MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 27 : D a p u r


__ADS_3

Setelah percakapan dengan Bapak selesai Tama pamit untuk mengambil barang-barangnya di motel, tempatnya menginap selama di Boyolali.


Tama tentunya sangat senang karena kini dirinya sudah bisa dengan bebas tinggal satu rumah dengan Rani, namun tetap dengan catatan jangan terlalu berharap dengan kisah cintanya. Selain itu yang membuatnya semakin sumringah, tetangga sekitar mulai mengenalnya sebagai menantu Pak Burhan, kampung Rani begitu nyaman masyarakat sekitar sangat ramah dan hangat.


Tama berjalan dengan riang sepanjang perjalanan ia menyapa dan di’sapa entah oleh orang yang lebih tua darinya dan juga yang lebih muda.


Tama memang selalu memilih berjalan kaki selain lokasi penginapan yang dekat dari rumah Rani, ia juga tak enak jika meminjam motor Bapak, mungkin alasan ini juga yang membuat orang sekitar sudah hapal betul dengan dirinya.


Saat tiba di penginapan ia mendapati pintu yang tertutup, namun tak ada lagi sepatu Rafi di sana begitupun dengan mobil temannya itu.


Tama yakin setelah dirinya dan Rani melangsungkan pernikahan tadi, Rafi langsung pergi begitu saja tanpa berniat berpamitan dengannya. Tama pun dengan segera mengambil semua barangnya, termasuk satu tas ransel yang berisi beberapa potong pakaian.


Jika dipikir-pikir lagi memang tak ada alasan bagi Rafi untuk menganggap Tama sebagai seorang teman, atas apa yang telah pria dengan kulit sawo matang itu lakukan, sebaliknya justru Tama yang seharusnya tak lelah untuk terus minta maaf pada Rafi.


Tama menyangklong ranselnya, ia mengamati seluruh kamar yang benuansa putih itu sekali lagi memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal. Kemudian Tama mengembalikan kunci pada resepsionis, namun betapa Tama semakin merasa tak enak hati karena seluruh tagihan penginapan tersebut telah dilunasi oleh Rafi.


Sedari dulu Tama selalu berada di bawah Rafi, dari segi ekonomi maupun pendidikan meskipun ia sesekali merasa iri dengan temannya itu, namun lagi-lagi Tama tak ada pilihan lain. Memang seseorang dengan ekonomi lebih tinggi selalu mudah melakukan apa saja yang mereka mau, eits tapi kemudian Tama teringat akan Rani. Kali ini, akhirnya dalam hidupnya Tama lebih unggul dari Rafi, bagaimana tidak kini dirinya yang menikahi Rani bukan Rafi.


Tama merasa sedikit jumawa, setelah dirinya mengembalikan kunci tersebut pria itu kembali bersemangat untuk pulang ke rumah Rani.


Setibanya Tama di rumah yang terlihat cukup asri karena terdapat tanaman di halamannya ia mendapati Bapak yang tengah membersihkan motornya.


Bapak menyadari kedatangannya, “Sudah beres semua?”


“Sudah Pak,” jawab Tama yang kini telah menenteng ranselnya.


“Rafi gimana, apa kamu masih ketemu?” tanya Bapak lagi masih dengan kegiatan beliau yang mengelap motor supra tuanya.


“Sepertinya Rafi sudah kembali ke Jakarta, Pak.”


Bapak mengangguk mendengar perkataan Tama, beliau juga tentunya sangat paham dengan situasi yang tengah putrinya dengan Rafi dan juga pemuda di hadapannya.


Tama kemudian pamit masuk untuk meletakkan semua barangnya, “Saya masuk dulu ya Pak.”


“Iya, yang lain sepertinya lagi pada di dapur,” tutur Bapak menginformasikan pada Tama di mana semua penghuni rumah itu saat ini.


Benar saja saat Tama masuk taka da satu pun orang yang terleihat, ia meletakkan begitu saja semua bawaannya dalam kamar Rani, ia pun langsung menuju dapur.


Terlihat Ibu yang tengah menanak nasi, dan Rani yang entah memotoh apa Tama tak dapat melihat dengan jelas dari posisinya saat ini.


“Nak Tama, sudah pulang. Sini-sini, kamu sudah lapar belum?” panggil Ibu menyadari kehadiran Tama yang ragu-ragu untuk masuk ke area dapur.


“Sudah Bu, baru saja sampai,” jawab Tama kini mulai mendekat ke tempat Ibu dan Rani.

__ADS_1


Tama menyadari Rani yang hanya meliriknya sekilas, ternyata perempuan itu memotong sayur-mayur.


“Sebentar ya Ibu siapin makannya dulu,” tutur Ibu.


Tama tersenyum senang melihat adegan di dapur, pasalnya Tama belum pernah menyaksikan hal ini di rumahnya.


“Iya Bu, saya bantuin ya?” tuturnya menawarkan diri untuk membantu.


“Nggak usah,” jawab Rani cuek.


Tama melihat perempuan itu kesal, masih jutek saja perempuan itu nggak ada manis-manisnya sedikitpun.


“Udah nggak usah, kamu kedepan saja,” ucap Ibu yang kini mulai menyiapkan bumbu untuk masakan.


Tama kemudian mendapati tumpukan piring di wastafel yang akhirnya ia berinisiatif untuk membersihkan semua piring itu.


Saat Tama mulai mendekati wastafel untuk mulai mencuci piring Rani lagi-lagi mengomel, “Ngapain? Nggak usah pegang apa-apa, bikin riweh aja udah sana keluar!”


