MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 45 : P e n y e r a n g a n


__ADS_3

Tepat pada pukul sepuluh malam, Lima pria bertopeng


dengan baju serba hitam telah siaga siap menunggu seseorang yang akan mereka


hajar. Mereka berjaga di gang yang sepi agar tak begitu disadari orang lain yang


berlalu lalang saat mereka melakukan aksinya.


Beberapa kali pengendara motor terlihat melewati


gang tersebut namun belum terlihat  seseorang yang para pria bertopeng itu incar,


bahkan setelah pukul sepuluh lewat.


“Lo yakin dia bakal lewat sini?” tanya salah seorang


dengan celana sobek-sobek di bagian lututnya.


“Gue yakin banget. Ini rute yang paling mungkin


dia lewatin,” ujar seseorang itu yakin mengenai apa yang telah dirinya


rencanakan.


Setelah kembali menunggu sekitar lima belas


menit akhirnya tiba juga pengendara yang mereka tunggu-tunggu, “Woi, itu Tama!”


Seseorang dengan kaos lengan panjang berteriak menunjuk pada salah satu


pengendara bermotor yang mengenakan jaket jeans.


Kelima pria bertopeng dengan sigap menghadang,


membuat pengendara motor yang diketahui Tama itu oleng karena terpaksa mengerem


mendadak.


“Kalian mau apa?” Tama mulai panik ia berpikir


mungkin ini komplotan begal yang akan mengambil motornya.


Namun tak ada satupun dari pria bertopeng


tersebut yang menjawab, melainkan motor Tama ditendang begitu saja membuatnya terjatuh.


“Kalian semua mau apa!” Tama berusaha mendirikan


kembali sepeda motornya namun gagal karena ada seseorang yang memukul


tengkuknya dari belakang, yang berhasil membuat Tama limbung.


Sakit sekali rasanya, bahkan matanya mulai


mengabur hanya dengan satu kali pukulan, Tama melihat sekitarnya berharap ada


orang yang lewat, namun nihil satupun tak ada yang melintas di jalan tersebut.


Salah satu dari mereka mencengkeram jaket yang Tama


kenakan, hingga Tama mau tak mau berdiri namun kemudian tubuhnya dibanting


kembali.


Tak sampai di situ seseorang yang membawa


tongkat memukulinya tanpa henti, Tama meringkuk menyelamatkan kepalanya, dengan


segenap kekuatan yang masih Tama miliki ia berusaha menarik kaki pelaku yang


tengah memukulinya namun gagal seseorang lainnya menendang tangannya, setelah


tangannya diinjak.


Pedih sekali rasanya, bahkan kini perutnya


kembali ditendang hingga Tama hampir tak dapat mengeluarkan lagi suara untuk


meminta pertolongan.


Kini dirinya terlentang tak berdaya, entah dosa


apa yang pernah Tama lakukan dulu sampai ia harus mengalami hal ini jika memang


perampok itu ingin mengambil harta bendanya ambil saja mengapa harus


menganiayanya seperti ini.


Tama berusaha untuk bangkit namun ia tak lagi

__ADS_1


kuat menumpu beban dirinya sendiri, rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya


bahkan air liurnya kini telah asin bercampur darah karena mulutnya robek di


pukul oleh entah siapa, semua terlihat membabi buta memukulinya.


Dalam sisa-sisa kesadarannya Tama teringat ada deru


motor datang, yang kemudian suara seseorang yang memanggil namanya membuat


semua pria bertopeng itu pergi begitu saja.


“Cabut guys!” teriak salah satu pria bertopeng


mengomando seluruh temannya. Dan Tama merasa kenal dengan suara pria itu, namun


sayang Tama tak dapat melakukan apapun karena tubuhnya terasa remuk.


“Tama! Tolong! Tolong di sini ada begal! Tolong!” teriak seseorang yang Tama kenal betul, itu suara Retno.


“Aya lo cepetan telpon Laras. Tama mereka siapa?”


tanya Retno panik terlebih menyaksikan Tama yang kini penuh luka, ternyata


perempuan itu tak sendiri ia menyuruh Aya untuk segera mengabari Laras, slaah


satu temannya.


Memang mereka baru saja selesai menutup café,


sehingga baru pulang siapa sangka Tama akan mengalami hal ini di perjalanan.


Tama hanya menggeleng tak sanggup lagi menjawab Retno,


dalam benaknya hanya mengingat Rani, semoga Rani baik-baik saja.


Retno berusaha membangunkan tubuh Tama, begitu


juga dengan Aya yang sudah gemetaran memegang ponselnya sendiri setelah


menyaksikan keadaan Tama.


