MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 10 : R a b u .2


__ADS_3

Entah apa yang telah Tama lakukan pada perempuannya, Rani semakin histeris bahkan kini Rafi dapat melihat Rani mulai sulit bernapas, Rani bahkan memukul-mukul dadanya sendiri.


Sesegera mungkin Rafi coba meraih tubuh Rani dalam dekapannya, namun Rafi terkejut karena Rani menolaknya ia bahkan di dorong dengan kuat.


“Pergi! Pergi!” usir Rani


“Sayang Rani, ini aku.”


“Tolong jangan! Jangan! Pergi dari sini!” Teriak Rani lagi.


Rafi masih berusaha membujuk Rani, ia dengan sekuat tenaga berusaha untuk menenangkan Rani.


“Rani, tenang ya. Ada aku di sini, ada aku di sini,” ucap Rafi kini ia berhasil memegang kedua pundak Rani.


Tama masih tak beranjak, ia bingung apa yang harus dirinya lakukan. Tadinya Tama berpikir akan minta maaf dan bertanggung jawab atas apa yang telah dirinya lakukan namun ternyata ia malah membuat Rani menjadi seperti ini.


Rafi mengamati sekitar yang masih terlihat sepi pertanda penghuni kamar lainnya mungkin saja masih di tempat kerja masing-masing.


“Tolong pergi,,,,,” pinta Rani dengan suara lemah.


Rani mulai terlihat lebih tenang atau lebih tepatnya tenaganya mulai habis karena tubuhnya kini sepenuhnya bersandar pada Rafi yang kini tatapannya beralih pada Tama yang masih tak memberikan reaksi apapun.


“Lo apain cewek gue, bangsat!” umpatnya.


Tama melangkah mendekat, “Gue, gue minta maaf. Rani tolong maafin aku.”


Ketika posisi Tama semakin mendekat Rani mencengkram tangan Rafi, berharap pria itu dapat melindunginya.


Rafi yang paham bahasa tubuh Rani akhirnya menghentikan gerakan Tama.


“Stop! Jangan mendekat.”


Tama tak ada pilihan lain, ingin sekali ia minta maaf pada Rani namun perempuan itu bahkan tampak jijik melihatnya.


Tama seketika berlutut, ia berharap Rani dapat memaafkannya “Rani tolong jangan kayak gini, aku benar-benar minta maaf,” tuturnya dengan suara parau.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari kedua manusia di hadapannya, Rafi mengangkat tubuh Rani perlahan ia tuntun perempuan itu agar duduk di atas bangku.


Ia berusaha mencari-cari kunci kamar Rani di saku jaket yang kekasihnya itu kenakan hari ini, tak membutuhkan waktu lama hingga akhirnya ia menemukannya dan langsung membuka pintu tersebut.


Rafi mengangkat tubuh Rani yang terlihat lemah, ia mengambil segelas air putih dan diberikannya pada Rani.


Kini Rani telah berada di atas tempat tidurnya dengan keadaan yang lebih baik, Rafi mengelus pelan rambut perempuannya berharap gerakan itu dapat membantu merasa tenang.


Rani perlahan menutup mata, mungkin ia merasa kelelahan setelah menangis. Rafi teringat pada lelaki yang masih berada di luar, dirinya kemudian bergegas untuk minta penjelasan.


Benar saja Tama masih berada di sana, ia bahkan hanya berdiri kikuk, air mukanya menyiratkan rasa bersalah yang teramat.


“Tama, tolong jelasin ke gue kenapa Rani bisa sehisteris itu ngelihat lo?” tanya Rafi to the point.


Tama mengacak rambutnya frustasi, ia bukannya takut mengatakan yang sebenarnya pada Rafi namun bagaimana nasib persahabatannya serta Rani, apakah perempuan itu tak masalah jika  orang lain mengetahuinya, terutama orangnya adalah Rafi.


“Jawab bangsat!” Rafi ternyata tak lagi di mode sabar ia kini mendesak Tama agar mengatakan yang sesungguhnya.


“Gue, gue,,,” mulut Tama seketika kaku.


Rafi kini mencengkeram kerah baju Tama, “Apa?”


Tak ada yang terucap lagi dari mulut Rafi, ia dengan membabi buta memukuli Tama berkali-kali tanpa ampun. Namun tak ada balasan dari Tama, ia hanya diam berusaha menahan rasa sakitnya itu, Tama merasakan sesuatu mengalir di pelipisnya.


