MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 58 : M a k h l u k H a l u s


__ADS_3

Rani masih mematut dirinya di depan cermin, hari ini ia ingin mengenakan batik, sedangkan Tama jangan tanya, pria itu sejak pagi buta sudah harus kembali mengantar anak sekolah langganannya dilanjutkan dengan membersihkan kontrakan, dan langsung ke cafe, padat sekali memang jadwalnya.


Semua sudah beres Rani tinggal memasukkan barang apa saja yang akan dirinya bawa ke tempat kerja, salah satunya bekal, sudah seminggu ini Tama menyuruh Rani membawa bekal yang sudah pria itu siapkan meski ia selalu menolak tetap saja Tama akan selalu menyiapkan.


katanya sih supaya Rani makan tepat waktu karena belakangan ini cafe di jam makan siang lagi rame pelanggan, makanya Tama belakangan ini tak pernah ke tempat kerja Rani.


Rani jadi ingin memberi Tama sedikit kejutan, mungkin sepulang kerja nanti ia akan datang ke cafe Comfort Zona, jujur saja Rani juga penasaran dengan tempat kerja suaminya. Apa lagi saat Tama memainkan alat musik kesayangannya, belum pernah sekalipun Tama memperlihatkan bakatnya bermain gitar.


Rani memasukkan bekal ke dalam tasnya, namun kemudian ia keluarkan kembali karena penasaran dengan isinya, Tama selalu punya banyak ide untuk membuat Rani takjub pernah lelaki itu membuat nasi goreng yang di bentuk love, terniat sekali bukan?


Kotak bekalnya selalu berbeda-beda setiap harinya, terkadang buah-buahan, bubur kacang ijo, dan hari ini nasi kuning lengkap dengan lauknya.


Rani sampai harus tertawa kecil melihat hal itu, Tama menepati janjinya untuk berusaha membuat Rani nyaman hidup bersamanya.


Rani memasukkan kembali bekalnya ke dalam tas, setelah memastikan semuanya rapi ia siap untuk berangkat, tapi karena tak ada Tama maka Rani harus memantau sendiri apakah di luar ada orang atau tidak.


Setelah semua penghuni kostan tahu apa yang terjadi  padanya, Rani jadi malu untuk menampakkan diri. Ya, meskipun Yori, atau Ibu kost mengatakan tak masalah semua orang pasti punya masalah tetap saja Rani tak punya muka untuk tetap biasa saja.


Sebetulnya aman, tak ada satupun tetangga kamarnya di luar, lah tapi kok ada satu mobil yang entah sejak kapan udah di sana.


Rani hapal betul itu mobil siapa, ia segera mencari ponselnya ponselnya yang ada dalam tas untuk menelpon Tama.


Namun ternyata butuh waktu sampai Tama mengangkat panggilannya, Rani panik sendiri apalagi saat melihat jam yang terus berjalan bisa kesiangan kalau dia tak berangkat sekarang.


"Halo Tama?" ujar Rani setelah ia mendengar nada sambung terhenti.

__ADS_1


"Rani? kenapa?" tanya Tama dilatari dengan suara bising yang entah apa Rani juga tak mengenal suara itu.


"Tama gimana ini ya gawat banget," ucap Rani mulai panik.


"Kenapa sayang?"


"Ih serius, ini gawat banget."


"Iya iya kenapa?"


"Ada Rafi di luar, aku mau berangkat kerja gimana ini?" entah sejak kapan semua hal yang Rani lakukan akan meminta arahan terlebih dahulu dari Tama.


Tama tak langsung menjawab, mungkin pria itu tengah mempertimbangkan sesuatu, "Tama? aku harus gimana?"


"Kamu berangkat kerja aja."


"Jangan lihat kanan kiri, udah langsung jalan lurus ke depan. Kalau dipanggil jangan noleh ya, anggap aja makhluk halus."


"Jangan bercanda ih, ini gimana ya ampun aku keburu kesiangan."


"Rani, aku percaya kamu bisa kok. Nanti kalau Rafi udah gangguin kamu akan ada orang yang dateng kok. Kamu tenang aja, sekarang berangkat kerja ya?"


"Ada siapa emangnya?" tanya Rani penasaran, ia berpikir apakah Tama sebenarnya masih ada di luar untuk menjaganya, Rani celingukan mengintip dari jendela.


"Pokoknya nanti kamu tahu sendiri kok, udah dulu ya?"

__ADS_1


"Kok kamu kaya udah nggak khawatir gitu sih sama aku," cemberut Rani membuat Tama hanya tertawa.


"Lagian kamu galak, pasti Rafi juga langsung takut sama kamu nanti."


"Tama ih!"


Tama terdengar tertawa, "Iya, iya maaf. Udah nggak apa-apa, berangkat hati-hati ya sayangku. Janji nggak oleh lagi sama Rafi?"


"Ya enggak lah, aku udah punya suami juga."


"Siapa tuh? selamat pagi? mau pesan apa kak? sayang udah dulu ya."


Tama mematikan ponselnya begitu saja membuat Rani mau tak mau harus segera bersiap dengan apapun yang akan dirinya hadapi.


Rani kemudian keluar membayangkan seakan-akan tak ada siapapun di sana seperti yang Tama katakan tadi, ia mengunci pintu dengan tenang.


Wah ternyata tak begitu sulit berakting seperti ini, ia kemudian mengenakan sepatunya, masih aman Rani ayo tenang aja kamu pasti bisa, batinnya.


Tiba juga saat Rani melewati mobil yang mungkin saja ada Rafi di dalam sana, akhirnya masih aman juga sampai namanya di panggil.


"Rani!" itu suara Rafi, Rani tak menghentikan langkahnya ia tetap berjalan, itu makhluk halus Ran, nggak ada siapa-siapa di sana, rapalnya.


"Rani!" kali ini tangannya di tahan.


Ya ampun, tadi Tama tak mengatakan apa yang harus dirinya lakukan kalau tangannya di tarik gini sama makhluk halus.

__ADS_1


Tama tolong! teriak Rani dalam hati apa yang akan Rafi lakukan kali ini.


[]


__ADS_2