
Seperti yang Tama katakan pada Rani, hari ini pria itu akan mengambil barang-barangnya di kontrakan lama.
Jakarta pagi ini cerah saat Tama tiba di kontrakannya, tak seperti biasa terlihat Babe Jerris, pemilik kontrakan sekaligus orang yang mengizinkan Tama untuk tinggal secara gratis tengah membersihkan area kontrakan, pria itu menyadari kehadiran Tama.
“Ya Allah, kamu dari mana aja Tama? Kenapa di hubunginnya susah banget. Emak sampe khawatir anak lakinya nggak pulang-pulang, maen judi lo? mulai macem-macem ye?”
Tanpa ba-bi-bi Babe Jerris langsung melontarkan berbagai tuduhan pada Tama, sedangkan yang di marahi hanya tertawa maklum.
Tama mendekat mencium tangan Jerris yang sudah ia anggap ayahnya sendiri, “Maaf Be, aku kemaren pulang ke kampung istri.”
Jerris langsung melotot mendengar apa yang baru saja Tama katanya, “Apa lo bilang? Istri? Kapan lo kawinnye tong?”
“Astagfirullah, siapa yang kawin? Lo jangan semaunya sendiri Tama dulu Nenek nitipin kamu ke kite biar ngga jadi anak nakal, kenapa sekarang maen nikah aje tanpa bilang sama kite?” Emak yang baru saja keluar langsung turut mengomeli Tama.
“Maaf Mak, Be, semua terjadi dadakan, jadi Tama nggak bisa ngasih tahu Emak sama Babe. Lagian kalau cowok kan nggak perlu wali kalau mau nikah,” jelas Tama kini mengambil alih sapu dari tangan Jerris.
“Elo ye, udah gue anggep anak sendiri bisa-bisanya lo mikir nggak perlu ngasih tahu hari bahagia lo, bener-bener ni anak,” Jerris geleng-geleng kepala kesal melihat Tama yang sudah dianggap anaknya itu tak melakukan hal yang sama padanya dan istrinya.
Tama meletakkan tasnya di depan kontrakan sebelum melanjutkan apa yang tadi Jerris kerjakan, “Ya Maaf, Be nanti aku bawa ke sini ya istri aku, behhhh pasti Emak sama Babe langsung suka. Cantik banget istri Tama.”
Tama membanggakan istrinya dengan jumawa, namun selain itu ia berusaha mengalihkan pembahsan agar tak di omeli lagi oleh keduanya.
“Bener ye? lo kudu bawa itu bini lo ke sini,” tutur Emak menuntut Tama menepati janji.
Tama terkekeh, “Iya Mak, pasti. Yaudah Tama bersih-bersih dulu.”
Tama membersihkan seluruh halaman kontrakan, meskipun tak begitu luas namun memakan waktu cukup banyak, untuk membersihkan halaman kontrakan terlebih dirinya harus membersihkan rumput liar di sekitarnya.
Kontrakan Babe Jerris terletak tepat di samping rumahnya, ada lima kontrakan yang juga masih satu perkarangan dengan rumahnya sehingga masih bisa dipantau. Dari kelima kontrakannya satu di huni oleh Tama sehingga pria itu pun dekat dengan penghuni kontrakan lainnya.
Sekitar pukul 10.33 Tama akhirnya menyelesaikan semua pekerjaannya, ia memilih untuk segera membersihkan diri terlebih seluruh tubuhnya terasa sangat lengket.
Namun Tama harus mengundur waktu mandinya karena saat membuka kamar yang beberapa malam ia tinggal ternyata sudah penuh oleh debu. Tama membuka spreinya, dan merendamnya di bak kamar mandi, saat tengah membersihkan kamar Babe Jerris masuk ke kamarnya.
“Kenapa Be, jangan kesini dulu Tama mau bersih-bersih banyak banget debunya,” tuturnya melihat Jerris yang masuk.
Jerris mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, “Nih, buat lo.”
Tama harus menghentikan kegiatannya untuk melihat apa yang Jerris letakkan di atas lemari kecilnya, “Apa ini Be?”
Ternyata itu amplop putih yang berisi beberapa lembar seratus ribuan,”Ini buat apa Be?”
“Lo beliin deh apa aja kesukaan bini lo, beliin dia baju yang bagus, makanan yang enak,” ucap Jerris.
Tama hampir saja menangis, ia sangat terharu bersyukur masih memiliki orang baik di sekitarnya.
