
Rani membuka matanya saat ia menyadari bus mereka ternyata telah berhenti di peristirahatan, langit sudah gelap berarti waktunya makan malam. Rani menguap sebelum akhirnya ia menyadari posisinya saat ini yang tengah bersandar pada seseorang.
“Astagfirullah,” refleks Rani segera bangun menegakkan tubuhnya.
Ia melihat Tama yang masih lelap tidur dengan posisi bersandar pada kursi penumpang sepenuhnya. Tama bergerak-gerak yang membuat Rani segera mengalihkan pandangannya, takut ketahuan telah memperhatikan pria itu.
Tama merenggangkan tubuhnya setelah ia membuka mata, “Udah sampe ya?” tanya pada Rani.
Lelaki itu kemudian menguap persis khas orang yang bangun tidur, Rani mengikat rambutnya yang sudah tak rapi lagi.
“Belum, ini baru istirahat.”
Tama menyadari Rani yang hanya mengenakan kaos panjang polos, sehingga dirinya mengeluarkan jaket dari dalam tasnya.
“Kamu pakai jaket ya, takutnya di luar dingin,” tutur Tama memberikan jaket denimnya pada Rani.
“Gausah, lagian aku nggak kedinginan,” tolak Rani, kini dirinya berdiri siap untuk turun mencari makan.
Tama menatap Rani memohon, “Rani, tolong ya dengerin aku. Aku nggak mau anak kita kenapa-napa.”
Rani memutar bola matanya, “Yaudah sini, ribet.”
Perempuan itu kemudian mengambil jaket di tangan Tama dan segera dirinya kenakan, “Seneng sekarang?” tanya Rani yang lebih terdengar ketus.
Tama tersenyum senang, “Seneng dong, ayok mau makan apa kamu?”
Tak sadar Tama menarik lengan Rani agar turun bersamanya, meskipun wajah Rani yang cemberut perempuan itu tak menolak.
Tempat peristirahatan mereka ternyata sangat bersih dan nyaman, ada banyak penjual oleh-oleh di sisi kanan sedangkan tempat makan di sisi kirinya. Namun suasanya tak begitu ramai seperti saat musim mudik hari raya atau hari besar lainnya.
Masih dengan posisi tangannya yang menggenggam tangan Rani, Tama mengamati semua menu makan apa yang akan dirinya pesan.
“Kamu pengen makan apa?” tanya pada Rani.
Rani pun melakukan hal yang sama, perempuan itu mencari-cari makanan yang sekiranya dapat mengisi perutnya malam ini, “Aku masih sedikit enek, kayanya pengen yang kuah-kuah deh.”
“Mau soto?” tawar Tama menunjuk salah satu etalase yang bertuliskan Soto Ayam Lamongan.
Rani kemudian mengangguk, “Tapi akum au ke toilet dulu.”
“Yaudah kamu ke toilet, nanti duduk di sana ya,” tunjuk Tama pada kursi kosong tepat di depan soto ayam Lamongan.
“Iya.”
Tama pikir dirinya dan Rani berpisah saat itu juga, Rani ke arah toilet dan ia akan memesan soto, namun tangannya tertahan sebelum melanjutkan langkahnya.
“Yaudah ini gandengannya, kalau tangan aku masih kamu pegangin gimana aku mau ke toilet,” tutur Rani mengangkat tangannya yang masih Tama pegang.
__ADS_1
Tama cengengesan, “Oh iya, maaf. Yaudah kamu ke toilet dulu.”
Tama salah tingkah dengan hal tersebut, ia merasa malu karena tingkah bodohnya semoga Rani nggak ilfeel batinnya.
Tama memesan dua porsi soto untuk dirinya dan Rani, karena setauhu Tama Rani suka makanan pedas Tama berinisiatif untuk meminta ekstra sambal secara terpisah.
Saat dirinya tengah duduk menunggu pesanan sambil menunggu Rani tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah barat, yang berarti letak toilet.
Seketika semua orang mendekati tempat terjadinya keributan karena penasaran dengan apa yang terjadi. Tama turut mendekat untuk melihat apa yang tengah terjadi, terlihat seorang perempuan yang ketakutan beberapa orang mulai mendekatinya untuk bertanya.
“Kenapa Mbak?” tanya seorang Ibu khawatir pada perempuan itu.
“Itu tadi di dalam ada yang ngintip,” ujarnya sambil bergetar.
Tama melihat ke arah toilet, ia mengitari pandangannya untuk mencari keberadaan Rani namun perempuan itu tampaknya masih di dalam sana.
Tak ada pilihan lain karena rasa khawatirnya Tama langsung masuk begitu saja ke dalam toilet perempuan untuk menemukan Rani, benar saja perempuan itu masih di dalam meringkuk di balik pintu toilet yang terbuka.
Tama langsung meraih Rani dalam dekapanya, Rani yang belum sadar bahwa lelaki itu Tama melakukan pemberontakan menolak.
“Pergi! Pergi!” suruhnya suaranya bahkan bergetar karena masih syok dengan apa yang telah
terjadi.
“Rani ini aku, tenang ya, tenang ada aku di sini.”
Tama mengelus punggung Rani lembut, berusaha menenangkan perempuan itu yang masih sangat terguncang.
Rani sesegukan sekujur tubuhnya kini dingin karena ketakutan, bahkan bicaranya terbata-bata yang membuat Tama merasa sangat sakit hati, dan juga menyadari begitu parah luka yang dirinya sebabkan pada perempuan ini.