“Tama lo jangan pingsan dulu ya, kita bawa lo ke


rumah sakit. Tolong! Tolong! Kok nggak ada orang satu pun sih!” gerutu Retno


yang bingung dengan situasi ini.


jarang orang lewat sini,” ucap Aya yang masih sibuk menelpon Laras namun masih tak


ada jawaban.


“Telpon polisi atau ambulance aja Ya, kalau Laras


nggak jawab,” ucap Retno kemudian, ia meletakkan kepala Tama di pangkuannya


berusaha agar darah yang mengalir di pelipis Tama tak keluar semakin banyak.


“Kak! Halo kak Laras! Tolong kita, Bang Tama


kena begal ini luka-luka parah,” ucap Aya setelah panggilan tersambung.


“Ras, cepetan bawa mobil lo kesini!” teriak Retno,


untungnya memang rumah Laras sangat dekat dengan café mereka sehingga hanya Laraslah


yang Retno pikirkan.


“Di gang Melati Kak, yang itu lo jalan pintas


perempatan sebelum lampu merah. Oke Kak!” ucap Aya yang kemudian menutup telpon


tersebut.


“Gimana?” tanya Retno semakin panik karena Tama


sudah menutup matanya sepenuhnya.


“Kak Laras udah otw. Gimana ini Kak, kasian


banget Bang Tama, aku telpon polisi ya?” Muka Aya sudah memerah tak tega


melihat Tama.


“Iya, Aya kamu telpon aja polisi,” ucapRetno ia


sama tak teganya melihat Tama.


Lampu dari mobil menyorot membuat mereka harus

__ADS_1


menutup mata untuk melihat siapa gerangan yang datang, ternyata Laras. Untungnya


Laras tak membutuhkan waktu lama untuk menemukan keberadaan mereka.


“Astagfirullah, Tama lo kenapa jadi gini,” ujar Laras


panik.


“Ras, bantu gue bopong Tama ya, kita harus bawa


dia ke rumah sakit sekarang,” tutur Retno berusaha mengangkat tubuh Tama dengan


sekuat tenaga, namun tentunya tak mudah karena tubuh Tama lebih besar darinya.


“Bentar, gue deketin lagi mobil gue biar kita


lebih mudah masukin Tama.”


Laras dengan cepat memajukan lagi mobilnya yang


masih menyala agar Tama lebih mudah mereka masukkan.


Baru meraka akan kembali mengangkat Tama suara


sirene mobil polisi terdengar begitu kencang, mereka menghembuskan napas lega


setidaknya ada bantuan datang.


“Mbak ada yang bisa kami bantu?” tanya salah


satu petugas dnegan seragam polisi lengkap.


Retno buru-buru menunjuk Tama, “Pak tolong ini


teman saya, bantuin angkat ke dalam mobil.”


Polisi tersebut kemudian meminta temannya


mendekat untuk membantu mengangkat Tama.


Setelah Tama berada di dalam mobil Laras, polisi


tersebut mengatakan butuh satu saksi untuk dimintai keterangan, “Mbak boleh


saya minta satu orang ikut kita? Kami butuh keterangan langsung dari saksi.”


Mereka saling berpandangan siapa kira-kira yang


akan menjadi saksi, di samping itu mereka harus segera membawa Tama ke rumah


sakit.


“Aya kamu,,” belum juga Retno menyelesaikan


kalimatnya Aya sudah menyela, “Kak, please aku nggak berani,” ucapnya sudah


seperti orang yang menahan pipis.


Akhirnya karena tak ada pilihan lain Retno


menyanggupi dirinya untuk menjadi memberi keterangan pada polisi.


“Ras, buruan lo bawa Tama ya. Aya lo temenin Laras ya,” ucap Retno yang diangguki kedua perempuan di hadapannya.


Laras dengan segera membawa Tama ke rumah sakit


terdekat, jangan tanya bagaimana perasaannya sekarang, bahkan tangan nya


gemetaran memegang stir Laras berharap Tama segera mendapat pertolongan.


“Retno lo kalau udah nyusul ke rumah sakit ya, nanti gue kabarin lo,” ujarnya sebelum melajukan mobilnya.


“Ras, lo jangan panik tenang, Tama bakal


baik-baik aja kok.”


Retno tahu kini temannya yang selalu terlihat


tak terpengaruh dengan apapun itu nyatanya bisa pucat juga, ya ajar siapapun


akan panik melihat Tama yang berlumuran darah seperti saat ini.


Laras mengangguk, ia akhirnya melajukan mobilnya


ke jalan Raya, dibantu oleh beberapa petugas kepolisian yang mengendarai motor


untuk memastikan aman sampai tujuan.


[]

__ADS_1


Ps. Ya Allah masalah apa lagi ini :(


__ADS_2