
Seperti yang dikatakan Tama, Emak telah menyiapkan berbagai makanan untuk menyambutnya.
Tak hanya Rani, awalnya Bapak maupun Ibu terlihat tegang katanya karena pertama kali ketemu besan.
Namun Babe Jerris dan sang istri menerima kedatangan mereka dengan hangat, bahkan sangat hangat.
Tak butuh waktu lama ke empat orang tua itu telah akrab satu sama lain menceritakan berbagai hal, mengenai anak, sampai ke politik.
"Ya Allah, kita terlalu asik ngobrol, ayo mari-mari sambil makan."
Emak mempersilakan bagi Bapak dan Ibu menyantap makan malam yang telah tersedia di atas meja makan.
Ada sayur asam, pepes ikan pesmol, ayam bakal, dan berbagai gorengan lengkap.
"Mari Pak," ujar Babe Jerris turut mempersilahkan, "Rani kamu juga ikut makan."
Rani mengangguk dan tersenyum, "Emak masak semua ini sendiri?"
"Iya, Emak dari tadi pagi udah ribut belanja ke pasar Ran, katanya mau menyambut besan."
Babe tertawa diikuti tawa oleh Bapak dan Ibu.
"Ya Allah jadi ngerepotin Bu," ucap Ibu sedikit tak enak.
Emak buru-buru mengelus pundak Ibu, "Nggak ada repot Bu, kita sekarang udah keluarga. Rani ayo kamu juga harus makan, kamu harus banyak makan sayur agar proses penyembuhannya cepat."
Emak beralih pada Rani yang sedari tadi masih tak mengisi piring dengan nasi.
"Masih sakit Nduk? Mau Ibu ambilkan?"
Tampaknya Ibu mengetahui bahwa Rani bulan dapat bergerak dengan leluasa, bukan apa-apa pasalnya setiap kali ia menggerakkan tubuhnya masih terasa ngilu di bagian perutnya.
Rani mengangguk, namun sebelum Ibu beranjak, Emak sudah lebih dulu menahan tangan beliau.
"Sudah, Ibu lanjut saja makannya, biar saya yang ambilin."
Rani merasa sungkan, "Emak, maaf ya."
"Udah nggak apa-apa," emak meletakkan sepiring nasi di hadapan Rani, "Kamu harus banyak makan ya, biar cepat sehat. Kan kalau udh sehat bisa kasih kita cucu ya Bu."
Tak hanya Ibu yang tertawa menanggapi, namun Babe dan Bapak pun tergelak.
"Kalau saya, yang penting Rani nya sehat Bu. Anak itu kan rezeki biar urusan yang di atas aja," ujar Bapak yang sedari tadi makan dengan khidmat.
__ADS_1
"Betul sekali Pak, saya jga selalu berpesan pada Tama, yang penting kamu pastikan istrimu bahagia. Masalah lain-lain itu dipikir belakangan," sambung Babe Jerris yang piringnya telah tandas terlebih dahulu.
"Iya, itu paling utama. Tapi kalau langsung dikasih rezeki punya cucu ya alhamdulillah nggak nolak ya Bu," ucap Emak menyentuh pundak Ibu.
"Iya Bu betul."
"Bapak dan Ibu di sini lama kan? Saya rencananya mau bikin acara kecil-kecilan untuk pernikahan Tama dan Rani," kata Babe Jerris setelah beliau meneguk air di cangkirnya membuat Rani tersedak.
Masalahnya hal ni sebelumnya tak pernah di bahas, pasti Tama pun belum tahu.
"Pelan-pelan Nduk," ujar Ibu mengulurkan segelas air.
"Maaf Be, acara apa ya? Soalnya Tama belum ngomong apa-apa sama Rani."
"Memang ini rencana Babe pengin buat untuk kalian, Tama juga belum tahu. Gini lho Ran, kalian menikah Babe sama Emak kan nggak tahu, yah setidaknya syukuran aja gitu," jelas Babe.
Rani meneguk air sekali lagi sebelum menjawab, "Nanti Rani coba ngomong dulu sama Tama boleh Be?"
"Nggak usah, pasti dia nggak mau,'' tutur Emak mengibaskan tangannya, "Kamu tahu sendiri anak itu nggak pernah mau merepotkan kami."
Bapak berdehem mengambil alih perhatian, "Kami besok langsung pulang kampung Pak. Karena masih ada anak kecil di rumah. Dan juga saya lagi ada tanggungan mengerjakan pesanan."
Memang di rumah Ibu dan Bapak meninggalkan Iyo, dan Rendi, meskipun kedua adik Rani itu bukan terbilang anak-anak namun juga belum bisa dikatakan sudah dewasa, remaja tanggung yang masih butuh pengawasan.
