
Tama masih membersihkan gelas yang menumpuk di wastafel, entah bagaimana tadi Rani menghadapi Rafi.
Tama mengusap tangannya hingga kering sebelum merogoh ponsel di sakunya, semoga saja Rani sudah jam istirahat sekarang.
Tak butuh waktu lama terdengar suara Rani, "Iya, kenapa?"
Tama menggeleng menyadari istrinya itu masih sangat cuek, "Kamu cuek banget, manis dikit kek. Halo suamiku."
Rani bergidik geli, "apaan sih, kenapa kamu nelpon?"
"Tadi gimana Rafi?" tanya Tama kemudian.
Terdengar seseorang mengajak Rani untuk makan siang sebelum perempuan itu menjawab, "Oh iya, aku mau cerita belum sempet. Tadi Rafi ngajak aku ngomong sebenarnya, nah pas dia narik tangan aku dateng dua orang nggak tahu dari mana, kayanya seumuran kamu deh. Kamu kenal sama mereka? Kok kamu bisa tahu kalau mereka bakal nolongin aku?"
Tama menghembuskan napas lega, "Nanti aku ceritain di rumah ya. Kamu udah makan?"
"Ini lagi mau makan."
"Yasudah aku lanjut kerja dulu ya, sayang." ucap Tama kemudian, meski dirinya masih sedikit malu namun Tama ingin membiasakan dirinya memanggil Rani seperti itu.
"Iya."
"Ya Allah cuek banget," gerutu Tama.
"Udah dulu ya, nanti lagi di rumah kita ngobrol lagi."
Akhirnya Tama mengalah , terlebih pekerjaan di depan matanya telah menunggu untuk dirinya selesaikan.
Belum sempat Tama mengucapkan kata-kata selamat tinggal, Rani telah memutus sambungan ponselnya begitu saja membuat dirinya sedikit mengerucutkan mulutnya.
"Tama!" panggil Laras membuat pria itu mengatur ekspresinya kembali datar.
"Kenapa?" tanya Tama mendekat pada Laras yang saat ini di meja kasir.
"Tuh,'' tunjuk Laras pada pintu masuk cafe mereka.
Terlihat Retno yang entah tengah menghadang seorang lelaki dengan perawakan besar.
__ADS_1
Tama meninggalkan tumpukan gelas begitu saja, setelah mengetahui siapa yang tengah berhadapan dengan Retno memaksa masuk.
"Lo ngapain di sini?" tanya Tama, ia kemudian menggeser tubuh Retno ke belakangnya.
"Rego nih, bener-bener udah gue suruh pergi nggak mau dia," ucap Retno kesal.
"Tama kita harus ngomong," ujar Rego serius membuat Tama semakin curiga.
Apakah kedatangan Rego ada hubungannya sama kedatangan Rafi menemui Rani tadi pagi.
"Retno, biarin aja dia masuk ya?" akhirnya Tama mencoba untuk memberi kesempatan pada Rego,
"Nggak bisa!! Lo lupa apa yang udah dia lakuin ke lo! Nggak pokoknya gue nggak mau kalau balik jadi bego lagi dengan berteman sama mereka," ucap Retno masih bersikeras menolak kehadiran Rego di cafenya.
"Maksud lo apa sih Retno, gue nggak pernah ya jahatin Tama," ujar Rego menolak tuduhan Retno padanya.
Retno kembali memajukan tubuhnya, meski perempuan itu terlihat lebih kecil dibanding kedua pria itu namun Retno tak terlihat terintimidasi sedikitpun, "Lo lihat! luka ini semua gara-gara kalian ya, kalau aja lo lupa sama apa yang udah kalian lakuin malam itu."
Rego semakin memperlihatkan wajahnya yang kebingungan, "Gue beneran nggak tahu masalah itu, setelah apa yang terjadi sama lo dan Rafi, gue out dari grup Tama. Lo bisa nanya sama Fauzan, dari awal gue nggak ikut-ikutan."
Tama mendorong Retno dan Rego agar tak menghalangi jalan seorang pelanggan yang akan masuk, "Silahkan," ia mempersilahkan sebelum kembali fokus pada kedua temannya, "Kita sambil duduk ya Retno?"
Rego semakin masam karena merasa difitnah, "Enggak yaelah, gue nggak pernah ngelakuin hal kotor kaya begitu."