“Makasih ya Be, tapi ini banyak banget.”
Jerris mengibaskan tangannya, “Mana ada, itu cuman dikit. Udah ye, emak tadi minta dianter ke pasar. Pokoknya pesen gue lo jaga lah itu bini lo.”
Tama mengangguk masih dengan air mata yang ia tahan, “Iya Be, pasti. Makasih banyak ya Be.”
__ADS_1
Tama senang bukan main, memang sisa uangnya menipis sekali akhirnya ia mengalami sendiri mendapat rezeki setelah menikah, bener-bener nggak disangka. Tama semakin yakin yang penting dirinya usaha pasti akan Allah mudahkan jalannya.
Dengan hati riang Tama segera menyelesaikan pekerjaannya, karena hari ini ia akan mengunjungi salah satu café temannya yang ia hubungi kemaren, semoga saja memang peluang untuknya. Namun sebelum itu Tama akan membelikan makan untuk Rani terlebih dahulu, sangking senangnya Tama tak sadar sedari tadi ia bersenandung.
Berbeda dengan Tama yang tengah bersemangat, Rani tampak sebaliknya. Perempuan itu mondar-mandir di depan kamarnya merasa cemas menunggu kedatangan mantan kekasihnya.
Tadi pagi Rafi yang sudah beberapa hari ini tak mengabarinya akhirnya menelpon Rani, menanyakan apakah dirinya kembali lagi ke Jakarta atau tidak.
Setelah pria itu tahu Rani telah tiba di Jakarta kembali, Rafi begitu saja ingin menemui Rani. Meski awalnya Rani menolak, namun Rafi tetap meminta bertemu dengan dalih tak masalah tetap berhubungan sebagai teman.
Rani bingung apakah dirinya harus memberi tahu pada Tama, yang sekarang sudah berstatus sebagai suaminya atau tidak perihal kedatangan Rafi, namun saat Rani membuka ponselnya ia teringat bahkan kontaknya Tama belum tersimpan dalam ponselnya itu.
Akhirnya Rani berusaha menyingkirkan berbagai hal negatif di pikirannya, lagi pula tak ada salahnya berteman dengan Rafi, pikirnya kemudian.
Tak berselanng lama akhirnya mobil HRV berwarna silver memasuki gang kompleks kostan, Rani sudah hapal betul dengan mobil tersebut.
“Hai,” sapa pria itu menurunkan kaca mobilnya.
Rani hanya tersenyum menanggapinya, ia tahu ada batasan yang harus Rani jaga bagaimanapun ia saat ini telah menjadi istri seseorang.
Rafi turun dengan membawa entah apa banyak sekali dalam kresek besar putih, yang masih tak di ketahui Rani apa isinya.
“Kamu habis belanja?” Tanya Rani.
Rafi tersenyum simpul, “Iya, habis belanja. Buat kamu.”
“Ha? Buat aku? Buat apa?” tanya Rani bingung.
Rani duduk tepat di samping Rafi, “Raf, kamu nggak perlu lakuin ini semua buat aku. Kita sudah selesai.”
“Iya aku tahu Rani, nggak ada salahnya kan kita tetap berteman. Udah ah, jangan terlalu kamu pikirin, ambil pisau sama piring gih, kita makan buah sama-sama,” ujar Rafi meyakinkan Rani.
Rani akhirnya hanya dapat menurut dengan apa yang Rafi katakan, apa yang pria itu katakan ada benarnya juga selama mereka berdua tak melakukan sesuatu yang melanggar aturan sah-sah saja.
Saat Rani hendak mengupas buah yang Rafi bawa, pria itu menghentikan gerakannya “Udah, sini aku aja yang ngupasin, pokoknya bumil terima beres aja ya.” Rafi mengambil alih pisau dari tangan Rani.
Rani tertawa menanggapinya, “Yaampun nggak apa-apa, Rafi.”
Rafi mulai mengupas buah apel, “Kalau ada aku pokoknya kamu cukup duduk masih aja ya, aku jadi penasaran anak kamu nanti cewek apa cowok ya?”
Rani tertawa, “Iya, kira-kira cewek apa cowok ya, menurut kamu apa?”
Rafi menatap Rani sejenak, “Em, kayaknya cewek deh, soalnya kamu makin cantik gitu.”
“Ih, bisa aja kamu! siapa sih yang ngajarin ngegombal,” Rani mendorong pelan bahu Rafi, keduanya tertawa bersama.
