MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 60 : K e j u t a n


__ADS_3

Tama kembali pada pekerjaannya sedangkan Rego sudah pamit sejak tadi karena ada pekerjaan mendesak, katanya.


Meski Tama masih tak percaya dengan apa yang Rego coba jelaskan tadi, namun tetap saja Tama menghargai permintaan maaf temannya itu.


Mau bagaimanapun Tama tahu bahwa setiap manusia melakukan kesalahan, begitupun dengan dirinya. Siapa dia berhak menyimpan dendam, sedangkan Tuhannya maha pemaaf.


Sebentar lagi masuk waktu magrib, berarti sudah waktu dirinya membersihkan diri, karena nanti tugasnya live music bersama Aya.


Saat Tama tengah mencuci tangannya Retno menyodorkan segelas coklat dingin, "Lo anterin ya, ke meja nomor tujuh, nomor tujuh ya."


"Kenapa nggak elo aja, gue mau sholat nih, nanti mulai latihan sama Aya," ucap Tama yang keberatan.


"Bentar doang, lagian nanti lo nyesel lho kalau enggak mau nganter," ujar Retno sedikit terlihat menggodanya.


Tama mengusap tangannya yang basah terlebih dahulu, "Buat siapa sih?"


"Lihat aja sendiri," ujar Retno mengangkat bahunya.


Tak ingin berdebat terlalu lama dengan temannya itu Tama segera mengantar pesanan terlebih sudah terdengar azan magrib di masjid sebelah.


Betapa terkejutnya Tama saat mengetahui Rani duduk di meja nomor tujuh itu, ia mengedipkan matanya berkali-kali untuk memastikan apakah yang dilihatnya itu nyata atau tidak.


Rani menatapnya heran, "Kenapa? Kelilipan?"


Tama masih tak percaya dengan apa yang dirinya lihat, "Sayangku? Rani? Ini beneran kamu?"


Tama meletakkan segelas coklat di atas meja sebelum mencubit pipi Rani, "Ya ampun beneran kamu? Kesini naik apa? Kenapa tadi nggak minta aku jemput kamu?"


"Aw! Tama sakit!" Rani menyingkirkan tangan Tama yang masih menarik pipinya.


"Maaf, maaf. Aku seneng banget lihat kamu di sini," ucap Tama bersemangat, ia bahkan duduk di hadapan Rani tanpa menghiraukan pelanggan lainnya.


Rani mengusap pipinya, "Aku penasaran sama tempat kerja kamu. Tadi aku mau langsung ketemu kamu, eh waktu aku nanyain kamu ke Mbak itu malah disuruh duduk di sini," jelas Rani yang kemudian menunjuk Retno yang ternyata melihat ke arahnya.


Tama tersenyum senang, pantas saja Retno menyuruhnya mengantar pesanan ini, pastilah temannya itu telah menduga kalau ini Rani.


"Itu Retno namanya, pasti dia udah nebak kalau kamu istri aku."


Rani mengernyitkan dahinya, "Kok mereka bisa tahu?"

__ADS_1


Tama merogoh ponsel di saku celananya, ia membuka tombol kunci sehingga layarnya menyala, tepat saat itu gambar seorang perempuan yang tengah melamun terlihat.


"Lho, itu aku, kapan kamu motonya?"


"Pas kita di kampung, kamu lagi bengong di teras nggak tahu ngelihatin apa. Aku poto deh, lucu soalnya. Jadi kalau orang nanyain istri aku tinggal aku kasih lihat ini," jelas Tama sambil masih memerhatikan foto di ponselnya, "Aku seneng banget kamu kesini, soalnya mereka juga penasaran sama kamu."


Selama ini Rani tak sadar kalau fotonya Tama jadikan wallpaper, untung saja bukan untuk menakuti tikus.


