MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 5 : A l k o h o l


__ADS_3

Setelah apa yang Rani alami ia tak bisa berhenti menangis, sayup-sayup lantunan ayat suci Al-Qur’an  dari masjid terdengar tanda memasuki waktu subuh.


Rani tak bisa menahan tangisannya yang semakin pecah, ia merasa tubuhnya telah kotor bahkan Rani sangat jijik menatap pria yang saat ini masih berada di ranjang


menelungkup tanpa mengenakan pakaian.


Takut pria tersebut bangun Rani dengan segera mencari pakaiannya yang telah


berserakan, ia memakainya dengan cepat untuk menutupi tubuhnya.


Namun blazer Rani terletak di tempat tidur tepat di bawah tubuh Tama, sehingga Rani


harus menariknya untuk dapat mengambil blazer tersebut.


Rani menarik-narik blazernya namun sayang


ternyata tak semudah itu, terlebih tubuh Tama yang besar tak sebanding dengan


tenaga yang Rani miliki saat ini.


Kegiatannya itu ternyata membangunkan Tama karena merasa terganggu dalam tidurnya, saat


pria itu mengerjap-ngerjapkan mata Rani menghentikan kegiatannya.


Saat tersadar sepenuhnya Tama terperanjat, dirinya sangat terkejut menyadari ini


bukan kamar yang seharusnya ia tempati. Tama menatap sekelilingnya, yang


semakin membuat jantungnya semakin berdegup kencang saat dirinya melihat ada


Rani di kamar itu juga dengan keadaan yang sangat berantakan.


“Rani, kamu ngapain di sini?” tanyanya terbata, ia menelan ludahnya beberapa kali.


Rani nyalang, ia tak habis pikir dengan apa yang telah Tama lontarkan setelah apa


yang telah pria itu lakukan padanya.


“Brengsek!” umpat Rani ia lantas langsung menarik blazernya yang tak tertindih lagi.


Tama semakin terkejut menyadari tubuhnya yang tak mengenakan sehelaipun pakaian, “Rani, apa aku?”


Rani tak menghiraukan perkataan Tama, ia merapikan semua pakaiannya ia hanya berharap


segera pergi dari villa ini.


Tama kemudian dengan segara mengenakan baju, “Rani, aku benar-benar nggak ingat


apa-apa, semalem aku minum sama yang lain, makanya aku kaget banget kenapa bisa


di sini.”


Rani menatapnya tajam, “Laki-laki brengsek memang nggak pernah sadar apa yang sudah


mereka lakukan,” tandasnya.


Tama terkejut menatap Rani yang saat ini terlihat begitu marah, bahkan sorot mata


perempuan itu, ia dapat merasakan betapa Rani membencinya.


Perlahan Tama mendekati Rani, namun perempuan itu terlanjur jijik untuk sekedar


menatapnya, “Jangan mendekat! Tolong jangan!” Rani berteriak dengan histeris.


“Rani, maafin aku. Rani tolong tenang, aku memang brengsek, aku tolol, aku benar-benar


manusia bejat,” kata Tama dengan memukul-mukul dirinya sendiri.


Rani merapatkan tubuhnya ke tembok, “Keluar dari sini!” teriaknya lagi.


Tama sadar saat ini bukan waktu yang tepat, bagaimanapun ini salahnya akhirnya ia


memutuskan untuk memberikan waktu bagi Rani, ia hendak meninggalkan perempuan


itu seorang diri.


Saat dirinya hendak membuka pintu, ia baru menyadari bahwa pintu itu terkunci, lantas

__ADS_1


tama harus mencari kunci terlebih dahulu. Meraba-raba saku celananya ternyata


terdapat benda kecil itu, Tama semakin mengutuk dirinya sendiri, bener-bener anjing lo Tama.


Tama kembali menatap punggung Rani yang bergetar, tanda perempuan itu tengah


menangis. Tama telah melakukan kejahatan yang sangat keji, ia telah sangat


melukai perempuan itu, kekasih sahabatnya sendiri, bagaimana ia akan menghadapi


Rafi nanti.


Tama kemudian meninggalkan Rani yang masih menangis memeluk lututnya, hatinya terasa


sakit melihat perempuan itu, terlebih dirinyalah sendiri yang telah melukai


Rani.


Setelah Tama pergi Rani segera mengusap air matanya berharap tak ada lagi yang tersisa,


Rani menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya saat berjalan bagian bawah


tubuhnya terasa nyeri.


Rani meggosok-gosok mukanya dengan kasar, berharap tak ada lagi bekas tangisan disana,


ia tak ingin Rafi atau siapapun tahu hal tersebut.


Rani menatap pantulan dirinya yang terlihat sangat memprihatinkan, aku sudah tak suci lagi, mana pantas aku


bersanding dengan Rafi, bahkan dengan pria manapun, batinnya.


Tak terasa air mata Rani kembali menetes, saat itu pula pintu kamar mandi diketuk


seseorang dari luar, “Rani, kamu di dalam?” ternyata itu suara Rafi.


