
"Kamu kok ya bisa-bisanya ngomong gitu," ucap Rani yang masih kesal dengan pria disampingnya yang tengah meminum obat.
Tama meringis merasa malu, "Ya, aku pengen aja manggil kamu agak beda gitu, lagian kamu nggak pengen romantis kaya orang-orang?"
"Enggak," jawab Rani singkat ia kembali membereskan obat Tama.
"Jujur sama aku, kamu udah nggak takut kan sama aku?" tanya Tama, meskipun dia agak khawatir dengan jawaban perempuan iru, tetap saja Tama penasaran semoga ada perkembangan seperti yang dirinya inginkan.
Rani menatap Tama, membuat pria itu kembali gugup, "Iya, udah biasa aja. Mungkin karena kamunya juga usaha buat memperlihatkan sikap baik kamu sama aku."
"Syukurlah, kalau em perasaan kamu gimana, udah berubah belum?" tanya Tama kemudian, jantungnya berdegup kencang ia nyaris tak mendengar suaranya sendiri.
Rani memelototinya "Udah ah, kamu istirahat aku mau siap-siap berangkat kerja."
Rani berusaha mengalihkan pembicaraan, terlebih ia harus segera bersiap-siap untuk masuk kerja meskipun dalam hati kecil Rani ingin di rumah menjaga suaminya itu.
Tama memberengut melihat Rani yang masuk ke kamar mandi, "Yah, berarti belum ya?"
Rani tertawa mendengarnya, "Kita bahas nanti aja."
Akhirnya Tama memilih untuk mengiyakan, sambil menunggu Rani yang tengah bersiap Tama memilih untuk menghirup udara pagi di teras.
Tepat saat itu mobil yang sangat familiar datang, membuat Tama kesal bukan main ngapain juga orang itu masih saja ingin mengganggu hubungannya dengan Rani.
"Ngapain lo kesini?" tanya Tama begitu melihat Rafi keluar dari mobilnya.
Rafi tersenyum miring, "Habis ngapain lo bonyok gitu."
Tama duduk di bangku karena dirinya belum kuat menahan tubuhnya terlalu lama, "Nggak usah pura-pura nggak tahu deh, lo sama antek-antek lo kan yang nyerang gue."
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Tama menuduh Rafi, karena pada malam itu memang dirinya mendengar suara Waren. Potongan-potongan kejadian beberapa hari lalupun teringat jelas di memorinya.
Pertama Tama dikeluarkan dari grup, kedua Waren memprovokasinya di cafe, hingga kemaren ia dihajar habis-habisan di jalan pulang.
"Ternyata lo nggak setolol yang gue pikir," ucap Rafi secara tak langsung mengiyakan apa yang Tama katakan.
Memang Rafi tak terlibat secara langsung tapi ia tahu kalau teman-temannya semalem yang menghajar Tama, untuk memberikan pelajaran pada lelaki itu.
"Gue bakal ngasih keterangan ke polisi, kalian siap-siap aja ditangkap."
Tama tak gentar setelah kalimat yang Rafi katakan, itu sudah cukup meyakinkan Tama kalau memang mereka yang telah berbuat jahat pada dirinya.
Rafi mengangkat bahunya tak peduli, "Lo nggak perlu buang-buang energi, percuma karena bokap Elgin bakal backup semuanya."
Rafi menyombongkan ayah Elgin yang memang seorang anggota DPR itu, membuat Tama sadar ia tak dapat melakukan apapun untuk melawan teman-temannya.
Namun Tama masih tak gentar, "Banci kalian, masih pakai cara anak SD yang ngadu ke ortu."
Dengan segenap tenaga Tama mendorong Rafi agar menyingkirkan tangannya, "Jangan pernah bawa-bawa Rani!"
"Lo jangan lupa, semua ini terjadi ya karena ulah lo sendiri anjing!" Umpat Rafi, tak hanya umpatan pria itu telah melayangkan pukulannya pada wajah lebam Tama.
Tama yang memang tak memiliki banyak kekuatan jatuh begitu saja dari bangku yang dirinya duduki, ia mengusap ujung mulutnya yang berdenyut terasa perih, "Mau lo apa sih!" teriak Tama.
Membuat beberapa penghuni kamar lain keluar untuk melihat keributan itu, sayangnya tak ada yang berusaha melerai.
"Balikin Rani bangsat! dari awal Rani punya gue!" tutur Rafi.
"Aku bukan barang!" teriak Rani, perempuan itu berlari membantu Tama untuk bangkit kembali karena pria itu masih tersungkur di tanah.
__ADS_1
"Rani," ucap Tama terkejut karena perempuan itu lebih memilih menolongnya.
"Aku nggak tahu kalau ternyata kamu sejahat ini Rafi," ucap Rani tajam.
Rani meninggalkan Rafi begitu saja, ia menuntun Tama untuk kembali masuk ke dalam.
"Kamu ngapain keluar sih," omel Rani pada Tama yang masih meringis kesakitan.
Rafi menahan lengan Rani, "Rani! kamu kenapa malah belain dia!"
Rani mengibaskan lengannya, "Aku udah bilang berapa kali sama kamu, kita udah selesai! Kamu kan yang tetap maksa mau temenan, oke kita temenan tapi sekarang kamu udah kelewatan dan aku nggak mau ketemu kamu kagi."
Rafi tampaknya masih tak terima dengan keputusan Rani, "Rani, kamu lebih pilih dia? sadar Rani! dia yang perkosa kamu!"
Rani terluka, kali ini Rafi benar-benar sudah keterlaluan mempermalukannya di depan semua orang, Rani bahkan malu untuk melihat reaksi orang disekitarnya.
Rafi yang menyadari hal tersebut menutup mulutnya sendiri, "Rani maaf, aku nggak maksud."
"Brengsek!" Tama sudah melepaskan tangannya dari bahu Rani, ia mengerahkan semua tenaganya untuk menghajar Rafi.
Apa yang Rafi lakukan sudah sangat melukai hati perempuannya, Tama tak memperdulikan tangannya yang nyeri ia kembali memukul Rafi.
"Tama udah! udah biarin dia pergi," ucap Rani menarik tubuh Tama, perempuan itu sudah menangis kini aibnya diketahui semua orang.
Rani menahan rasa malu, mau di taruh di mana mukanya padahal Rani tetap tinggal di sini karena sudah terlanjur nyaman dengan lingkungannya namun sekarang Rafi dengan lancang menyebarkan aib yang Rani tutup rapat-rapat.
"Rani, maaf," ujar Rafi mencoba mendekati Rani namun dihadang oleh Tama.
"Pergi lo dari sini!" teriak Tama.
__ADS_1
Akhirnya Rafi meninggalkan tempat itu dan Rani dengan Rasa bersalah yang menggumpal-gumpal dalam benaknya.
[]