MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 53 : S t r a t e g i


__ADS_3

Rafi menyesap sedikit demi sedikit minuman di gelasnya, ia mencoba mencari cara lain untu mendapatkan Rani kembali. Ia masih tak terima dengan kenyataan bahwa perempuan itu lebih memilih Tama dibandingkan dengan dirinya yang telah menjalin kasih selama kurang lebih dua tahun.


"Gimana kalau kita culik Rani?" Elgin meletakkan ponselnya di meja ia berada di rumah Rafi untuk membahas rencana selanjutnya untuk menyingkirkan Tama.


"Terlalu sinetron anjir," ucap Dimas di sampingnya yang sibuk dengan game online.


Rafi berpikir sejenak, "Setelah kita culik?"


"Ya lo ancem atau apa kek, kalau perlu lo nikahin Rani," Ucap Elgin lagi.


"Enggak. Gue nggak setuju. Rafi kamu kenapa jadi berubah gini? ayo dong move on masih banyak perempuan lain!" kata Mira yang akhirnya merasa lelah juga menghadapai teman-temannya.


"Lo ngapain di sini sih? kenapa nggak ikut Juwita nyalon aja!" ucap Elgin ketus, "Atau jangan-jangan lo masih suka kan sama Rafi?"


Pertanyaan itu sukses membuat Mira gelagapan, "Maksud gue, kenapa kita sekarang harus jadi penjahat gini! tolong dong dewasa sedikit jangan ngelakuin hal kotor rendahan lagi."


"Udah Ra, kalau lo emang nggak mau ikutan cukup nyimak aja nggak perlu komen," tutur Maditra kemudian mencoba untuk menenangkan Mira agar tak terjadi keributan antara perempuan itu dan Elgin.


Mira masih berusaha membuat Rafi sadar dan tak melakukan apapun lagi kepada Tama, mau gimanapun juga mereka pernah berteman.


"Rafi, please ya. Cukup sampai sini aja, toh masih banyak perempuan kaya Rani," ucapnya menarik legan Rafi.


Rafi menatapnya datar, "Gue nggak terima apa yang udah Tama lakukan, dia udah nginjek-nginjek harga diri gue. Dan gue nggak pernah mau kalah dari Tama. Terutama Rani, gue nggak akan biarin Rani dimiliki siapapun."


Belum sempat Mira kembali protes, seseorang menerobos masuk ke dalam rumah Rafi, "Guys! gawat!" seru Waren yang dengan napas yang tak beraturan.


"Kenapa lo?" tanya Dimas heran melihat Waren yang seperti dikejar-kejar hantu.


"Ada apa sih?" Elgin turut penasaran ada apa gerangan mengapa Waren sebegitu paniknya.

__ADS_1


Waren meminum es jeruk di atas meja terlebih dahulu tanpa menuangnya, ia meminum langsung dari teko kaca membuat yang lainnya berseru kesal.


"Gawat guys!" ucap Waren lagi.


"'Ada apa?" tanya Mira.


"Ternyata kemaren malam ada polisi di lokasi kejadian," cerita Waren semakin panik, artinya mereka sudah tak aman lagi.


Aman reaksi teman-temannya sebaliknya, membuat Waren terheran-heran mengapa semuanya tampak santai dan tak acuh.


"Yaelah gue kira apaan," ucap Elgin kembali menyandarkan tubuhnya dengan santai di atas sofa empuk milik Rafi.


"Lo nggak usah takut gitu, santai," ucap Maditra menimpali.


"Ini gawat lho guys, kita bisa dipenjara kalau ada cctv di daerah situ," tampaknya Waren masih tak paham dengan apa yang sebenarnya telah terjadi, "Rafi, lo kok nggak takut? ini semua terjadi atas perintah lo."


Rafi mengangkat bahunya tanda tak peduli dengan apa yang Waren katakan, "Semuanya udah beres, lo nggak perlu takut."


"Yaelah lo kaya baru ngelakuin ini sekali aja, cupu banget!" timpal Dimas yang menggeleng melihat Waren terlihat pucat.


"Bokap gue udah beresin, lagian kalau polisi kecil," kata Elgin angkuh seraya menjentikkan jarinya.


"Serius lo?" Waren coba memastikan lagi apa yang dirinya dengar.


"Yaelah, iye!" Elgin melempar kulit kacang kemuka Waren.


Waren menghembuskan napas lega, "Syukurlah kalau gitu. Gue tadi udah seneng banget lihat muka Tama bonyok di cafenya, eh malah panik waktu gue denger ada polisi di tempat kemaren."


"Lo ke cafe Retno?" tanya Rafi kemudian.

__ADS_1


"Nggak di usir lo sama Retno?" tanya Mira, karena terakhir kali melalui cerita Waren sendiri dirinya sempat membuat keributan di cafe teman lamanya itu.


"Gue nyamar lah, nih pake kumis," ucap Waren mengeluarkan kumis palsu dari saku celananya.


Elgin bertepuk tangan takjub, "Wih, niat banget lo."


"Soalnya gue penasaran sama Tama, apakah dia masih hidup. Tadinya gue udah seneng dia nggak ada di cafe eh tahunya dateng juga tu anak," jelas Waren panjang lebar.


"Nggak seru banget masih hidup," ucap Dimas enteng.


"Gue nggak betah lagi di sini, terserah kalian lah," ucap Mira siap menyangklong tas slempang nya. Perempuan itu sudah lelah menghadapi teman-temannya yang sudah menjadi-jadi.


"Yakin lo mau ninggalin Rafi?" Elgin berusaha memprovokasinya.


Mira menatap Rafi sekilas, "Dia bukan Rafi yang gue kenal."


"Wow, sadis," ucap Waren mengomentari membuat yang lain turut bersorak.


Sedangkan Rafi tak peduli dengan apa yang perempuan itu katakan, saat ini di otaknya hanya bagaimana cara menyingkirkan Tama dari hidup Rani.


Mira pergi meninggalkan rumah Rafi tanpa seorang pun menahannya, perempuan itu tak pernah menyangka Rafi menjadi orang lain setelah kehilangan Rani.


"Raf, pergi tuh," ucap Elgin menunjuk Mira yang semakin telah menutup pagar dengan membantingnya.


"Biarin aja, gue nggak sempet mikirin dia." ucap Rafi tak acuh.


"Jadi gimana ni, apa rencana kita selanjutnya?" Dimas menghisap vape nya sebelum kembali dengan game di tangannya.


"Kita kasih pelajaran lagi buat Tama, baru kita ambil Rani."

__ADS_1


Rafi mengetuk-ngetukkan jemarinya di gelas mulai berpikir strategi apa yang akan ia lakukan pada Tama.


[]


__ADS_2