Rafi yang mulai terengah-engah menghentikan tangannya, ia tak habis pikir bagaimana bisa seorang Tama yang ia kenal sangat menghargai perempuan dapat melakukan hal sebejad itu.


“Masih waras nggak sih lo? Kenapa Rani? Dia salah apa sama lo bangsat? Kenapa lo lakuin itu?”


Suara Rafi mulai bergetar, Raninya perempuan yang ia impikan akan menjadi pasangannya harus mengalami hal sekeji itu.


Tama mengusap kasar pelipisnya, ia berusaha sekuat tenaga mendudukan tubuhnya yang tersungkur.


“Maafin gue. Gue nggak sadar malam itu, setelah kita minum entah kenapa kamar Rani yang  gue datengin.”


“Lo nggak cuma merusak hidup Rani, tapi juga masa depan kami berdua anjing!” umpat Rafi, ia meremas rambutnya.

__ADS_1


“Maafin gue, memang gue akui gue brengsek, tapi tolong kasih kesempatan gue buat bertanggung jawab.”


Rafi menatap Tama tajam, Rani itu kekasihnya, bertanggung jawab yang Tama maksud apakah akan menikahi Rani? Menikah dengan perempuan yang telah ia lamar akan menjadi istrinya? perempuan yang telah ia impikan menjadi pasangan hidupnya hingga tua? Bukan main Rafi kembali naik pitam rasanya ia ingin sekali membunuh


lelaki di hadapannya itu.


Rafi kembali mengepalkan tangannya, saat ia hendak melayangkan pukulan lagi pada Tama seseorang datang menghalanginya.


“Mas Rafi! Sadar Mas!” Yori, tetangga Rani datang di waktu yang tepat.


Rafi mengenalnya, karena gadis itu memang tetangga kost yang sering Rani ceritakan.


Rafi kemudian melepaskan tangannya, ia lantas pergi begitu saja dengan mengendarai mobilnya, meninggalkan Yori dengan kebingungannya mencerna apa yang terjadi serta pemuda yang saat ini terlihat lemah dengan muka lebam penuh darah.


Rafi tak menghiraukan rasa sakit tangannya, ia mengemudi dengan kesecapatan tinggi tak peduli dengan pengemudi lain yang protes karena merasa terganggu.


Berkali-kali Rafi memukul stir mobilnya, apa yang harus dirinya lakukan sekarang? Rafi tentu saja sangat mencintai Rani namun ia takut bahwa hati kecilnya mulai ragu akan hal itu, setelah apa yang terjadi tentunya.


Rafi menepikan kendaraannya, “Tama bangsat! Tama Bangsat! Anjing!” umpatnya berkali-kali.


Kenapa harus Rani yang mengalami hal itu? kenapa harus Raninya? Berbagai pertanyaan muncul dikepalanya.


Ia merasa Tuhan tak adil telah membuat kehidupan Rani menjadi sangat menyakitkan.


Rafi mulai mempertanyakan ketulusannya, apakah ia akan tetap melanjutkan hubungannya dengan Rani? Namun ia tak akan sanggup melihat Rani menikah dengan orang lain, terlebih dengan sahabatnya sendiri.


Rafi please itu semua bukan salah Rani, terlepas dari apapun Rani tetaplah Rani yang kamu kenal nggak ada yang berubah jangan berpikiran terlalu sempit, ia berusaha meyakinkan dirinya.


Jika pihak yang paling dirugikan dalam situasi ini adalah Rani, pantas saja sejak pulang dari villa sikap Rani menajdi demikian, Rafi kembali memukul stir kemudinya ia kini menangis pilu bagaimana ia akan meyakinkan Rani semua akan baik-baik saja kalau dirinya sendiri kini tak lagi yakin jika semua rencananya akan berjalan dengan baik bahkan hidupnya kini turut merasa hancur mengetahui fakta tersebut.


Sama halnya dengan Rafi, kini Tama memukuli dirinya sendiri bahkan beberapa kali ia menghantamkan tangannya pada kerasnya tembok kost Rani.


Yori telah menutup pintu kamar Rani dengan Rapat, kini ia berusaha menenangkan Rani yang menangis sambil menutup mulutnya rapat-rapat dengan posisi miring.


Rani mendengar semua percakapan dua pria di luar kostnya tadi, ia berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tangisnya tak terdengar.

__ADS_1


Sepertinya Tuhan sedang menghukum hidup mereka bertiga.


[]


__ADS_2