“Iya, Rani. Kalau aku sih nebak anak kamu nanti perempuan, pasti cantik banget mirip kamu,” ucap Rafi.
Rani kemudian teringat sesuatu, “Lho, kok kamu nggak masuk kerja hari ini?”
“Hari ini tanggal merah Rani, kebiasaan deh pasti nggak lihat calender ya?” Rafi mencubit pipi Rani.
__ADS_1
“Aduh, ya mana aku tahu di ponsel aku tanggalnya hitam semua,” Rani mengaduh kesakitan.
Rafi tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Rani, keduanya bertukar cerita hingga lupa waktu bahkan saat terdengar deru motor memasuki halaman kost Rani, mereka tak menyadarinya.
“Asik banget kalian berdua,” ucap seseorang.
Rani menoleh untuk melihat seseorang di belakangnya, “Tama? Kamu bawa motor?”
“Iya, aku sekalian ambil motor tadi,” Tama mengambil kresek hitam yang tersangkut di motornya, “Kamu udah makan belum? Aku bawa makanan.”
“Aku udah makan bubur tadi,” ucap Rani.
“Syukurlah. Fi, apa kabar lo? Balik Jakarta nggak bilang-bilang,” Tama beralih pada Rafi yang masih mengupas buah di samping istrinya.
Rafi mengangkat wajahnya untuk balik menyapa Tama, “Iya, ada kerjaan. Ran, nih kamu makan dulu.”
Rafi menunjuk potongan apel yang telah tersaji di piring, namun bukan Rani yang mengambilnya justru Tama langsung menyomot begitu saja.
“Wah, makasih ya, lo perhatian banget sama bini gue,” ucap Tama.
“Ye rese banget lo, orang ini gue beli buat Rani bukan buat lo,” ujar Rafi menarik piring tersebut dan menyerahkannya pada Rani.
Rani kikuk berada di tengah dua pria itu, Tama tentu saja menyadari hal tersebut. Awalnya memang Tama merasa bersalah dengan Rafi, namun entah kenapa melihat Rafi masih berusaha mendekati Rani membuat Tama sedikit jengkel.
“Rani kamu jangan lama-lama ya di luar, soalnya polusinya parah di Jakarta sekarang. Aku pergi dulu ya,” pamit Tama setelah menyerahkan kresek bawaannya ke tangan Rani.
“Kamu mau kemana?” tanya Rani penasaran.
“Ada urusan sebentar, nanti aku langsung pulang kok,” tutur Tama.
“Iya jangan lama-lama, Ibu kost tadi nanyain pengen ketemu sama kamu,” jelas Rani, memang tadi pagi Rani sempat bertemu Bu Lina, yaitu pemilik kost, Rani mengatakan bahwa dirinya akan tinggal bersama suaminya, sehingga Bu Lina ingin bertemu terlebih dahulu dengan Tama.
“Oke, nanti aku langsung pulang ya,” Tama mengelus pundak Rani, buka apa-apa ia ingin membuat Rafi kepanasan, “Rafi, lo langsung cabut jangan lama-lama di sini.”
“Tenang, gue bentar lagi juga balik. Mau mastiin dulu Rani makan buahnya,” jawab Rafi tak kalah ingin membuat Tama kesal.
“Oke deh. Rani aku pergi dulu ya, kamu hati-hati di rumah, siapa tahu nanti ada yang mau nyulik kamu gitu,” ucapnya terang-terangan melihat ke arah Rafi.
“Maksud lo apa?!” Rafi ternyata menyadari hal tersebut, dan hal itu dapat memancing amarahnya.
“Udah-udah! Sana kamu kalau mau pergi ya pergi aja.”
Rani mengusir Tama begitu saja, berharap tak terjadi keributan di antara kedua pria dewasa itu.
Tama akhirnya bergegas meninggalkan Rani, meski begitu sebelum menjalankan motor meticnya, ia beberapa kali melihat kebelakang, betapa semakin kesalnya Tama melihat Rani yang dapat tertawa dengan Rafi, kalau sama aku mana pernah kamu terlihat sebahagia itu Ran, gerutunya.
[]
Now playing 🎼Risalah Hati - Dewa19
Ps. Tama bawa motor sambil cemberut :(
__ADS_1
BTW si Tama Suamiable banget nggak sih? Peka pinter beberes rumah lagi, pokoknya Rani nggak akan dibiarin capek 😍