuk bersalaman dengan saudaranya yang ternyata masih lumayan banyak.


Setelah semua acara selesai Rani beserta keluarganya kembali ke rumah, namun kali ini tentunya Rani tak sendiri ada Tama yang telah sah menjadi suaminya.

__ADS_1


Saat Rani masuk kedalam kamarnya Tama berpikir keras untuk tetap di luar atau mengekori Rani, tetapi rasanya ia masih sungkan kalau belum Rani sendiri yang mengizinkannya untuk masuk ke tempat pribadi Rani lebih jauh, meskipun dirinya kini sudah suami perempuan itu.


“Lho, Nak Tama ngapain di luar gitu, masuk lah. Rani suamimu kok kamu biarin di luar,” Ibu yang menyadari kekikukan Tama akhirnya angkat bicara.


Rani kemudian membuka lebar pintu kamarnya, “Tinggal masuk aja kenapa ribet deh, nyampe Ibu harus turun tangan.”


Tama mengerucutkan mulutnya, dirinya hanya ingin menghormati Rani makanya dia nggak asal nyelonong malah di omelin Rani yang juga telah sah menjadi istrinya sejaman ini.


“Ya maaf, kamu nggak nyuruh aku masuk.”


Ternyata kamar Rani tak banyak barang, hanya ada satu tempat tidur serta meja kecil di sampingnya dan satu lemari besar.


Tama duduk di tepi ranjang sedangkan pemilik kamar itu sibuk menghapus make up tipis-tipisnya selepas acara akad tadi.


“Kamu mau tinggal di sini, atau balik ke Jakarta?” tanya Tama menatap Rani dari kaca lemari.


Rani membalikkan tubuhnya menatap Tama, “Kamu belum tahu ya, kalau aku tulang punggung keluarga.”


“Udah, dari Rafi.”


Rani kembali menggosok mukanya karena ternyata Mbak Wiwit memberi foundation sedikit tebal membuat Rani harus ekstra sabat membersihkan mukanya.


“Aku harus tetap kerja, jadi ya balik ke Jakarta.”


“Tapi kan, kamu lagi hamil. Aku aja ya, yang kerja?” bujuk Tama, meskipun ia tahu pekerjaannya masih belum tetap, tentunya Rani kini menjadi tanggung jawab Tama sepenuhnya.


“Yakin? Bapak dan Ibu gimana? adek-adek aku sekolahnya gimana? Kamu mau biayain mereka?”


“Aku pasti mau Rani, tapi memang masalaku pekerjaan aku masih nggak tetap.”


“Nah itu jadi masalah. Mana bisa aku diam di rumah, sedangkan kamu nggak bisa jamin kalau kebutuhan kita nanti akan tercukupi.”


Tama sedikit terluka dengan perkataan Rani, namun memang benar adanya untuk saat ini Tama tak dapat menjanjikan apapun.


“Aku akan berusaha keras. Sebisa mungkin, apapun akan aku kerjakan yang penting halal.”


“Terserah kamu,” jawab Rani pendek.


“Tapi ngomong-ngomong kamu cantik,” kata Rafi polong yang sedari tadi memperhatikan setiap gerakan perempuan yang kini istrinya itu.


Rani menatap Tama dari kaca heran, perempuan itu bahkan tak begitu terpengaruh dengan perkataan Tama barusan, sebaliknya ia mengingatkan realitas pernikahan yang harus mereka jalani.

__ADS_1


“Ayo fokus, fokus. Akan ada banyak kebutuhan yang harus kita pikirin sekarang.”


[]


__ADS_2