“Galak banget Rani, ya Allah,” Ibu geleng kepala melihat tingah Rani.


“Nggak apa-apa Bu, Rani lagi hamil kayanya ini pengaruh hormon,” tutur Tama agar Ibu dapat memahami sikap Rani padanya.


“Wong kok galak banget,” tutur Ibu lagi.


Tama sudah mulai menncuci piring hanya tertawa mendengar perkataan Rani, ia tak menghiraukan larangan perempuan itu.


“Ya biarin aja toh, malah Ibu seneng berarti Tama bukan suami yang suka perintah. Dia mau bantu-bantu pekerjaan rumah. Coba lihat Bapak mana pernah bantuin Ibu, yang ada ngelus-ngelus motornya setiap hari.”


Ibu sudah sibuk mengeluhkan Bapak yang tak pernah membantu beliau mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Sedangkan Rani semakin cemberut karena Ibu semakin memuji-muji Tama.


“Udah nggak usah cemberut mulu sih, perkara Ibu makin suka sama aku.”


Tama sudah berada di samping Rani, kini tinggal mereka berdua di dapur karena Ibu harus membeli sesuatu karena kehabisan.


Rani menatap Tama kesal, “Seneng?!”


Tama tertawa “Seneng dong.”


Rani memotong sayur dengan asal-asalan bahkan suara pisaunya sangat keras enegnai talenan, hingga ia tak sadar hampir memotong tangannya sendiri.


“Yaampun Rani, jangan gitu dong.” Tama dengan sigap mengambil alih pisau yang Rani pegang.


“Apaan sih, nggak usah,” ucap Rani ingin menarik kembali pisau dari tangan Tama.

__ADS_1


Tama menjauhkan pisau tersebut, “Rani aku tahu kamu marah sama aku, tapi jangan ngebahayain diri kamu sendiri dong.”


“Lagian kamu kenapa ngeselin banget sih, kenapa bersikap baik gitu sampe Ibu semakin suka sama kamu. Aku kan jadi bingung mau tetep marah tapi kamunya baik banget, modelan suami idaman gitu lagi!”


Tama menganga ia sangat terkejut dengan apa yang dirinya dengar, namun ia juga tak dapat menahan tawanya seketika menyadari Rani menyebutnya suami idaman, terlebih dengan ekspresi Rani sekarang yang memegang mulutnya sendiri karena sadar mengatakan hal tersebut.


“Rani, ya ampun jadi itu alasannya kamu dari tadi sewot gitu.”


“Pada kenapa ini?” tanya Ibu yang mendekati mereka, beliau tampak penasaran menyaksikan Tama yang terbahak sedangkan Rani yang mukanya sudah merah karena malu.


“Tauk ah!” Rani kemudian berlari meninggalkan dapur meninggalkan Tama yang sudah memegangi perutnya karena tak dapat menghentikan tawanya.


“Rani Bu, lucu banget anak Ibu.”


Ibu turut senang melihat hal tersebut, bahkan dalam batinnya berdoa semoga hidup Rani bahagia bersama Tama.


“Rani memang begitu Tama, kamu yang sabar ya. Sebenarnya dia dari kecil nggak pernah bisa marah lama,” kenang Ibu.


Tama akhirnya memilih melanjutkan pekerjaan Rani yang belum usai, pekerjaan dapur memang tak sulit bagi Tama karena dirinya yang sedari kecil sudah diajarkan mandiri oleh almarhum neneknya.


“Oh ya Bu?” Tama bersemangat mendengarkan kisah Rani.


“Iya, dulu Bapak pernah waktu pulang kerja, lupa nggak beliin makanan kesukaannya tapi adek-adeknya di beliin, marahlah dia. Tapi nggak lama, setelah Bapak ajak naik motor langsung seneng lagi anaknya.”


Tama tersenyum senang mendengar cerita Ibu, ia membayangkan Rani kecil pastinya sangat lucu.


“Tama jadi penasaran sama Rani waktu kecil Bu.”


“Ada fotonya kalau kamu mau lihat nanti Ibu tunjukin ya,” ujar Ibu.


Tama bersemangat, “Mau, Bu.”


“Ada lagi ya Nak, pernah dulu satu teman Rani jahat banget. Pernah fitnah Rani make guna-guna karena pacarnya dia suka sama Rani, coba Nak Tama bayangin ya, anak SMP kok bisa ngomong seperti itu,” ucap Ibu beliau bahkan kini meninggalkan pekerjaannya untuk menceritakan kisah Rani pada Tama, “Setelah masalah itu ya Rani tetap bersikap biasa, Rani masih mau berteman dengan temannya yang jahat itu. Padahal karena cerita bohong itu Rani sempat dimusuhi teman satu kelasnya.”


Baik sekali memang Rani, Tama tak salah menjatuhkan perasaannya pada perempuan sebaik itu.


“Kalau ada Tama di situ pasti akan Tama bela Raninya, Bu.”


Ibu tersenyum, “Makanya kamu jangan khawatir, Rani pasti akan memaafkan kamu ya, walaupun pasti butuh waktu. Ibu minta sama kamu perlakukan Rani dengan baik, sayangi dia.”


Tama mengangguk, “Pasti Bu. Tama sudah sangat bersalah pada Rani, sudah seharusnya Tama membayar semua kesalahan Tama pada Rani.”


[]

__ADS_1


__ADS_2