Rani dengan segera membuka pintu tanpa pikir panjang ia memeluk Rafi dengan erat


berharap hatinya yang tak karuan lebih baik.


Rafi balas memeluk Rani dengan lembut, ia menepuk-nepuk punggung Rani berharap


kekasihnya itu merasa lebih baik.


“Rani, perut kamu masih sakit?” tanya Rafi kemudian.


Rani hanya menggeleng pelan, “Aku mau pulang?”


Rafi melepas pelukan Rani agar dapat memandang wajah kekasihnya itu, “Mau pulang


sekarang?” tanyanya memastikan.


Rani mengangguk, “Aku mau pulang.”


Rafi menatap jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 05.11 ia kemudian


menatap Rani kembali, memang kondisi Rani saat ini sepertinya sedang tak baik-baik


saja.


“Oke, kita pulang sekarang ya,” tuturnya kemudian.


Rafi dengan menggenggam tangan Rani dengan erat, mereka akhirnya menuruni anak


tangga dengan perlahan, suasana masih tampak sepi pertanda semua orang masih


belum ada yang bangun.


Rani kemudian menyadari di atas meja ruang tengah penuh dengan botol alkohol,


beberapa gelas tergeletak di lantai serta kulit kacang yang berserakan.


Rani spontan menahan tangan Rafi agar pria itu menghentikan langkahnya, “Nggak


apa-apa kan kita pergi duluan?”


Rafi menatap Rani yang tepat dibelakangnya, “Nggak masalah, nanti aku tinggal kirim

__ADS_1


pesan ke Elgin, kalau kita balik duluan.”


Rani mengangguk mereka akhirnya melanjutkan langkahnya, Rafi membuka pintu dengan


hati-hati dan menutupnya kembali.


Rafi memastikan Rani telah berada dalam mobil sebelum ia membuka pagar untuk


mengeluarkan kendaraannya, ketika hendak menutup pagar kembali ia menyadari


motor salah satu temannya yaitu Tama tak ada di sana, mungkin


ada urusan penting, pikirnya.


Selama diperjalanan Rani hanya diam saja, Rafi pun tak ingin mengganggu kekasihnya


itu, sesekali Rafi hana mengusap lembut tangan Rani.


Rani masih sibuk dengan pikirannya sendiri, ia menatap Rafi dari samping akankah


pernikahannya dengan Rafi nanti terjadi? Rani merasa tak pantas bersanding


dengan Rafi, terlebih ia tak ingin melukai pria disampingnya itu.


“Kamu kenapa Rani?” tanya Rafi yang menyadari kegelisahan kekasihnya.


Rani menggeleng lemah, bahkan air matanya akan jatuh kembali, “Aku bersyukur bisa


ketemu sama kamu,” jawabnya kemudian.


“Yaampun Raniku, aku juga sama bersyukurnya bisa ketemu kamu,” ucap Rafi dengan lembut.


“Semalam kamu ikut minum?” tanya Rani untuk memastikan, meskipun ia yakin Rafi tak akan


melakukan hal tersebut.


Rafi  menatapnya sekilas sebelum menjawab, “Jadi kamu dari tadi diam aja, mikirin hal


ini ya? kamu takut kalau aku ternyata mabuk-mabukan?”


“Enggak Rafi, aku cuman penasaran aja kamu minum apa enggak,” jawabnya berharap Rafi


tak salah paham.


“Iya, iya. Kamu jangan pani gitu dong, aku nggak ikut minum sayang. Itupun mereka


minum katanya biar nggak pada berantem lagi,” jelas Rafi.


“Ada yang berantem?” tanya Rani.


Rafi mengedikkan bahunya, “Katanya sih, Waren sama Tama ribut, makanya diajak minum aja biar pada akur lagi.”


“Sejak kapan minum jadi jalan keluar?” tanya Rani yang terdengar kesal, ia mengingat


kembali bagaimana Tama yang mabuk melakukan hal bejat padanya.


“Temen aku memang pada begitu Rani,” tutur Rafi tak ambil pusing.


“Bukan jadi jalan keluar, minuman selalu bikin masalah. Bukan untuk kalian, tapi


mungkin aja gara-gara alkohol kalian bikin masalah sama orang lain,” kesal Rani


semakin menjadi-jadi.


Rafi heran baru kali ini ia melihat Rani kesal seperti ini, “Rani kamu kenapa? Aku memang  nggak membenarkan apa yang mereka lakukan, tapi itu pilihan mereka Rani, aku nggak bisa berbuat apa-apa. Tapi kenapa kamu jadi marah-marah gini?”


Rani membuang napas kasar, “Aku benci aja sama orang yang mabuk,” tandasnya.


Tak seharusnya Rani meluapkan emosinya pada Rafi, terlebih ini bukan salah pria ini


yang terjadi selanjutnya adalah Rani kembali menangis, ia tak kuat lagi menahan


air matanya yang sedari tadi mendesak keluar dan hal itu membuat Rafi semakin


bingung apa yang telah terjadi pada Rani.


[]

__ADS_1


__ADS_2