
Tepat pada pukul sepuluh malam, Lima pria bertopeng
dengan baju serba hitam telah siaga siap menunggu seseorang yang akan mereka
hajar. Mereka berjaga di gang yang sepi agar tak begitu disadari orang lain yang
berlalu lalang saat mereka melakukan aksinya.
Beberapa kali pengendara motor terlihat melewati
gang tersebut namun belum terlihat seseorang yang para pria bertopeng itu incar,
bahkan setelah pukul sepuluh lewat.
“Lo yakin dia bakal lewat sini?” tanya salah seorang
dengan celana sobek-sobek di bagian lututnya.
“Gue yakin banget. Ini rute yang paling mungkin
dia lewatin,” ujar seseorang itu yakin mengenai apa yang telah dirinya
rencanakan.
Setelah kembali menunggu sekitar lima belas
menit akhirnya tiba juga pengendara yang mereka tunggu-tunggu, “Woi, itu Tama!”
Seseorang dengan kaos lengan panjang berteriak menunjuk pada salah satu
pengendara bermotor yang mengenakan jaket jeans.
Kelima pria bertopeng dengan sigap menghadang,
membuat pengendara motor yang diketahui Tama itu oleng karena terpaksa mengerem
mendadak.
“Kalian mau apa?” Tama mulai panik ia berpikir
mungkin ini komplotan begal yang akan mengambil motornya.
Namun tak ada satupun dari pria bertopeng
tersebut yang menjawab, melainkan motor Tama ditendang begitu saja membuatnya terjatuh.
“Kalian semua mau apa!” Tama berusaha mendirikan
kembali sepeda motornya namun gagal karena ada seseorang yang memukul
tengkuknya dari belakang, yang berhasil membuat Tama limbung.
Sakit sekali rasanya, bahkan matanya mulai
mengabur hanya dengan satu kali pukulan, Tama melihat sekitarnya berharap ada
orang yang lewat, namun nihil satupun tak ada yang melintas di jalan tersebut.
Salah satu dari mereka mencengkeram jaket yang Tama
kenakan, hingga Tama mau tak mau berdiri namun kemudian tubuhnya dibanting
kembali.
Tak sampai di situ seseorang yang membawa
tongkat memukulinya tanpa henti, Tama meringkuk menyelamatkan kepalanya, dengan
segenap kekuatan yang masih Tama miliki ia berusaha menarik kaki pelaku yang
tengah memukulinya namun gagal seseorang lainnya menendang tangannya, setelah
tangannya diinjak.
Pedih sekali rasanya, bahkan kini perutnya
kembali ditendang hingga Tama hampir tak dapat mengeluarkan lagi suara untuk
meminta pertolongan.
Kini dirinya terlentang tak berdaya, entah dosa
apa yang pernah Tama lakukan dulu sampai ia harus mengalami hal ini jika memang
perampok itu ingin mengambil harta bendanya ambil saja mengapa harus
menganiayanya seperti ini.
Tama berusaha untuk bangkit namun ia tak lagi
__ADS_1
kuat menumpu beban dirinya sendiri, rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya
bahkan air liurnya kini telah asin bercampur darah karena mulutnya robek di
pukul oleh entah siapa, semua terlihat membabi buta memukulinya.
Dalam sisa-sisa kesadarannya Tama teringat ada deru
motor datang, yang kemudian suara seseorang yang memanggil namanya membuat
semua pria bertopeng itu pergi begitu saja.
“Cabut guys!” teriak salah satu pria bertopeng
mengomando seluruh temannya. Dan Tama merasa kenal dengan suara pria itu, namun
sayang Tama tak dapat melakukan apapun karena tubuhnya terasa remuk.
“Tama! Tolong! Tolong di sini ada begal! Tolong!” teriak seseorang yang Tama kenal betul, itu suara Retno.
“Aya lo cepetan telpon Laras. Tama mereka siapa?”
tanya Retno panik terlebih menyaksikan Tama yang kini penuh luka, ternyata
perempuan itu tak sendiri ia menyuruh Aya untuk segera mengabari Laras, slaah
satu temannya.
Memang mereka baru saja selesai menutup café,
sehingga baru pulang siapa sangka Tama akan mengalami hal ini di perjalanan.
Tama hanya menggeleng tak sanggup lagi menjawab Retno,
dalam benaknya hanya mengingat Rani, semoga Rani baik-baik saja.
Retno berusaha membangunkan tubuh Tama, begitu
juga dengan Aya yang sudah gemetaran memegang ponselnya sendiri setelah
menyaksikan keadaan Tama.