Retno sudah hampir maju melayangkan satu tonjokan pada Rego, untung saja Tama dengan sigap menahannya, "Udah ya, jangan galak-galak lo nanti belum nikah udah keburu tua lo."
Retno yang mendengar hal tersebut beralih menendang tulang kering Tama.
"Cewek itu kenapa nggak berubah ya, dari SMA jadi macan, garang begitu," ucap Rego melihat punggung Retno yang telah kembali pada pekerjaannya.
"KIta duduk di sana aja," ujar Tama berjalan lebih dulu pada salah satu tempat duduk yang sedikit jauh dari pelanggan lain.
"Jadi apa yang mau lo bilang ke gue?" tanya Tama to the poin.
Rego melepas jaketnya terlebih dahulu, "Gue boleh mesen minum dulu nggak?"
"Ya boleh aja, palingan lo langsung di usir Retno lagi liat aja siapa yang di sana," ucap Tama melihat ke arah meja kasir yang saat ini Retno tengah menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
"Astagfirullahaladzim, mirip falak anjir," ujar Rego dengan dibuat-buat, "Jadi Tama soal mereka nyerang lo kemaren gue nggak tahu apa-apa."
Tama mengangguk, meski ia tak seratus persen percaya dengan apa yang Rego katakan, "Gue nggak tahu apa yang lagi kalian rencanakan."
"Tama, gue jujur sama lo. Gue beneran nggak tahu apa-apa. Mereka memang sempat mau ngasih pelajaran buat lo, tapi gue langsung cabut saat itu juga," jelas Rego panjang lebar.
"Lo kenapa milih untuk nggak turut ngabisin gue?" tanya Tama kemudian.
Rego menepuk bahu Tama, "Kita udah temenan dari lama Tama, gue nggak bisa mukulin sahabat gue sendiri. Lagian antara lo Rafi, dan Rani? Ya itu siapa namanya masalah pribadi kalian."
"Rani, nama istri gue Rani. Tapi, bukannya kalian emang dari dulu nggak pernah menganggap gue sebagai teman?" tutur Tama tegas.
Rego tersenyum jahil, "Iya deh iya, yang udah punya bini. Hehe itu cuman lelucon anak SMA Tama, tapi setelah lo gabung sama kita jadi seru kan? Oh iya gue penasaran, lo kok bisa suka sama Rani?"
Tama mengangkat bahunya, dia sendiri bingung bagaimana bisa begitu mudah jatuh cinta pada Rani. Gadis polos Jawa, yang menurutnya sangat manis itu.
"Kalau malam itu di villa nggak terjadi apapun antara lo dan Rani, apa lo tetep suka sama dia?" tanya Rego.
Pertanyaan itu membuat Tama kembali mengingat kilas balik apa yang telah dirinya alami bersama Rani belakangan ini.
"Mungkin, tapi udah jelas gue nggak akan pernah bersama dia," tutur Tama, ia ingat betul bagaimana Rafi memperkenalkan Rani sebagai calon istrinya, "Jadi cuman ini yang mau lo omongin?"
Rego kembali serius, memang sebenarnya ada hal penting yang ingin ia bicarakan pada Tama mengenai malam itu.
Malam di mana semuanya bermula, termasuk kerenggangan persahabatan mereka.
"Sebenarnya, malam itu ada sesuatu yang harus lo tahu. Tapi setelah gue tahu lo terlihat begitu bahagia bersama Rani gue ikut merasa bahagia untuk itu. Ya, meskipun Rafi harus berlapang dada menerimanya," kata Rego dengan tulus.
"Jadi, yang mau lo bilang sebenarnya?" Tama sebenarnya tak begitu penasaran dengan apa yang akan Rego katakan. Hanya saja tak mungkin Rego menemuinya hanya untuk mengatakan hal itu.
"Sebenarnya,"
"Tama, tolong bantu kita dulu ya! Lagi banyak pesanan, gue hampir kehabisan pastry jadi kudu kebelakang dulu."
Retno memanggil Tama membuatnya tak dapat lebih lama lagi berbincang dengan Rego.
Namun hal itu membuat Tama tak begitu saja merasa lega seperti ada sesuatu yang mengganjal, apa sebenarnya yang akan Rego katakan.
__ADS_1
[]