"Ih, kok yang itu. Kamu kalau ngasih lihat yang pas aku cantik gitu lho, kaya gini misalnya. Ayo poto aku dulu," suruh Rani yang siap berpose dengan gelas coklat di tangannya.


Tama tertawa melihat tingkah Rani, "Enggak, tetap cantikan ini."


Pria itu kemudian memasukkan kembali ponselnya.


"Ngeselin banget," gerutu Rani.


"Kamu mau ngapain aja cantik Rani, mangap pas tidur juga cantik banget. Untung nggak ileran," ucap Tama santai.


Namun beberapa detik berikutnya ia harus menerima pukulan Rani bertubi-tubi.


"Suami macam apa kamu Tama! Ngomongin aib istrinya di depan umum gini ya Allah! Dosa apa aku punya suami yang menguji kesabaran setiap hari."


"Cie, pengantin baru masih anget-angetnya nih!" seru Retno membuat Rani menghentikan gerakannya.


Dua perempuan yang mengenakan seragam sama dengan Tama, serta satu lagi dengan pakaian kasual sudah berada di meja mereka.


"Iya, bikin iri aja. Pantesan Bang Tama bucin banget, Kak Rani aja imut gitu ya Kak?" ucap Aya menambahi.


"Iya, kok lo mau sama Tama si Ran?" kali ini Laras turut menggoda Rani.


Rani tertawa malu-malu, "Sebenarnya terpaksa kak."


Tama memasang muka yang dibuat-buat seperti terluka, "Rani, kok kamu jahat sih."


"Cih, jijik banget lo kalau ada Rani," cibir Retno, "Emangnya dia selalu gitu kalau di rumah Ran?"


Rani mengangguk, "Iya, lebih parah. Malahan nangis mulu kak cengeng dia."


"Rani, ya Allah. Aku nggak nyangka kamu sejahat ini sama aku," ucap Tama semakin dibuat-buat.

__ADS_1


"Pada solat dulu kalian, Tama lo juga harus siap-siap," ucap Laras mencoba mengingatkan teman-temannya.


Tama meraih tangan Rani, "Sholat dulu yuk sayangnya aku."


"Najong, pergi deh lo!" usir Retno membuat Tama dan Rani tertawa terbahak-bahak.


Tama menggandeng tangan Rani meninggalkan cafe, "Retno emang galak dia, jangan kaget ya."


"Seru kayanya kerja di sini," ucap Rani kemudian.


"Kamu mau kerja di sini?"


"Enggak gitu juga dong," kesal Rani membuat Tama kembali ia cubit.


"Ya ampun badan aku sakit semua kalau gini Rani," keluh Tama membuat Rani semakin ingin mencubitnya.


Mereka berjalan beriringan menuju masjid terdekat.


"Tapi, kamu kok kesini tumben. Apa tadi pagi Rafi ngomong sesuatu?" tanya Tama yang masih penasaran kenapa Rani tiba-tiba datang ke tempat kerjanya.


"Nggak ada, aku emang pengen ngasih kejutan aja," kata Rani membuat Tama mengeratkan genggamannya pada tangan Rani.


"Makasih ya, aku seneng banget ini. Tapi aku nanti pulangnya malam banget, Kamu mau pulang duluan? Tadi naik apa ke sini"


Rani menggeleng, "Enggak, aku pengen lihat kamu jadi anak band dulu. Tadi naik ojek online, soalnya belum tahu daerah sini."


Tama tertawa, "Aduh, jadi malu aku kalau kamu mulai manis gini."


Rani menatapnya tak percaya, "Bener kata Retno tadi."


"Apa emang?" tanya Tama penasaran, apa yang telah Retno katakan pada Rani.


Rani menghentikan langkahnya, ia harus mendongak agar dapat menatap pria itu, "Kamu semakin menggelikan."


Setelah mengucapkan hal itu Rani berlari mendahului Tama yang siap protes.


"Rani jangan lari - lari, kasian anak aku."


[]

__ADS_1


__ADS_2