“Tama lo jangan pingsan dulu ya, kita bawa lo ke
rumah sakit. Tolong! Tolong! Kok nggak ada orang satu pun sih!” gerutu Retno
yang bingung dengan situasi ini.
jarang orang lewat sini,” ucap Aya yang masih sibuk menelpon Laras namun masih tak
ada jawaban.
“Telpon polisi atau ambulance aja Ya, kalau Laras
nggak jawab,” ucap Retno kemudian, ia meletakkan kepala Tama di pangkuannya
berusaha agar darah yang mengalir di pelipis Tama tak keluar semakin banyak.
“Kak! Halo kak Laras! Tolong kita, Bang Tama
kena begal ini luka-luka parah,” ucap Aya setelah panggilan tersambung.
“Ras, cepetan bawa mobil lo kesini!” teriak Retno,
untungnya memang rumah Laras sangat dekat dengan café mereka sehingga hanya Laraslah
yang Retno pikirkan.
“Di gang Melati Kak, yang itu lo jalan pintas
perempatan sebelum lampu merah. Oke Kak!” ucap Aya yang kemudian menutup telpon
tersebut.
“Gimana?” tanya Retno semakin panik karena Tama
sudah menutup matanya sepenuhnya.
“Kak Laras udah otw. Gimana ini Kak, kasian
banget Bang Tama, aku telpon polisi ya?” Muka Aya sudah memerah tak tega
melihat Tama.
“Iya, Aya kamu telpon aja polisi,” ucapRetno ia
sama tak teganya melihat Tama.
Lampu dari mobil menyorot membuat mereka harus
__ADS_1
menutup mata untuk melihat siapa gerangan yang datang, ternyata Laras. Untungnya
Laras tak membutuhkan waktu lama untuk menemukan keberadaan mereka.
“Astagfirullah, Tama lo kenapa jadi gini,” ujar Laras
panik.
“Ras, bantu gue bopong Tama ya, kita harus bawa
dia ke rumah sakit sekarang,” tutur Retno berusaha mengangkat tubuh Tama dengan
sekuat tenaga, namun tentunya tak mudah karena tubuh Tama lebih besar darinya.
“Bentar, gue deketin lagi mobil gue biar kita
lebih mudah masukin Tama.”
Laras dengan cepat memajukan lagi mobilnya yang
masih menyala agar Tama lebih mudah mereka masukkan.
Baru meraka akan kembali mengangkat Tama suara
sirene mobil polisi terdengar begitu kencang, mereka menghembuskan napas lega
setidaknya ada bantuan datang.
“Mbak ada yang bisa kami bantu?” tanya salah
satu petugas dnegan seragam polisi lengkap.
Retno buru-buru menunjuk Tama, “Pak tolong ini
teman saya, bantuin angkat ke dalam mobil.”
Polisi tersebut kemudian meminta temannya
mendekat untuk membantu mengangkat Tama.
Setelah Tama berada di dalam mobil Laras, polisi
tersebut mengatakan butuh satu saksi untuk dimintai keterangan, “Mbak boleh
saya minta satu orang ikut kita? Kami butuh keterangan langsung dari saksi.”
Mereka saling berpandangan siapa kira-kira yang
akan menjadi saksi, di samping itu mereka harus segera membawa Tama ke rumah
sakit.
“Aya kamu,,” belum juga Retno menyelesaikan
kalimatnya Aya sudah menyela, “Kak, please aku nggak berani,” ucapnya sudah
seperti orang yang menahan pipis.
Akhirnya karena tak ada pilihan lain Retno
menyanggupi dirinya untuk menjadi memberi keterangan pada polisi.
“Ras, buruan lo bawa Tama ya. Aya lo temenin Laras ya,” ucap Retno yang diangguki kedua perempuan di hadapannya.
Laras dengan segera membawa Tama ke rumah sakit
terdekat, jangan tanya bagaimana perasaannya sekarang, bahkan tangan nya
gemetaran memegang stir Laras berharap Tama segera mendapat pertolongan.
“Retno lo kalau udah nyusul ke rumah sakit ya, nanti gue kabarin lo,” ujarnya sebelum melajukan mobilnya.
“Ras, lo jangan panik tenang, Tama bakal
baik-baik aja kok.”
Retno tahu kini temannya yang selalu terlihat
tak terpengaruh dengan apapun itu nyatanya bisa pucat juga, ya ajar siapapun
akan panik melihat Tama yang berlumuran darah seperti saat ini.
Laras mengangguk, ia akhirnya melajukan mobilnya
ke jalan Raya, dibantu oleh beberapa petugas kepolisian yang mengendarai motor
untuk memastikan aman sampai tujuan.
[]
__ADS_1
Ps. Ya Allah masalah apa lagi ini :(