
Tama ternyata tak seburuk yang Rani kira buktinya pria itu sedari tadi sangat peka, mulai dari menurunkan tempat kaki motor, membantu Rani mengenakan helm, dan sekarang memberikan tangannya untuk pegangan agar Rani tak kesulitan turun dari sepeda motor.
Namun Rani terlihat mencair dengan mudah, ia masih tetap mempertahankan wajah cueknya seakan tak berpengaruh sama sekali dengan sikap Tama.
Begitu mereka tiba di rumah ada seseorang yang telah menunggu mereka duduk di depan teras rumah.
“Hai,” sapa pria itu begitu Rani memasuki pelataran rumahnya.
“Hai juga,” sapa Rani balik dengan senyumannya, suasana hatinya kini membaik entahlah Rani hanya berusaha agar anaknya tak begitu menderita di dalam sana sehingga Rani harus menjaga moodnya dengan baik.
Tama kini telah berada tepat di belakang Rani, dan ia menyadari dua orang dihadapannya masih saling memiliki perasaan satu sama lain.
“Rafi, udah dari tadi?” tanya Tama basi-basi meski ia sedikit merasa cemburu.
“Enggak baru kok. Kalian dari mana?” Tanya Rafi penasaran.
Tama dan Rani tak langsung menjawab keduanya kini saling melemparkan pandangan, apakah harus mengungkapkan yang sebenarnya atau tidak melalui tatapannya.
Syukurnya ada Ibu yang datang entah dari mana, “Rani sudah pulang, eh ada nak Rafi kenapa nggak masuk aja? Ayo-ayo kita masuk ya.”
Ibu menuntun Rani dan juga mnyuruh semua yang ada di sana untuk masuk ke dalam rumah.
“Ibu dari mana?” tanya Rani.
Ibu meletakkan kresek yang beliau bawa, “Dari warung tadi mau beli telor. Kalian duduk aja jangan pada berdiri di situ.”
Ibu beralih pada dua pria yang kini masih berdiri di depan pintu masuk, keduanya pun menurut dan langsung duduk di kursi ruang tengah begitupun dengan Rani dan Ibu.
“Kita tunggu Bapak dulu ya,” tutur Ibu.
Baru saja Rani hendak menanyakan kemanakah gerangan Bapak, beliau tahu-tahu muncul dari pintu,
“Sudah pulang Rani?” Tanya beliau, kemudian menyadari kedatangan orang lain di rumahnya.
Rafi buru-buru bangkit, pria itu kemudian mencium tangan pria paruh baya tersebut.
Setelah semuanya duduk Rani memberanikan dirinya untuk menyampaikan hasil pemeriksaannya, “Ibu, Bapak, ternyata hasilnya Rani,” ucap Rani pelan ia mengambil jeda karena merasa gugup sekarang.
“Gimana Nduk?” tanya Ibu tak sabar.
__ADS_1
Rani menatap wajah Rafi yang terlihat bingung, memang hanya pri aitu yang masih belum mengetahui arah obrolan mereka.
“Aku sudah periksa ulang tentang kehamilan ini, dan ternyata aku hamil,” jelasnya berusaha setenang mungkin.
Bapak dan Ibu tak terlihat terkejut, mungkin mereka sudah memprediksi hasil tersebut, namun berbeda dengan Rafi yang kini menunjukkan ekspresi sangat terkejut.
“Aku hamil Rafi,” cicit Rani.
Bapak berdehem, Rani tahu apa yang akan beliau katakana pasti mengenai pernikahannya namun ia sudah janji bahwa akan mengikuti semua kemauan Bapak jika dirinya benar hamil.
“Karena sekarang sudah jelas hasilnya, maka pernikahan harus dilaksanakan sesuai dengan
rencana ya.”
Bapak dengan wibawanya mengatakan hal tersbut, terlebih beliau begitu tenang dan ada lagi gebu kemarahan yang Rani lihat.
Rani mengangguk, mungkin memang sekarang taka da lagi yang dapat Rani lakukan selain menurut perkataan Bapak, ia menatap Rafi yang kini entah bagaimana membuat Rani ikut sesak.
Bapak sepertinya menyadari hal tersebut, “Nak Rafi, Bapak minta kelapangan hati kamu ya, biarkan Rani menikah dengan Tama.”
Rafi menatap Rani, ia sadar hubungannya tak ada lagi kesempatan, “Kalau itu memang keputusan yang terbaik, saya nggak bisa menolak keinginan Bapak,” jawabnya kemudian.