Emak tampaknya masih berharap kalau besannya itu memiliki waktu lebih lama bersama mereka.
"Masih pada sekolah Bu,, yang satu masih SD yang satu mau masuk SMA," ucap Ibu menjelaskan, "Mungkin kalau nanti libur panjang kami berkunjung ke sini lagi Bu.''
Babe dan Emak mengangguk setuju.
"Iya Bu, sekarang kita sudah jadi keluarga. Kapan saja Ibu dan Bapak ke sini kami akan senang sekali," tutur Babe, "Kalau begitu syukurannya kita adakan sewaktu Bapak dan Ibu berkunjung ke sini lagi."
Hati Rani menghangat menyaksikan percakapan demi percakapan di meja makan, ia tak pernah menyangkan hal ini akan terjadi dalam hidupnya secepat ini.
Setelah makan malam selesai, Bapak dan Ibu tampaknya masih betah bertukar cerita dengan besannya, sedangkan Rani tak sanggup lagi membuka matanya, mungkin juga karena efek obat yang tadi dia minum.
"Rani langsung ke istirahat aja, ini kunci rumahnya."
Emak memberinya kunci rumah yang ditempati Tama, tak jauh hanya sekitar berjalan beberapa langkah saja, Rani sudah memasuki rumah tersebut.
Tak terlalu besar, namun juga tak dapat dikatakan kecil. Rumah yang di desain sederhana layaknya kontrakan pada umumnya ini di dominasi warna putih.
Pada kunjungan pertama Rani belum sempat masuki rumah tersebut karena sudah terlalu larut.
__ADS_1
Setelah membuka pintu Rani melihat ruang tama yang terdapat satu meja dan dua kursi panjang, berbentuk L yang tak terlalu besar.
Lengkap dengan satu televisi mungkin sekitar 21 inci, meski Rani tak tahu kapan tapi Babe sempat menyinggung kalau Tama mulai mengisi sedikit demi sedikit rumah ini dengan perabotan.
Terdapat dua kamar yang berhadapan, Rani menutup kembali pintu terlebih dahulu sebelum semakin masuk ke dalam.
Di belakang tak ada apapun lagi, kecuali dapur dan kamar mandi. Oh iya, ada pintu bagian belakang yang mungkin terhubung ke teras belakang rumah? entah lah, Rani sudah terlalu mengantuk untuk sekedar membukanya.
Ia kembali pada kamar, saat membuka kamar bagian kanan, ada satu tempat tidur berukuran sedang dan satu lemari saja, tak ada barang lainnya.
Jika menilik dari kamar tersebut, pastilah itu bukan kamar yang Tama tempati.
Rani kemudian beralih pada kamar satunya, benar saja begitu dirinya membuka pintu tercium bau yang sudah sangat familiar, yaitu bau Tama.
Rani sedikit menepuk jidatnya sebelum membayangkan hal mesum di otaknya.
Untuk ukuran kamar seorang laki-laki, kamar Tama sangat rapi. Tak ada baju bergelantungan seperti di kamarnya, Rani jadi malu sendiri mengingat bagaimana berantakan kondisi kamar kostnya.
Ia lantas merebahkan tubuhnya yang terasa sudah sangat lelah. Rani memejamkan mata, tak butuh waktu lama ia telah berlayar ke alam mimpi.
Entah sudah berapa lama, dalam mimpinya Tama mengenakan kemeja kasual yang biasanya pria itu kenakan.
Rani di tuntun mengunjungi suatu tempat yang hanya ada mereka berdua di sana. Terdapat satu meja makan, yang sangat sederhana, namun hatinya penuh rasa bahagia dalam mimpi itu.
Setelah Tama menarik kursi untuk dirinya, Rani duduk dengan manis di sana.
Rani mendongak menatap Tama yang masih tak beranjak, pria itu menunduk mengamati Rani.
"Kamu cantik."
Rani tertawa, dan memukul gemas pundak Tama, "Gombal."
Namun Tama hanya diam saja, tak mengubah posisinya, justru ia menyetuh kedua pipi Rani.
Rani tahu semua itu terjadi dalam mimpinya, namun rasanya sangat nyata, terlebih saat Tama mencium keningnya, sekali, dua kali, semakin terasa nyata, tiga kali.
Rani membuka matanya, entah sudah berapa lama ia tertidur kini Tama berada di tepi ranjang mengelus pipi Rani.
"Tama?"
Pria itu lantas tersenyum lebar, dan Rani semakin bingung sejak kapan Tama dalam mimpinya sudah sampai di hadapannya, apakah Tama punya sejenis kekuatan yang bisa hadir dalam alam mimpi dan juga dunia nyata dalam satu waktu bersamaan?
[]
__ADS_1