Segerombolan orang kemudian masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan di dalam toilet, “Mbaknya baik-baik saja Mas?” tanya seseorang yang terlihat seperti petugas keamanan karena mengenakan seragam layaknya security.
Tama menggeleng, “Istri saya ketakutan Pak.”
“Ayo Mas, kita bawa keluar saja. Pelakunya sudah kami tangkap,” tutur petugas tersebut.
“Pelakunya siapa Pak?” tanya Tama tak sabaran, darahnya naik seketika ingin menghajar pelaku mesum tersebut.
“Seorang petugas kebersihan, setelah kita cari tahu ternyata dia sudah beberapa kali melakukan hal tersebut, namun sayangnya petugas kami baru mengetahui hal tersebut,” jelas petugas itu kembali.
“Kok bisa Pak? Ini sudah kesekian kali dan kalian baru tahu?!” Tama meninggikan suaranya karena merasa sangat emosi.
Kasus ini sangat penting, dan mereka mengatakan hal tersebut seakan mengentengkan kejahatan itu. Orang-orang mesumm seperti itu harus di hukum, bahkan di penjara agar merasa jera, pelecehan pada perempuan sangat meresahkan.
“Pak mendingan kita tenangin Mbaknya dulu ya?” ucap petugas itu kemudian.
Tama beralih pada Rani yang masih menangis dalam dekapannya “Rani kita keluar dulu ya.”
Tama membantu Rani untuk berdiri, ia tuntun tubuh Rani yang masih bergetar mencari tempat yang lebih tenang.
__ADS_1
Beberapa wanita yang tak Tama kenal turut mendekat untuk menenangkan Rani, bahkan seseorang memberikan Rani sebotol air mineral. Melihat hal tersebut Tama sedikit lebih tenang, ia kemudian teringat sesuatu yang akhirnya pamit untuk meninggalkan Rani sebantar.
“Rani kamu di sini dulu ya, aku nggak akan lama kok.”
Setelah mengatakan hal tersebut Tama mencari-cari di mana letak posko keamanan, ia merasa tak puas jika belum memberikan pelajaran pada penjahat yang telah membuat Rani ketakutan.
“Pak di mana tempat pelakunya mesum yang ngintip toilet perempuan tadi?” tanya Tama pada petugas yang masih berjaga di depan toilet.
“Di posko keamanan Mas,” petugas tersebut menunjuk arah ruangan yang di penuhi orang.
Tama dengan langkah lebarnya mengepalkan tangan siap menghajar habis-habisan pelaku tersebut, demi apapun Tama tak pernah memukul siapapun dalam hidupnya.
Begitu ia masuk ia dapat menemukan seorang pria yang tengah di interogasi oleh petugas lainnya dengan tangan yang telah di borgol. Tama tak memperdulikan siapapun yang akan melarangnya ia langsung langsung memukul pria itu dengan membabi buta.
“Kamu nggak pantas ada di muka bumi! Kamu sampah masyarakat yang nggak pantas hidup!”
Darah mulai mengucur dari wajah pria itu, namun Tam atak peduli bahkan beberapa petugas menarik tubuhnya.
“Sudah Mas, sudah biar kita proses orang ini.”
Namun Tama tak perduli ia kembali melayangkan pukulannya yang kesekian, meski tangannya terasa remuk Tama tetap tak menghiraukan hal tersebut.
“Kamu tahu saya sedang berusaha agar istri saya nggak takut lagi sama saya, tapi apa yang kamu lakukan sekarang membuat dia teringat dengan traumanya kembali bangsat!” umpatnya pada orang tersebut.
Untungnya sebelum pelaku kehilangan kesadaran karena dihajar oleh Tama, para peugas berhasil menarik Tama.
“Mas sudah ya, kalau dia sampai meninggal nanti Masnya akan kena pasal pembunuhan juga,” tutur petugas lainnya menenangkan Tama.
Tama menenangkan dirinya, ia kemudian kembali teringat Rani pria itu kemudian berlari takut istrinya takut mencarinya, terlebih pasti bus akan segera melanjutkan perjalanan kembali.
Karena ia pun teringat mereka belum sempat makan, Tama membeli beberapa cemilan untuk mengisi perut mereka di jalan nanti.
“Tama, kamu dari mana?” tanya Rani saat melihat Tama kembali.
“Kita udah harus masuk lagi yuk, kayanya udah mau berangkat busnya.”
Namun Tama tak menyangka Rani ternyata menyadari tangannya yang penuh darah sisa memukul pelaku mesum tadi.
“Tama,” Rani meraih tangan kanan Tama, “Tangan kamu kenapa? Apa sakit?” tanyanya merasa khawatir karean sebelumnya tangan pria itu tak seperti ini.
Tak hanya bekas darah dari pelaku tadi, ternyata tangan Tama pun terdapat beberapa luka mungkin karena dia tadi tak sadar memukul terlalu keras sehingga mengenai gigi penjahat.
Tama turut memeriksa tangannya, “Oh, nggak apa-apa tadi kepentok pembatas jalan.”
Tama pun mengatakannya sambil tertawa-tawa seperti sifat isengnya biasa agar Rani tak khawatir dengan dirinya.
“Tama tapi ini parah banget,” ucap Rani masih tak percaya dengan alibi pria itu.
“Nggak apa-apa, ayo masuk nanti kita di tinggal.”
__ADS_1
Tama menarik Rani pelan, ia bahkan berlari-lari kecil berusaha agar Rani melupakan kekhawatirannya itu. Namun dalam hati Tama berusaha mati-matian untuk menahan tangis, karena merasa bersalah pada Rani yang trauma karena dirinya.
[]