“Tama kamu harus bertanggung jawab, dan menepati semua janji yang pernah kamu ucapkan. Mulai sekarang jaga Rani seperti kamu menjaga dirimu sendiri, begitupun dengan anak kalian,” ujar Bapak yang kini beralih pada Tama.
“Saya akan menepati janji saya Pak,” jawab Tama dengan yakin, ia bahkan menatap Rani yang sedari tadi menunduk, Tama sadar saat ini Rani maish sangat mencintai Rafi bukan dirinya.
Tama lalu beralih pada Rafi, “Fi, lo tenang aja gue bakal jagain Rani.”
Rafi mencengkeram ptangannya sendiri, namun ia kemudian hanya mengangguk pada Tama.
“Pernikahan sudah Bapak siapkan, hari minggu ini kalian akan menikah dengan sederhana saja,” putus Bapak kemudian.
Setelah obrolan tersbut akhirnya Bapak dan Ibu pamit mau ke rumah saudara katanya, di sinilah menyisakan mereka bertiga Rani, Tama, dan Rafi.
Rani memberanikan diri untuk memulai obrolan, “Rafi kamu belum balik ke Jakarta?”
“Kamu beneran hamil Rani?” Rafi tak menjawab pertanyaan Rani, sebaliknya ia memastikan sekali lagi kebenaran mengenai apa yang dirinya dengar.
Rani mengangguk, ia kini beralih pada Tama berharap pria itu dapat membantuny amenghadapi pertanyaan dari Rafi.
__ADS_1
“Gue minta maaf Rafi, tapi itulah yang terjadi,” tutur Tama kemudian.
Rafi mengusap kasar wajahnya, “Jadi aku nggak ada kesempatan lagi ya Rani?” tanyanya
terdengar pasrah.
Rani hanya bisa menunduk, “Maafin aku Rafi, tolong jangan bikin aku semakin merasa jadi orang jahat.”
“Jangan salahin Rani, gue yang salah Rafi,” tutur Tama, pria itu menyadari bagaimana ekspresi kalut dua orang di hadapannya, kini bhakan Rani sudah menangis sakit sekali hati Tama setiap kali melihat Rani dalam keadaan seperti ini.
“Aku akan balik ke Jakarta setelah kamu menikah Rani,” ucap Rafi yang mempu membuat Rani terkejut.
“Rafi, tapi,” belum Rani selesai mengatakan kalimatnya Rafi menjawab.
“Tolong Rani, kalau memang hubungan kita cuman sampai di sini izinin aku menyaksikan pernikahan kamu. Aku akan berusaha ikhlas.”
Pertahanan Rafi kini sudah runtuh, pria itu kembali menangis. Rani dengan segera mendekati Rafi, ia menangkup wajah Rafi, serta mengusap air mata pria tersebut tanpa menghiraukan Tama yang juga ada di sana.
Tama lantas beranjak, mungkin ia perlu memberi waktu bagi Rani dan Rafi meskipun ada rasa cemburu menyelimuti perasaannya, dan Rani menyadari hal tersebut ia melihat punggung Tama yang semakin menjauh meninggalkan dirinya dan Rafi.
Rani kini duduk tepat dihadapan Rafi, ia menatap lekat seseorang yang dua tahun ini telah mengisi hari-harinya, taka da yang Rani sesali ia amat bersyukur bertemu dengan Rafi.
“Rafi terima kaish untuk semuanya,” ucap Rani.
Rafi yang mendengar kalimat tersebut membuat air matanya semakin deras, ia bahkan tak sanggup menahan lagi untuk tidak memeluk Rani.
Ia dekap dengan erat perempuan yang sangat dirinya cintai, baru kali ini Rafi merasakan cinta sedalam ini. Semakin ia eratkan pelukannya pada Rani semakin sakit pula hatinya, ia sadar tak akan bisa lagi memiliki perempuan ini.
“Rani, janji sama aku kalau kamu akan hidup dengan bahagia,” ucap Rafi, ia pun turut mengusap air mata yang sudah membasahi seluruh wajah Rani.
Rani mengangguk berusah aseyakin mungkin agar Rafi tak terlalu memikirkannya, pria itu harus ingat yang paling penting adalah kebahagiaan dirinya.
“Kamu juga Rafi, kamu harus bahagia.”
Rafi pun mengangguk, untuk terakhir kalinya pria itu mencium kening Rani dengan tulus, ia berharap waktu dapat berhenti pada momen ini.
Keduanya kembali menangis, Rafi menatap lekat Rani yang jug atengah menatapnya kemudian keduanya berpelukan dengan erat karena mereka tahu ini akan terjadi untuk terakhir kalinya.
“Rani, terima kasih juga untuk semuanya.”
__ADS_1
[]